Suara.com - Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan Indonesia. Pada bulan agustus 2025, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1.505.220. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, sebagaimana data yang dilampirkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar).
Tidak hanya jumlah wisatawan mancanegara, pergerakan wisatawan domestik juga menunjukkan angka yang signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 jumlah perjalanan wisatawan lokal mencapai 1,2 miliar.
Namun, di balik banyaknya pengunjung, terdapat tantangan lingkungan yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata, yaitu meningkatnya jumlah sampah dan ketergantungan pada energi yang belum terbarukan. Meski demikian, kabar baiknya beberapa destinasi di Indonesia mulai menerapkan berbagi solusi untuk menjadi lebih ramah lingkungan.
Belajar Memutus Rantai Limbah

Masalah timbunan sampah masih menjadi persoalan utama di balik masifnya angka kunjungan wisatawan di Indonesia, terutama di berbagai destinasi unggulan. Salah satu contohnya terjadi selama libur panjang akhir mei 2025, ketika kawasan Kawah Ijen dipenuhi dengan tumpukan sampah yang ditinggalkan begitu saja, sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal KSDAE (8/4/2026).
Untuk menanggapi hal ini, beberapa wilayah di Indonesia mulai mengubah fokus pariwisatanya menjadi lebih ramah lingkungan. Contoh nyatanya dapat dilihat dari destinasi Pulau Macan Eco Lodge yang berada di Kepulauan Seribu. Destinasi wisata ini menetapkan kebijakan bebas plastik sekali pakai. Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan bahan bangunan yang berasal dari material ramah lingkungan.
Selain itu, di Bali terdapat Desa Penglipuran, di mana setiap bulannya masyarakat bergotong royong untuk mengumpulkan dan memilah sampah. Tidak sampai disana, mereka juga memanfaatkan setiap sampah tersebut. Sampah organik akan diproses menjadi pupuk, sementara sampah plastik akan dijual untuk didaur ulang atau dikumpulkan ke bank sampah, sebagaimana dilaporkan oleh waste4change (8/4/2026).
Dekarbonisasi Pada Destinasi Wisata

Tantangan mengenai ketergantungan pada energi tak terbarukan juga mulai dijawab melalui upaya dekarbonisasi di berbagai destinasi wisata. Sebagai contoh, di kawasan Candi Borobudur mulai dilakukan peralihan moda transportasi menjadi bus listrik untuk mengurangi emisi gas buang di sekitar situs wisata tersebut.
Selain itu, Desa Penglipuran juga merupakan zona bebas kendaraan, di mana mobil dan sepeda motor tidak diperbolehkan masuk ke area desa wisata tersebut. Di sisi lain, Misool Resort di Raja Ampat mulai memanfaatkan energi terbarukan, yaitu energi surya secara masif dalam operasionalnya. Hal serupa juga diterapkan di Pulau Macan Eco Lodge dengan penggunaan panel surya sebagai sumber energi.
Dengan adanya berbagai inisiatif tersebut, pariwisata berkelanjutan di Indonesia diharapkan dapat terus berkembang dalam menerapkan praktik ramah lingkungan.
Penulis: Natasha Suhendra