5 Efek Samping Makanan Bersantan untuk Kesehatan Tubuh yang Perlu Diwaspadai

Agung Pratnyawan

Senin, 23 Maret 2026 | 09:03 WIB
5 Efek Samping Makanan Bersantan untuk Kesehatan Tubuh yang Perlu Diwaspadai
Ilustrasi Opor Ayam (SHUTTERSTOCK/Ratih Ra)

Suara.com - Berikut adalah beberapa efek samping makanan bersantan untuk kesehatan yang perlu Anda ketahui.

Santan kelapa berasal dari buah kelapa dan sudah lama jadi bahan penting dalam berbagai masakan.

Rasanya yang gurih dengan sedikit manis, ditambah aromanya yang khas, membuat santan banyak disukai.

Apalagi saat perayaan hari besar seperti Lebaran (Idul Fitri), hampir semua hidangan terasa kurang lengkap tanpa santan.

Ya, santan menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Santan biasa dipakai dalam masakan atau minuman.

Bisa dikatakan, santan sebagai alternatif bebas susu sapi memiliki banyak keunggulan.

Santan jauh lebih mudah dicerna oleh banyak orang daripada susu sapi karena tidak mengandung gula susu laktosa.

Dan, seperti cairan lainnya, santan menghidrasi, yang sangat baik untuk sistem pencernaan Anda.

Jika tanpa pemanis, santan hanya mengandung sekitar 3 gram (g) karbohidrat per porsi 8 ons dan dapat menawarkan alternatif nabati yang kental dan lembut sebagai pengganti susu sapi.

baca juga

Namun, mengonsumsi makanan atau minuman bersantan secara berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan.

Untuk lebih jelasnya, simak beberapa efek makanan bersantan untuk kesehatan yang bisa Anda jadikan rujukan untuk lebih berhati-hati.

Efek Samping Makanan Bersantan untuk Kesehatan

Ilustrasi opor ayam (royco.co.id)
Ilustrasi opor ayam (royco.co.id)

1. Santan Bisa Bikin Kolesterol Naik

Masalah pertama adalah kandungan lemak dalam santan masak. Satu cangkir santan masak kalengan mengandung 48 g lemak per cangkir.

Meskipun kandungan lemak dalam berbagai merek minuman santan kemasan dapat bervariasi, produk yang mengandung 10 persen lemak telah dikaitkan dengan daya cerna yang lebih baik.

Makanan tinggi lemak diketahui dapat menyebabkan kram perut dan diare pada orang yang sensitif.

Hal ini dapat menjelaskan sifat pencahar yang mungkin dialami beberapa orang saat mengonsumsi produk santan dengan kandungan lemak lebih tinggi.

Mengonsumsinya dalam jumlah besar dapat menyebabkan perut terasa berat atau tidak nyaman. Beberapa orang bahkan mungkin mengalami reaksi alergi.

Selain itu, santan dapat memengaruhi kadar kolesterol, yang mungkin menjadi masalah bagi individu dengan kondisi terkait jantung.

Bagi orang yang menghadapi masalah seperti gangguan pencernaan, kolesterol tinggi, atau diabetes, membuat pilihan makanan yang bijak menjadi lebih penting lagi.

2. Menyebabkan Kenaikan Berat Badan yang Signifikan

Santan kelapa umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan dianggap aman bagi kebanyakan orang jika dikonsumsi dalam jumlah sedang.

Namun, karena kandungan kalori dan lemaknya yang tinggi, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan penambahan berat badan. 

Meskipun santan kelapa merupakan produk alami, reaksi yang merugikan terkadang dapat terjadi.

Jika Anda mengalami gejala yang tidak biasa setelah mengonsumsinya, segeralah cari pertolongan medis.

Disarankan juga untuk berkonsultasi dengan dokter Ayurveda atau penyedia layanan kesehatan Anda untuk mendapatkan panduan yang tepat.

3. Bisa Memicu Diare

Santan mengandung cukup banyak serat yang bisa membuat perut menghasilkan lebih banyak gas dan meningkatkan kerja usus.

Kondisi ini dapat membuat feses jadi lebih cair dan sulit memadat. Itulah sebabnya, setelah makan makanan bersantan dalam jumlah banyak, sebagian orang bisa mengalami gangguan pencernaan seperti diare.

Selain itu, tingginya kadar lemak dalam santan juga berpengaruh. Jika lemak tersebut tidak tercerna dan terserap dengan baik oleh tubuh, hal ini bisa menyebabkan feses menjadi encer atau memicu diare.

