Suara.com - Salat Ied merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Hukum pelaksanaannya adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat ditekankan. Karena itu, setiap tahun umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut pelaksanaan salat Id dengan penuh antusias.
Banyak yang ingin berada di barisan terdepan. Namun untuk itu diperlukan ketepatan waktu supaya bisa mendapatkan saf terdepan. Lantas, jam berapa sebaiknya datang ke masjid atau lapangan agar bisa mendapatkan saf depan?
Pertanyaan ini berkaitan erat dengan pemahaman tentang waktu pelaksanaan salat Id menurut para ulama, khususnya dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia.
Secara umum, pelaksanaan salat Id dilakukan pada pagi hari, yaitu setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Zuhur atau ketika matahari tergelincir (zawal). Para ulama mazhab Syafi’i sepakat bahwa batas akhir waktu salat Id adalah saat matahari tergelincir.
Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab:
وَاتَّفَقَ الْأَصْحَابُ عَلَى أَنَّ آخِرَ وَقْتِ صَلَاةِ الْعِيدِ زَوَالُ الشَّمْسِ
Wattafaqal ash-hābu ‘alā anna ākhira وقتi ṣalāti al-‘īdi zawālu asy-syams.
Artinya: “Para ulama dari kalangan mazhab Syafi’i sepakat bahwa akhir waktu pelaksanaan salat Id adalah ketika matahari tergelincir.” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’, Juz VII, hlm. 7)
Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh At-Taqrib karya Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa waktu pelaksanaan salat Id berada di antara terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari.
Dengan demikian, rentang waktunya cukup panjang, yakni sejak pagi setelah matahari terbit sampai menjelang masuk waktu Zuhur.
Meski para ulama sepakat mengenai batas akhir waktu salat Id, mereka memiliki perbedaan pendapat terkait awal waktu pelaksanaannya. Imam Nawawi menjelaskan bahwa terdapat dua pandangan utama dalam mazhab Syafi’i.
Pendapat pertama menyatakan bahwa awal waktu salat Id dimulai sejak matahari terbit, tetapi waktu yang lebih utama adalah menundanya hingga matahari naik setinggi satu tombak.
Imam Nawawi menuliskan:
وَفِي أَوَّلِ وَقْتِهَا وَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَصَاحِبُ الشَّامِلِ وَالرُّويَانِيُّ وَآخَرُونَ أَنَّهُ مِنْ أَوَّلِ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَالْأَفْضَلُ تَأْخِيرُهَا حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ قَدْرَ رُمْحٍ
Wa fī awwali waqtihā wajhāni (aṣaḥḥuhumā) wa bihi qaṭa‘a al-muṣannifu wa ṣāḥibu asy-syāmil wa ar-ruyānī wa ākharūna annahu min awwali ṭulū‘i asy-syamsi wal-afḍalu ta’khīruhā ḥattā ترتفع asy-syamsu qadru rumḥ.
Artinya: “Mengenai awal waktu salat Id terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah dimulai sejak terbitnya matahari. Namun yang lebih utama adalah menundanya hingga matahari naik setinggi satu tombak.” (Al-Majmu’, Juz VII, hlm. 7)
Secara praktik, ukuran matahari setinggi satu tombak dipahami para ulama sebagai kira-kira 15–20 menit setelah matahari terbit. Pada waktu inilah biasanya salat Id mulai dilaksanakan di berbagai masjid atau lapangan.
Pendapat kedua menyebutkan bahwa awal waktu salat Id baru masuk ketika matahari telah naik, bukan tepat saat terbit. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi, menurutnya,
وَالثَّانِي أَنَّهُ يَدْخُلُ بِارْتِفَاعِ الشَّمْسِ وَبِهِ قَطَعَ الْبَنْدَنِيجِيُّ وَالْمُصَنِّفُ فِي التَّنْبِيهِ وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الصَّيْدَلَانِيِّ وَالْبَغَوِيِّ وَغَيْرِهِمَا
Wa ats-tsānī annahu yadkhulu birtifā‘i asy-syams, wa bihi qaṭa‘a al-Bandanījī wa al-muṣannifu fī at-Tanbīh, wa huwa ẓāhiru kalāmi aṣ-Ṣaidalānī wal-Baghawī wa ghairihimā.
Artinya: “Pendapat kedua menyatakan bahwa masuknya waktu salat Id adalah ketika matahari telah naik. Ini merupakan pandangan yang ditegaskan Al-Bandaniji dan penulis kitab At-Tanbih, serta tampak dari pendapat Ash-Shaidalani, Al-Baghawi, dan ulama lainnya.” (Al-Majmu’, Juz VII, hlm. 7)
Perbedaan ini menunjukkan keluasan pandangan ulama dalam menentukan waktu ibadah, namun semuanya tetap berada dalam rentang pagi hari sebelum zawal.
Jam Berapa Harus Datang agar Dapat Saf Depan?
Jika melihat praktik di Indonesia, salat Id biasanya dimulai sekitar pukul 06.30 hingga 07.00 pagi, tergantung wilayah dan kebijakan panitia masjid atau pemerintah setempat. Oleh karena itu, bagi jamaah yang ingin mendapatkan saf depan, disarankan datang lebih awal.
Idealnya, jamaah sudah tiba di lokasi sekitar pukul 05.30–06.00 pagi. Selain peluang mendapatkan saf depan lebih besar, datang lebih awal juga memberi kesempatan untuk melakukan berbagai amalan sunnah seperti melaksanakan takbiran sebelum salat, duduk dengan tenang menunggu imam, memperbanyak doa dan dzikir, serta menjalin silaturahmi dengan sesama jamaah.
Alasan kenapa banyak orang berebut saf depan adalah karena saf depan memiliki keutamaan tersendiri dalam salat berjamaah. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk merapatkan saf dan berusaha berada di barisan terdepan.
Demikian itu jam terbaik untuk datang ke masjid untuk salad Id. Dari penjelasan para ulama dapat disimpulkan bahwa waktu pelaksanaan salat Id sangat longgar, yakni sejak matahari terbit hingga tergelincir. Namun waktu yang paling utama adalah ketika matahari sudah naik sekitar satu tombak.
Karena itu, bagi umat Islam yang ingin meraih keutamaan saf depan, datang lebih awal ke masjid atau lapangan adalah langkah terbaik. Selain meningkatkan peluang mendapat tempat strategis, hal ini juga mencerminkan semangat dalam menyambut hari raya sebagai momen ibadah dan kebersamaan.
Kontributor : Mutaya Saroh