- Mayoritas ulama menganjurkan wanita haid tetap mendatangi tempat salat Id untuk menyaksikan kebaikan dan ikut berdoa bersama.
- Tujuan kehadiran wanita haid adalah menunjukkan syiar persatuan Islam dan mendengarkan khutbah serta mengamini doa bersama.
- Wanita haid harus menjauhi shaf salat, tidak boleh memasuki ruang utama masjid jika salat diadakan di dalam bangunan.
Suara.com - Bagi wanita muslim, siklus bulanan atau haid bisa datang di hari Lebaran. Karena itu, wanita yang haid pun tak bisa menjalankan Salat Id.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah wanita yang sedang haid sebaiknya ikut pergi ke tempat salat Id atau berdiam diri di rumah saja?
Untuk menjawab keraguan tersebut, mari kita simak penjelasan lengkap berdasarkan tuntunan sunnah dan pendapat para ulama.
Sunnah Rasulullah: Tetap Dianjurkan ke Tempat Salat Id
Bukan berdiam diri di rumah, mayoritas ulama justru menganjurkan para wanita yang haid untuk tetap mendatangi tempat pelaksanaan salat Idulfitri.
Hal ini didasarkan pada hadis sahih dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha.
Melansir dari laman Muslimah.or.id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita, baik yang muda, yang sedang dipingit, bahkan yang sedang haid sekalipun, untuk keluar menuju lapangan tempat salat Id.
Tujuannya bukan untuk ikut rukuk dan sujud, melainkan untuk menyaksikan kebaikan dan doa bersama kaum Muslimin.
![Sejumlah warga lereng Gunung Merbabu menunaikan Shalat Idul Fitri 1446 H di Jrakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (31/3/2025). [ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/31/32886-pelaksanaan-salat-id-di-berbagai-daerah-salat-idul-fitri.jpg)
Dalam hadis tersebut, Ummu ‘Athiyyah berkata:
"Kami diperintahkan untuk mengajak keluar gadis yang baru baligh, gadis yang dipingit, dan wanita yang haid pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha). Adapun wanita yang haid, mereka menjauhi tempat salat dan menyaksikan kebaikan serta dakwah (doa) kaum Muslimin." (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengapa Harus Tetap Ikut ke Lapangan?
Ada alasan mulia di balik anjuran ini. Mengutip dari Almanhaj.or.id, kehadiran seluruh elemen masyarakat, termasuk wanita yang sedang berhalangan, adalah bentuk syiar atau menampakkan keagungan agama Islam.
Dengan berkumpulnya kaum Muslimin dalam jumlah besar, terpancarlah kekuatan, persatuan, dan kegembiraan yang luar biasa.
Bagi wanita haid, momen ini adalah kesempatan untuk:
- Mendengarkan Khutbah: Meskipun tidak salat, mendengarkan pesan-pesan takwa dalam khutbah Id tetap memberikan nutrisi spiritual.
- Mengamini Doa: Bergabung dalam barisan kaum Muslimin saat berdoa bersama di penghujung salat Id diyakini membawa keberkahan dan ampunan.
- Menyambung Silaturahmi: Lapangan salat Id adalah tempat pertama di mana masyarakat saling bermaaf-maafan setelah ibadah selesai.
Aturan bagi Wanita Haid: Masjid vs Lapangan
Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah lokasi pelaksanaan salat Id. Terdapat perbedaan aturan teknis bagi wanita haid tergantung di mana salat tersebut diadakan.
Menurut penjelasan di laman NU Online, jika salat Id dilaksanakan di dalam masjid, maka wanita yang sedang haid dilarang masuk ke dalam ruang utama masjid.
Hal ini berkaitan dengan kehormatan masjid dan menjaga agar darah haid tidak mengotori tempat suci tersebut.
Namun, mereka tetap diperbolehkan berada di halaman, teras, atau area luar masjid yang tidak termasuk bagian utama bangunan masjid.
Sementara itu, jika salat Id diadakan di lapangan (tanah lapang), wanita haid tetap harus memisahkan diri dari barisan (shaf) orang-orang yang sedang salat.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, mereka harus "menjauhi tempat salat" (ya’tazilnal-mushalla). Wanita yang haid bisa mengambil posisi di pinggir atau di belakang barisan jemaah agar tidak mengganggu kekhusyukan jalannya ibadah salat.
Amalan yang Bisa Dilakukan Wanita Haid saat Idulfitri
Meskipun tidak bisa melaksanakan salat dua rakaat, wanita yang sedang haid tetap bisa meraih pahala melimpah di hari raya dengan melakukan amalan berikut:
Memperbanyak Takbir: Takbir mursal (yang tidak terikat waktu salat) disunnahkan bagi siapa saja, termasuk wanita haid, sejak malam Lebaran hingga imam memulai salat Id.
Berdzikir dan Bersalawat: Lidah yang terus basah dengan dzikir akan tetap menyambungkan hati kepada Allah SWT.
Bersedekah: Idulfitri juga identik dengan berbagi. Memberi santunan atau zakat fitrah (yang sudah ditunaikan sebelumnya) adalah bagian dari kemuliaan hari ini.
Berhias dan Mandi Sunnah: Meskipun tidak salat, wanita haid tetap disunnahkan untuk mandi (sebagai mandi hari raya), mengenakan pakaian terbaik yang bersih (tetap menutup aurat), dan memakai wewangian (selama tidak berlebihan saat keluar rumah).
Dari ulasan di atas, jawaban atas dilema ini sudah jelas. Bahwa aanita yang sedang haid lebih utama (afdhal) untuk ikut keluar menuju tempat salat Id daripada berdiam diri di rumah.
Jadi, jangan biarkan haid menghalangi Anda untuk merasakan kemeriahan dan spirit kemenangan Idulfitri bersama keluarga dan kerabat di lapangan atau area luar masjid. Selamat menyambut Lebaran!