Suara.com - Eskalasi terjadi di sejumlah negara belakangan ini dengan ditandainya pecahnya peperangan. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel kepada Iran merenggut nyawa sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Banyak fakta terungkap, termasuk kebiasaan beliau menggunakan tangan kiri semasa hidupnya. Namun kenapa Ayatollah Ali Khamenei sering menggunakan tangan kiri hingga akhir hayatnya?
Jauh sebelum sang pemimpin besar harus meninggalkan rakyatnya di dunia ini, teror dan ancaman pembunuhan sudah sering berdatangan. Pada 28 Februari 2026, media pemerintah Iran mengkonfirmasi gugurnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Sejarahnya bisa dilihat jauh pada pertengahan tahun 1981 lalu, ketika almarhum selesai melaksanakan ibadah di siang hari. Selengkapnya, berikut latar belakang dan alasan mengapa beliau sering pakai tangan kiri dalam beraktivitas.
Kisah Tragis di Balik Menggunakan Tangan Kiri
Kisahnya diawali pada 27 Juni 1981 lalu, ketika beliau selesai melaksanakan ibadah. Jemaat yang turut dalam ibadah tersebut menuliskan pertanyaan di selembar kertas, dan kemudian dikumpulkan oleh pengikutnya untuk dijawab oleh sang pemimpin.
![Ali Khamenei. [Khamenei.ir]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/02/12427-ali-khamenei.jpg)
Dirinya menjawab pertanyaan seputar posisi wanita dalam masyarakat modern. Apa yang dinyatakan adalah terkait dengan opresi kaum wanita, tidak hanya di negara-negara Arab, namun juga di banyak negara lain.
Praktik ini dapat dilihat dari larangan untuk belajar, larangan untuk bersosialisasi, hingga ketiadaan akses pada pengetahuan dan peran-peran politik. Namun di tengah uraiannya ini, terdengar suara ledakan besar yang terjadi di area tempat mereka tengah berkumpul.
Ayatollah Ali Khamenei yang menghadap ke pengikutnya ambruk ke lantai. Pertolongan pertama diberikan sang pengawal, yang kemudian segera mengamankan sang pemimpin. Diketahui ternyata bom dipasang pada radio yang berada di dekatnya.
Setelah berhasil dievakuasi, Ayatollah Ali Khamenei kemudian dibawa ke rumah sakit. Selama perjalanan diceritakan dirinya terus mengucapkan syahadat dengan bibir dan mata yang tampak lemah.
Tindakan segera diambil setelah dirinya sampai ke rumah sakit. Diketahui tulang di bagian bahu dan dadanya terlihat cukup jelas. Dokter sempat menyatakan dirinya sudah meninggal dunia. Namun dokter lain meyakinkan rekannya bahwa Ayatollah Ali Khamenei masih selamat, dan prosedur operasi kembali dilanjutkan.
Setelah prosedur panjang, dirinya harus mendapatkan dukungan dari peralatan medis. Ia juga merasa bahwa tangan kanannya tidak lagi bisa digunakan. Namun mengharukan, hal pertama yang ditanyakannya melalui tulisan di kertas adalah apakah jemaat yang berada di masjid selamat dari ledakan tersebut.
Pernyataan Besar dari Pemimpin Besar
Mengutip Khamenei.ir, setelah dikonfirmasi bahwa tangan kanannya tidak lagi dapat digunakan pasca operasi, Ayatollah Ali Khamanei memberikan pernyataan yang justru menguatkan banyak orang. Sang revolusioner Iran menyatakan bahwa ia bahkan tidak memerlukan tangannya, selama otak dan lidahnya masih dapat digunakan untuk berjuang.
Sejak saat itulah Ayatollah Ali Khamenei tidak lagi bisa menggunakan tangan kanannya untuk berbagai aktivitas, termasuk melakukan pekerjaan setiap hari, dan menulis. Tangan kirinya kemudian menjadi dominan karena terbiasa mengambil semua peran yang harus dilakukan untuk berbagai kegiatan.
Banyak percobaan Pembunuhan