4. Menyebabkan Tubuh Kekurangan Kalsium

Jika dijadikan pengganti susu, santan bisa membuat asupan kalsium menjadi kurang.

Dalam satu cangkir (sekitar 240 mL), santan kelapa hanya mengandung sekitar 38,4 mg kalsium, atau sekitar 3% dari kebutuhan harian.

Sementara itu, susu sapi dengan kadar lemak 2% memiliki sekitar 305 mg kalsium per 250 mL, setara dengan 23,5% kebutuhan harian, jumlahnya hampir delapan kali lebih tinggi dibanding santan.

Banyak orang yang tidak bisa mengonsumsi susu sapi, misalnya karena intoleransi laktosa atau alergi protein susu, lalu beralih ke santan atau susu kelapa.

Namun, pilihan ini sebenarnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium harian.

Jika berlangsung lama, kekurangan kalsium dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi, terutama pada bayi, anak-anak, remaja, serta ibu hamil.

Itulah beberapa efek samping makanan bersantan yang bisa Anda jadikan pedoman agar bisa mengontrol.

Kontributor : Damai Lestari

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

9 Makanan Pantangan Kolesterol Tinggi yang Wajib Dihindari usai Lebaran

9 Makanan Pantangan Kolesterol Tinggi yang Wajib Dihindari usai Lebaran

Lifestyle | Minggu, 22 Maret 2026 | 18:08 WIB

Stop Panaskan Opor Berulang! Rahasia Makanan Lebaran Tetap Nikmat dan Bernutrisi

Stop Panaskan Opor Berulang! Rahasia Makanan Lebaran Tetap Nikmat dan Bernutrisi

Lifestyle | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:43 WIB

5 Tips Aman Makan Makanan Bersantan saat Lebaran agar Tetap Sehat

5 Tips Aman Makan Makanan Bersantan saat Lebaran agar Tetap Sehat

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:10 WIB

Terkini

Ramalan Shio 23 September 2026, 4 Shio Ini Mulai Lepas dari Kesepian

Ramalan Shio 23 September 2026, 4 Shio Ini Mulai Lepas dari Kesepian

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 19:31 WIB

Bulog Belum Dapat 100% Kuota, Minyakita Masih Rp20 Ribu

Bulog Belum Dapat 100% Kuota, Minyakita Masih Rp20 Ribu

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 19:30 WIB

Mengapa Bahasa Pakar Bikin Politisi Meradang? Menjembatani Sains-Populisme

Mengapa Bahasa Pakar Bikin Politisi Meradang? Menjembatani Sains-Populisme

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 19:30 WIB

Bisa Dikuasai Anak Ranking Bawah, Ini Rahasia Paham Aturan Sinus dan Cosinus untuk UTBK SNBT

Bisa Dikuasai Anak Ranking Bawah, Ini Rahasia Paham Aturan Sinus dan Cosinus untuk UTBK SNBT

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 19:27 WIB

Viral Video Jurnalis Sekaligus Calon Gubernur Peru Susy Isabel Tewas Ditembak Saat Kampanye

Viral Video Jurnalis Sekaligus Calon Gubernur Peru Susy Isabel Tewas Ditembak Saat Kampanye

News | Selasa, 22 September 2026 | 19:25 WIB

Desil Tak Sesuai, Perempuan Mahardhika Soroti Dampaknya ke Korban KDRT

Desil Tak Sesuai, Perempuan Mahardhika Soroti Dampaknya ke Korban KDRT

News | Selasa, 22 September 2026 | 19:21 WIB

Kutukan Merenggut Jiwa di Hutan Larangan

Kutukan Merenggut Jiwa di Hutan Larangan

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 19:20 WIB

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk Dukung Nasabah Flores NTT Bangkit dan Kembali Berusaha

PNM Peduli Hadirkan Trauma Healing untuk Dukung Nasabah Flores NTT Bangkit dan Kembali Berusaha

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 19:17 WIB

Mengenal KH Hasan Abdullah Sahal, Sosok di Balik Sentilan Cari Muka di Hadapan Prabowo

Mengenal KH Hasan Abdullah Sahal, Sosok di Balik Sentilan Cari Muka di Hadapan Prabowo

Video | Selasa, 22 September 2026 | 19:11 WIB

Kronologi Penonaktifan Dosen ISI Yogyakarta Terkait Dugaan Kasus Kekerasan Seksual

Kronologi Penonaktifan Dosen ISI Yogyakarta Terkait Dugaan Kasus Kekerasan Seksual

News | Selasa, 22 September 2026 | 19:10 WIB

×