-
Bisnis ramah lingkungan kini menjadi mesin utama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
-
Penerapan prinsip hijau bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi jitu untuk menarik minat investor dunia.
-
Kehadiran dasbor pintar berbasis kecerdasan buatan memudahkan perusahaan mengambil keputusan tepat demi masa depan yang lebih bersih.
Suara.com - Selama ini, isu lingkungan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) sering dianggap sebagai beban tambahan bagi perusahaan. Namun, pandangan itu kini mulai bergeser. Bisnis hijau bukan lagi sekadar gaya hidup ramah lingkungan, melainkan tiket emas untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus ke angka 8 persen.
Dalam gelaran Katadata ESG Forum bertema 'ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi & Bisnis Hijau' di Bursa Efek Indonesia, Senin (6/4), optimisme ini terpancar jelas.
CEO Katadata, Metta Dharmasaputra, menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi yang ambisius tersebut mustahil tercapai jika kita masih memakai cara lama. Ekonomi hijau harus menjadi pendorong baru.
“Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, kelihatannya akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan sebesar itu,” ujar Metta di hadapan para pimpinan perusahaan dan investor.
KESGI: Navigasi Cerdas di Tengah Rimba Data
Masalahnya, banyak perusahaan masih bingung bagaimana cara memulai hidup hijau. Data yang berceceran, biaya pengumpulan data yang mahal, hingga tim yang belum berpengalaman jadi hambatan utama.
Menjawab tantangan itu, Katadata Green meluncurkan KESGI (Katadata ESG Insight) Dashboard. Anggap saja ini sebagai asisten pintar berbasis AI (kecerdasan buatan) yang membantu perusahaan merapikan data lingkungan dan sosial mereka.
Chief Content Officer Katadata, Heri Susanto, menjelaskan bahwa KESGI hadir agar data-data rumit bisa diubah menjadi keputusan bisnis yang cepat dan mendalam.
“KESGI menjadi solusi agar data bisa diubah menjadi insight, dari kepatuhan menjadi keputusan,” tuturnya.
Menerapkan prinsip hijau ternyata bukan cuma soal menanam pohon, tapi juga soal menarik perhatian investor dunia. Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mencatat bahwa per Februari 2026, dana kelolaan reksa dana berbasis saham "hijau" sudah menyentuh angka fantastis, yakni Rp15,83 triliun.
Artinya, perusahaan yang peduli lingkungan kini lebih dilirik oleh pemilik modal. Ke depannya, bahkan akan muncul indeks saham ESG-50 Leader Index yang berisi 50 perusahaan paling konsisten menerapkan standar hijau. Ini bisa menjadi panduan bagi kita untuk melihat perusahaan mana yang tidak hanya jago cari untung, tapi juga punya masa depan jangka panjang.

Kolaborasi untuk Masa Depan
Langkah besar ini tidak dilakukan sendirian. Kolaborasi dilakukan dengan berbagai mitra strategis, mulai dari penyedia solusi daur ulang seperti Rekosistem hingga ahli jejak karbon seperti Jejakin.
Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Jeany Hartriani dari Katadata Green, prinsip hijau harus mendarat di operasional sehari-hari perusahaan, bukan cuma bagus di atas kertas laporan. Dengan ekosistem yang lebih matang, mimpi melihat ekonomi Indonesia tumbuh 8 persen bukan lagi sekadar angka di atas kertas, tapi realita yang bisa kita capai bersama lewat gaya hidup bisnis yang lebih bersih.