Suara.com - Bagi generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk digital, ruang terbuka menjadi pelarian sekaligus tempat pencarian jati diri yang paling jujur.
Di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Baturetno, Pendeta Dyan Sunu Prakosa melihat bahwa alam bukan sekadar latar belakang estetik untuk konten media sosial, melainkan ruang inklusif di mana spiritualitas, anak muda, dan kelestarian bumi bertemu tanpa sekat yang kaku.
Ibadah alam tidak hanya diselenggarakan untuk kaum tua. Sebaliknya, medan alam yang menantang di pinggir waduk atau hutan justru menjadi panggung di mana anak muda merasa lebih dibutuhkan dan dilibatkan. GKJ Baturetno menekankan bahwa konsep intergenerasional dapat semakin tumbuh di alam terbuka.
Meruntuhkan Tembok, Membangun Relasi
“Pola ibadah alam melibatkan keseluruhan usia untuk hadir bersama dan mendukung. Nah, yang menarik adalah bahwa support, dukungan dan bantuan dari kaum muda, bahkan anak-anak itu menjadi lebih mungkin dalam ruang ibadah alam,” ungkap Pendeta Dyan Sunu.
Keunikan dari ibadah ini adalah hilangnya batas-batas formalitas yang sering kali membuat anak-anak, remaja, dan pemuda merasa sungkan di dalam gedung. Di bawah rindang pohon atau di tepi sungai, tidak ada lagi teguran bagi anak yang berlarian atau pemuda yang ingin berekspresi dalam ibadah dengan cara yang berbeda. Alam secara alami menciptakan rasa setara bagi semua usia.
“Misalnya anak-anak lari ke mimbar kan nggak sopan bagi banyak orang, tetapi karena itu di alam, batas-batas itu jadi hilang,” jelasnya mengenai kebebasan ruang tersebut.
Kesadaran ekologi pun disuntikkan lewat bahasa yang akrab di telinga anak muda. Iya, musik. Alih-alih hanya menyanyikan kidung dalam teks, Pendeta Dyan Sunu membiarkan lagu-lagu bernuansa kritik lingkungan milik Iksan Skuter menggema di tengah ibadah. Ini adalah cara beliau memastikan bahwa pesan merawat bumi bukan sekadar teori, tapi menjadi gaya hidup yang relevan dengan budaya pop masa kini.
“Kita pakai lagu-lagu populer, di anak-anak sekolah minggu itu nyanyi lagunya Iksan Skuter. Liriknya 'Hutan jangan ditebangi, sungai jangan dikotori. Nanti Tuhan marah, nanti Tuhan marah'. Teks-teks yang sebenarnya bukan teks gerejawi itu pemaknaannya menjadi lebih kuat, karena memang bicara soal tema besar yang sedang kita ambil,” tambah Pendeta Dyan Sunu.
Suara Masa Depan dari Anak-Anak
Lirik lagu "Nanti Tuhan Marah" milik Iksan Skuter yang bergema di tengah alam terbuka seolah menjadi doa yang dipanjatkan anak-anak. Ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah tuntutan etis dari generasi masa depan kepada orang dewasa yang hadir. Anak-anak menyuarakan hak mereka atas air yang bersih dan pohon yang rimbun melalui lantunan nada dan gerakan yang mereka ikuti.
Ketika barisan anak-anak menyanyikan bait, "Sisakan sedikit untuk kami, berikan sedikit untuk kami. Kami masa depan. Kami adalah masa depan," suasana ibadah berubah menjadi kontemplatif.
GKJ Baturetno berhasil mengemas musik sebagai instrumen literasi lingkungan. Bagi anak-anak Baturetno, Tuhan tidak lagi hanya hadir dalam teks Alkitab yang mungkin akan sulit dipahami, tetapi juga hadir melalui kesadaran bahwa merusak alam berarti mengabaikan masa depan mereka sendiri.
Melalui keterlibatan langsung, mulai dari memegang poster kampanye lingkungan hingga merancang fragmen di tengah hutan, generasi muda di Baturetno tidak lagi memandang gereja sebagai suatu hal yang jauh. Alam telah menjadi guru yang menyatukan mereka, memberikan ruang bagi kreativitas, sekaligus menanamkan tanggung jawab sebagai penjaga bumi di masa depan.
Penulis: Vicka Rumanti