- Pasangan pengantin perlu menghitung porsi katering secara realistis guna menghindari kekurangan makanan dan menjaga kenyamanan tamu undangan.
- Strategi utama mencakup penggandaan jumlah undangan, penyediaan cadangan makanan, serta kombinasi menu prasmanan dengan berbagai pilihan stall makanan.
- Perencanaan katering yang matang membantu penyelenggara acara mencegah antrean panjang, menekan pemborosan anggaran, dan memastikan kelancaran resepsi pernikahan.
Suara.com - Di balik dekorasi megah dan gaun pengantin yang memukau, ada satu elemen yang diam-diam menjadi penentu sukses tidaknya sebuah pesta pernikahan: makanan. Sebab, tak sedikit resepsi yang meninggalkan kesan kurang menyenangkan hanya karena hidangan habis sebelum acara selesai.
Di era media sosial seperti sekarang, drama kekurangan catering bahkan bisa menjadi perbincangan publik yang merusak momen bahagia pasangan pengantin. Karena itu, menghitung porsi catering bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan bagian penting dari strategi penyelenggaraan pesta.
Perencanaan yang matang dapat membantu calon mempelai menghindari antrean panjang, tamu kecewa, hingga pemborosan anggaran.
Mengapa Perhitungan Catering Sangat Penting?
Banyak pasangan masih menganggap jumlah undangan sama dengan jumlah tamu yang hadir. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam pesta pernikahan, satu undangan sering kali datang bersama pasangan, keluarga, atau kerabat lain.
Kesalahan menghitung kebutuhan makanan bisa berujung fatal. Ketika menu favorit habis di tengah acara, tamu bukan hanya merasa kecewa, tetapi juga membawa pulang kesan kurang baik terhadap keseluruhan pesta.
Karena itulah, perhitungan catering harus dilakukan secara realistis dan terukur sejak awal.
Agar pesta berjalan aman tanpa drama kekurangan makanan, ada beberapa strategi yang umum digunakan oleh vendor profesional.
1. Gunakan Aturan Dua Kali Lipat
Langkah paling mendasar adalah mengalikan jumlah undangan dengan dua. Jika pasangan menyebar 500 undangan, maka estimasi tamu yang perlu disiapkan adalah sekitar 1.000 orang.
Strategi ini dianggap paling aman karena sebagian besar tamu biasanya datang tidak sendirian.
2. Tambahkan Cadangan 5–10 Persen
Selain tamu undangan, ada banyak pihak lain yang juga perlu diperhitungkan, mulai dari keluarga besar, panitia acara, fotografer, videografer, hingga tim wedding organizer.
Karena itu, menambahkan cadangan sekitar 5–10 persen dari total estimasi menjadi langkah penting agar tidak ada pihak yang terlewat.
3. Kombinasikan Buffet dan Stall
Menggabungkan prasmanan utama dengan stall atau gubukan makanan kini menjadi strategi populer dalam pesta modern. Selain membuat pilihan menu lebih variatif, sistem ini juga efektif mengurangi penumpukan antrean.
Kehadiran stall membantu distribusi makanan tetap merata hingga akhir acara, sehingga tamu yang datang lebih belakangan tetap bisa menikmati hidangan dengan nyaman.
Perhitungan Realistis Jadi Kunci Ketenangan Pengantin
CEO Nendia Primarasa, Resti Nendia, menilai bahwa perhitungan catering yang tepat bukan sekadar soal angka, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para tamu yang hadir.
“Perhitungan catering yang tepat bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bentuk penghormatan kita kepada tamu yang hadir. Kami di Nendia Primarasa selalu mengedepankan hitung catering wedding yang realistis dan terukur, agar pasangan bisa menikmati hari bahagianya tanpa perlu merasa cemas akan kekurangan hidangan di tengah acara,” ujar Resti Nendia.
Menurutnya, vendor catering profesional seharusnya tidak hanya menjual makanan, tetapi juga membantu calon pengantin memahami manajemen risiko dalam sebuah resepsi.
Di kota besar seperti Jakarta, memilih vendor catering kini menjadi keputusan strategis. Pengalaman vendor dalam mengatur ritme distribusi makanan dan menghitung kebutuhan tamu sangat menentukan kelancaran acara.
Vendor profesional biasanya tidak hanya menawarkan paket menu, tetapi juga membantu menyusun simulasi kebutuhan porsi, pola pelayanan, hingga cadangan makanan berdasarkan karakter tamu undangan.
Dengan sistem perencanaan yang matang, pasangan pengantin dapat menekan risiko pemborosan sekaligus menghindari mimpi buruk kekurangan makanan saat pesta berlangsung.