- Pekerja di Amerika Serikat menggelar mogok kerja massal pada 1 Mei 1886 menuntut delapan jam waktu kerja.
- Tragedi Haymarket di Chicago memicu solidaritas global dan penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional pada 1889.
- Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional sejak 2013 untuk memperjuangkan hak-hak kesejahteraan para pekerja.
Suara.com - Setiap tanggal 1 Mei, jutaan pekerja di berbagai belahan dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal sebagai May Day.
Di Indonesia, hari ini menjadi momen libur nasional sejak 2013, di mana buruh dan pekerja turun ke jalan untuk menyuarakan hak-hak mereka. Namun, tahukah Anda mengapa tepatnya tanggal 1 Mei dipilih sebagai Hari Buruh?
Asal-usulnya bukan sekadar tradisi, melainkan berakar dari perjuangan panjang kelas pekerja melawan eksploitasi kerja di era Revolusi Industri.
Sebelum menjadi simbol perjuangan buruh, May Day awalnya adalah perayaan kuno di Eropa untuk menyambut musim semi di belahan bumi utara. Namun, pada abad ke-19, maknanya berubah total seiring berkembangnya industri besar di Amerika Serikat dan Eropa.
Saat itu, kondisi kerja sangat memprihatinkan. Para buruh sering bekerja hingga 12 hingga 18 jam sehari, enam atau tujuh hari seminggu, dengan upah rendah, tanpa jaminan keselamatan, dan minim perlindungan hukum.
Anak-anak pun tak jarang dieksploitasi di pabrik-pabrik. Kondisi ini memicu lahirnya gerakan serikat buruh yang menuntut perbaikan nasib.
Puncak perjuangan terjadi pada 1 Mei 1886. Lebih dari 300.000 hingga 400.000 pekerja di seluruh Amerika Serikat melakukan mogok kerja massal.
Tuntutan utama mereka sederhana namun revolusioner: delapan jam kerja, delapan jam istirahat, dan delapan jam untuk rekreasi atau keluarga ("Eight hours for work, eight hours for rest, eight hours for what we will").
Aksi ini didorong oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions yang pada 1884 telah menetapkan 1 Mei 1886 sebagai batas akhir penerapan hari kerja delapan jam. Gerakan ini mendapat dukungan luas dari organisasi seperti Knights of Labor.
Di Chicago, pusat industri saat itu, aksi berlangsung paling besar. Demonstrasi awalnya damai, tetapi pada 4 Mei 1886, terjadi peristiwa tragis yang dikenal sebagai Tragedi Haymarket (Haymarket Affair).
Saat rapat protes di Haymarket Square untuk mendukung buruh yang mogok di pabrik McCormick Reaper, sebuah bom dilemparkan ke arah polisi. Ledakan itu menewaskan beberapa polisi dan sipil, disusul tembakan balasan yang menewaskan dan melukai puluhan orang.
Delapan pemimpin buruh (kebanyakan berhaluan anarkis) ditangkap dan diadili. Meski bukti keterlibatan mereka lemah, empat orang dieksekusi mati pada 1887, satu bunuh diri di penjara, dan sisanya dipenjara.
Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu miscarriage of justice terbesar dalam sejarah Amerika. Tragedi Haymarket menjadi simbol pengorbanan buruh dan memicu gelombang solidaritas global.
Pada 1889, Kongres Sosialis Internasional Kedua di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk memperingati perjuangan di Chicago dan menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam secara universal.
Sejak 1890, May Day dirayakan secara massal di banyak negara sebagai hari aksi dan solidaritas pekerja sedunia. Ironisnya, Amerika Serikat sendiri lebih memilih merayakan Labor Day pada September untuk menghindari konotasi radikal dari May Day.
Di Indonesia, peringatan Hari Buruh sudah ada sejak era kolonial. Awalnya dimulai sekitar 1918-1920 oleh serikat buruh seperti Serikat Buruh Kung Tang Hwee.
Setelah kemerdekaan, pada 1946-1948, 1 Mei sempat diatur sebagai hari di mana buruh dibebaskan dari kewajiban kerja. Namun, selama Orde Baru, peringatan May Day dilarang karena dikaitkan dengan ideologi komunis pasca-G30S 1965.
Baru pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai hari libur nasional melalui Keppres. Saat ini, 1 Mei di Indonesia sering diisi dengan demonstrasi damai untuk menuntut upah layak, perlindungan pekerja, penghapusan outsourcing, dan keadilan sosial.
Makna Hari Buruh sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar libur atau demo. Hari ini mengingatkan bahwa hak-hak pekerja modern—seperti batas jam kerja, upah minimum, cuti, jaminan sosial, dan keselamatan kerja—bukan hadiah gratis, melainkan hasil perjuangan panjang yang penuh pengorbanan.
Di era digital dan gig economy saat ini, tantangan baru muncul: pekerja lepas tanpa perlindungan, diskriminasi, hingga otomatisasi yang mengancam lapangan kerja. Oleh karena itu, semangat 1 Mei tetap relevan untuk mendorong dialog antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah demi menciptakan hubungan industrial yang adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, 1 Mei disebut Hari Buruh karena tanggal ini menjadi saksi sejarah perlawanan terhadap eksploitasi dan lahirnya solidaritas internasional. Bukan untuk membenci pengusaha atau sistem, melainkan untuk mengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa tak lepas dari kontribusi para pekerja.