Suara.com - Tak hanya berprestasi di lapangan, pemain Timnas Indonesia Pratama Arhan juga mencuri perhatian lewat pencapaian akademiknya.
Ia menjadi salah satu lulusan pertama di Indonesia yang akan menggunakan sistem ijazah modern berbasis teknologi blockchain. Lantas, apa itu ijazah blockchain?
Inovasi ini datang dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mulai menerapkan sistem ijazah digital berbasis blockchain untuk lulusan tahun 2026.
Arhan diketahui menempuh pendidikan di universitas tersebut dengan jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ia pun dinyatakan lulus setelah menjalani sidang skripsi dan kini bersiap mengikuti wisuda pada April 2026.
Lalu, bagaimana cara kerja ijazah blockchain dan apa saja keunggulannya dibanding ijazah biasa? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Ijazah Blockchain?
Mengutip dari situs resmi Unesa, ijazah blockchain adalah dokumen kelulusan dalam bentuk digital yang disimpan menggunakan teknologi blockchain.
Teknologi ini dikenal sebagai sistem pencatatan data yang bersifat terdesentralisasi, artinya data tidak hanya tersimpan di satu tempat, tetapi tersebar di banyak jaringan sehingga lebih aman.
Berbeda dengan ijazah konvensional yang biasanya berupa kertas atau file PDF, ijazah blockchain memiliki sistem keamanan yang jauh lebih kuat.
Setiap data yang dimasukkan ke dalam blockchain akan tercatat secara permanen dan tidak bisa diubah atau dihapus.
Dengan sistem ini, setiap ijazah memiliki identitas unik berupa kode khusus (hash).
Kode inilah yang menjadi "sidik jari digital" dari sebuah ijazah, sehingga keasliannya dapat dipastikan dan tidak bisa dipalsukan oleh pihak mana pun.
Cara Kerja Ijazah Blockchain
Cara kerja ijazah blockchain sebenarnya cukup sederhana jika dipahami dari konsep dasarnya. Saat sebuah ijazah diterbitkan, data lulusan akan dimasukkan ke dalam sistem blockchain dan diubah menjadi kode unik.
Data tersebut kemudian disimpan dalam jaringan digital yang saling terhubung. Karena sistemnya terdesentralisasi, informasi ijazah tidak hanya berada di satu server, tetapi tersebar di banyak titik. Hal ini membuat data menjadi jauh lebih aman dari risiko manipulasi atau peretasan.
Ketika pihak lain, seperti perusahaan atau instansi, ingin memverifikasi ijazah, mereka cukup mengakses sistem tersebut secara daring.
Proses ini bisa dilakukan secara real-time tanpa perlu legalisir atau prosedur manual yang biasanya memakan waktu.