- Selat Hormuz, jalur vital 20-30 persen suplai minyak global, menjadi fokus setelah serangan Maret 2026 AS-Israel.
- IRGC mengumumkan penutupan selat pasca serangan, menyebabkan kenaikan harga minyak 7 persen dan gangguan signifikan.
- Laporan terkini menunjukkan tidak ada bukti konkret pemasangan ranjau laut oleh Iran di selat tersebut.
Suara.com - Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, merupakan salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Setiap hari, sekitar 20-30 persen pasokan minyak global melewati selat Hormuz, termasuk ekspor dari negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Lebarnya hanya sekitar 33-39 kilometer di titik tersempit, membuatnya rentan terhadap gangguan.
Dalam konteks konflik geopolitik terkini, pertanyaan apakah Iran telah memasang ranjau di selat ini menjadi isu krusial, terutama setelah eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal Maret 2026.
Latar belakang ancaman ini bukan hal baru. Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap sanksi internasional atau serangan militer.
Pada 1980-an, selama Perang Iran-Irak, kedua belah pihak menggunakan ranjau laut untuk mengganggu lalu lintas kapal, yang menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk insiden di mana fregat AS USS Samuel B. Roberts hampir tenggelam setelah mengenai ranjau Iran.
Ancaman serupa muncul lagi pada Juli 2025, ketika intelijen AS melaporkan bahwa Iran memuat ranjau laut ke kapal-kapal di Teluk Persia, mempersiapkan kemungkinan blokade Selat Hormuz jika agresi berlanjut.
Namun, ranjau tersebut tidak pernah dikerahkan secara nyata.
Pada Maret 2026, situasi memanas setelah serangan bersama AS-Israel yang dijuluki "Operation Epic Fury", yang menargetkan pangkalan militer Iran, termasuk markas angkatan laut di Bandar Abbas.
Serangan ini menyebabkan kebakaran hebat dan kerusakan pada kapal Iran, termasuk kapal basis laut IRINS Makran.
Sebagai balasan, IRGC mengumumkan bahwa Selat Hormuz "ditutup" dan akan menembaki kapal yang mencoba melintas.
Lalu lintas tanker minyak praktis terhenti, dengan banyak perusahaan pelayaran menghindari rute tersebut karena ancaman serangan drone, misil, atau penyitaan kapal.
Setidaknya lima kapal dilaporkan rusak akibat serangan proyektil, dan satu pekerja galangan kapal tewas di Bahrain. Harga minyak dunia melonjak hingga 7 persen, mencapai sekitar $72 per barel.
Meskipun demikian, apakah Iran benar-benar telah memasang ranjau?
Berdasarkan laporan terkini, tidak ada bukti konkret.
Pejabat militer AS menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda Iran memasang ranjau laut atau menegakkan blokade fisik di selat tersebut.
Pentagon menegaskan bahwa selat tetap terbuka untuk lalu lintas, meskipun kapal-kapal berlayar dengan hati-hati karena gangguan GPS dan ancaman elektronik.
Analis dari Clearview Energy mencatat bahwa Iran memiliki dua cara utama untuk menutup selat: menyerang kapal atau memasang ranjau, tetapi yang terakhir belum terlihat.
Di media sosial X, beberapa posting spekulatif mengklaim IRGC telah mengaktifkan ranjau, tetapi ini tidak didukung oleh sumber resmi.
Sebaliknya, ancaman Iran lebih bersifat psikologis dan ekonomi. Dengan mengirimkan peringatan melalui saluran VHF, mereka berhasil menghentikan 70 persen lalu lintas tanpa perlu ranjau fisik.
Dari perspektif Iran, ancaman ini adalah bentuk pertahanan diri terhadap agresi asing.
Tehran mengklaim bahwa penutupan selat adalah hak mereka untuk melindungi kedaulatan, terutama karena 80 persen ekspor minyak mereka sendiri bergantung pada rute ini.
Namun, analis memperingatkan bahwa memasang ranjau akan merugikan Iran sendiri, karena bisa memicu respons militer lebih besar dari AS, yang memiliki kemampuan untuk membersihkan ranjau dan menghancurkan aset angkatan laut Iran.
Di sisi lain, AS dan Israel melihat ini sebagai upaya Iran untuk menggunakan geografi sebagai senjata ekonomi, yang bisa mengganggu rantai pasok global, termasuk industri otomotif dan energi di Afrika.
Implikasinya luas. Jika ranjau benar-benar dipasang, membersihkannya akan memakan waktu lama dan berisiko, berpotensi menyebabkan krisis energi global yang lebih parah daripada serangan Houthi di Laut Merah.
Saat ini, meskipun lalu lintas terhenti, selat secara formal tetap terbuka. Namun, ketegangan ini mengingatkan betapa rapuhnya ketergantungan dunia pada jalur sempit ini.
Sampai Maret 2026, tidak ada konfirmasi resmi bahwa Iran telah memasang ranjau di Selat Hormuz, tetapi ancaman tetap menjadi alat diplomasi yang ampuh. Pengawasan satelit dan intelijen internasional terus memantau, sementara pasar global bersiap menghadapi ketidakpastian.