- Daycare Little Aresha Jogja resmi disegel polisi usai viral dugaan kekerasan.
- Ulasan Google Maps membongkar manipulasi pengasuh, termasuk wajah ramah namun kejam.
- Para korban mengalami memar hingga kelaparan, menjadi peringatan keras bagi orang tua.
Suara.com - Kasus dugaan penyiksaan anak di sebuah fasilitas daycare kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Daycare Little Aresha di kawasan Sorosutan, Jogja, resmi disegel garis polisi pada Jumat (24/4/2026) usai viralnya berbagai kejanggalan.
Berdasarkan fakta di lapangan, lokasi yang dijaga ketat oleh aparat itu kini tampak sangat sepi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa menitipkan anak bukan sekadar perkara biaya, melainkan tentang menyerahkan nyawa.
Berbeda dari rentetan kasus serupa di kota lain, kengerian di tempat ini tersimpan sangat rapi. Kepingan manipulasi tersebut baru terbongkar usai para wali murid memberanikan diri membongkar borok pengelola di ulasan internet.
Manipulasi Peta Digital dan Jerit Tangis
Tetangga sekitar sebenarnya sudah lama mencium kejanggalan yang terjadi di dalam bangunan tertutup tersebut. Warga bernama Bryant bersaksi bahwa dirinya terganggu dengan suara histeris dari pagi hingga sore hari.
"Kasihan denger mereka teriak histeris juga," tulisnya merasa iba terhadap anak-anak tersebut.
Kecurigaan semakin kuat lantaran pihak pengelola diduga mencoba mengaburkan jejak digital tempat usaha mereka.
"Btw location maps nya sepertinya sengaja di melesetkan," tambah Bryant dalam ulasannya.

Wajah Lembut Bu Diyah dan Luka Memar
Banyak wali murid yang mengaku sangat terkecoh dengan keramahan palsu para pengasuh di sana. Akun Denta mengungkap kekecewaannya pada salah satu staf yang biasa disapa Bu Diyah.
"Astagrifullah, tidak menyangka missnya terlihat baik dan lemah lembut terutama Bu Diyah yang terlihat baik dan ramah namun dibalik itu kalian kejam sekali," ungkap Denta.
Kekecewaan serupa datang dari Alfi Ana yang merasa tertipu mentah-mentah oleh penampilan luar pengasuh.
"Muka yg ramah, perkataan yg halus, ternyta dalamnya busuk semua," tulisnya penuh sesal.
Bahkan, ada seorang bayi yang baru dititipkan selama tiga hari sudah menjadi korban.
"Ternyata kamu disini 3 hari gak baik baik aja ya nak, ibu masih nyimpen foto badan kamu merah merah ditubuh dek," beber Dinky Anjaswari.
Kelaparan hingga Dikurung di Kamar Mandi
Selain mendapat perlakuan fisik, anak-anak diduga kuat ditelantarkan hingga kelaparan selama dititipkan.
Arum Gayuh melihat sendiri kejanggalan pada keponakannya setiap kali dijemput pulang.
"Pulang sekolah pun kayak kelaperan banget(gak dikasih makan kah?)," ungkap Arum penuh keheranan.
Parahnya lagi, keponakannya itu mengaku sering mendapatkan hukuman yang tak masuk akal.
"Jemput ponakanku ini bilang kalo dikurung dikamar mandi sama miss-nyaa," jelasnya menambahkan fakta mengerikan tersebut.
Doktrin Berbohong dan Kebohongan Visum
Hal paling mengerikan adalah dugaan adanya upaya cuci otak agar korban tidak melapor ke rumah.
Aninditya Chandrarini mendapati lengan anaknya memar, namun pihak sekolah berdalih itu sekadar gatal biasa.
Setelah ibu korban mengancam akan melakukan visum, pihak sekolah baru berani mengakui kesalahan stafnya.
"Yg mengerikan, anak saya di doktrin dengan entah bagaimana cara mereka untuk tidak menyampaikan kebenaran apa yg terjadi," beber Aninditya.
Praktik keji ini rupanya diduga sudah berlangsung menahun tanpa terendus sama sekali oleh wali murid.
Hita Wangse menuturkan analisisnya berdasarkan pengalaman masa lalu anaknya saat masih dititipkan di sana.
"Berarti sejak 2024 jg sudah begitu," sorotnya tajam. Ia pun menimpali dengan sinis, "Pantas tidak ada akses cctv untuk orang tua."
Peringatan Keras dan Tuntutan Tutup Permanen
Sistem penutupan informasi ini semakin sempurna dengan dilarangnya para orang tua membuat grup komunikasi daring.
"Ini takut kejahatannya didiskusikan sesama wali murid," tulis Ayu Astina merangkum red flag tersebut.
Rentetan trauma yang dialami puluhan anak ini memicu kemarahan luar biasa dari publik luas. Akun Galih Saputro mewakili keresahan banyak orang agar fasilitas tersebut dibekukan secara permanen selamanya.
"Kalo bisa bintang 0 itu sudah paling layak. Awas saja kalo masih bisa dapat ijin buka lagi," tegas Galih.
Tragedi ini menjadi lonceng peringatan paling keras bagi para ayah dan bunda di mana pun. Jangan pernah abaikan tangisan anak, karena insting merekalah yang bisa menyelematkan masa depannya.