- PT Yasa Artha Trimanunggal menjadi sorotan usai memenangkan pengadaan motor listrik program MBG BGN.
- Harga motor trail listrik dipatok Rp49,95 juta dengan status off the road tanpa garansi.
- Perusahaan logistik ini terus berekspansi, termasuk mengakuisisi maskapai SAM Air demi kelancaran rantai pasok.
Suara.com - Pengadaan motor listrik sebagai kendaraan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung BGN kini tengah menjadi sorotan publik.
Sorotan ini tak lepas dari terpilihnya perusahaan logistik berskala besar yang dipercaya menangani proyek bernilai fantastis tersebut.
Jagat media sosial belakangan ini memang tengah riuh. Publik bukan lagi sekadar menyoroti menu makanannya, melainkan tunggangan operasionalnya.
Puluhan ribu unit motor trail yang dibalut logo Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak jadi buah bibir.
Kendaraan tangguh ini disiapkan khusus untuk mengawal program ambisius MBG ke berbagai pelosok.
Namun, di balik gagahnya deretan kuda besi tersebut, muncul pertanyaan kritis. Seberapa darurat kebutuhan motor berjenis trail untuk sekadar mendistribusikan makanan? Dan yang paling mengundang rasa penasaran, siapa dalang penyedia armada ini?
Fakta Harga dan Spesifikasi Motor MBG

Berdasarkan penelusuran data dari laman Inaproc, tender pengadaan motor trail listrik bermerek Emmo JVX GT ini jatuh ke tangan PT Yasa Artha Trimanunggal.
Keputusan ini dinilai cukup berani, terutama di tengah ketatnya sorotan publik terhadap efisiensi anggaran negara.
Angka yang dipatok pun tidak main-main. Satu unit motor trail listrik ini dibanderol mencapai Rp49,95 juta.
Meski angka tersebut sudah merangkum PPN 12 persen, ada catatan tebal yang memicu kritik dari para pengamat kebijakan publik.
Harga nyaris Rp50 juta itu ternyata masih bersatus off the road. Artinya, pemerintah masih harus merogoh kocek tambahan yang tidak sedikit untuk mengurus legalitas kendaraan seperti STNK dan BPKB agar motor ini sah mengaspal di jalan umum.
Lebih mengejutkan lagi, beredar kabar bahwa harga fantastis tersebut belum mencakup jaminan garansi.
Mengenal Lebih Dekat PT Yasa Artha Trimanunggal
Lantas, siapa sebenarnya PT Yasa Artha Trimanunggal? Bagi pemerhati dunia bisnis logistik, nama korporasi ini tentu sudah tidak asing.
Berdiri sejak tahun 2016 dan berpusat di Jakarta, nama perusahaan ini rupanya menyimpan filosofi mendalam.
Kata "Yasa" melambangkan kemuliaan, "Artha" berarti tujuan, dan "Trimanunggal" bermakna tiga bagian yang menyatu.
Nama ini mewakili tiga sosok pendiri yang sepakat menyatukan visi mulia menciptakan ekosistem kerja yang terpercaya sekaligus melancarkan rantai pasok nasional.
Awalnya dikenal luas di bidang jasa logistik terpadu dan manajemen pergudangan, cakupan bisnis mereka kini berkembang pesat.
Perusahaan ini juga memegang peranan vital di sektor pengadaan umum, perdagangan ekspor-impor, konstruksi, sistem teknologi informasi, hingga suplai alat kesehatan.
Jangkauan distribusinya pun telah menyelimuti seluruh wilayah Indonesia.
Ekspansi Raksasa ke Udara
Kapasitas operasional PT Yasa Artha Trimanunggal semakin tak bisa dipandang sebelah mata setelah mereka melakukan manuver bisnis besar-besaran pada penghujung tahun 2024.
Demi mendukung ketahanan pangan dan menyalurkan Bantuan Pangan Nasional ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), mereka resmi mengakuisisi PT Semuwa Aviasi Mandiri atau maskapai perintis SAM Air.
Tak berhenti sampai di situ, perusahaan juga memborong belasan armada baru buatan anak bangsa.
Tercatat, mereka memesan 12 unit pesawat dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI), yang terdiri dari 10 unit pesawat N219 dan 2 unit Cassa 212 untuk melengkapi armada udara mereka.
Siapa Sosok di Balik Kemudi Perusahaan?
Geliat bisnis raksasa ini dikomandoi oleh Yenna Yuniana yang menduduki kursi Direktur Utama. Ia menjadi figur sentral yang memegang kendali operasional harian, termasuk menjadi perwakilan utama saat korporasi menandatangani kesepakatan besar pengadaan pesawat dengan PTDI.
Sementara kepemilikan mutlak perusahaan tetap dipegang oleh dewan pemegang saham yang merepresentasikan tiga pilar pendiri utamanya.
Nama Yenna Yuniana juga sempat menghiasi tajuk utama media massa. Pada awal November 2025, ia menunjukkan sikap kooperatif saat memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi.
Pemanggilan tersebut terkait dengan posisi perusahaannya sebagai mitra logistik yang dipercaya dalam kelancaran distribusi bantuan sosial.
Terlepas dari dinamika tersebut, ekspansi bisnis PT Yasa Artha Trimanunggal dari darat, laut, hingga udara membuktikan bahwa mereka kini memegang kendali salah satu ekosistem logistik paling komprehensif di Tanah Air.
Kehadiran mereka sebagai penyedia motor listrik operasional MBG seolah menjadi babak baru dari manuver bisnis sang raksasa logistik ini.