- Clara Hsu dari Synology meluncurkan sistem penyimpanan data all-flash NVMe PAS7700 di Jakarta pada 25 Mei 2026.
- Inovasi ini bertujuan mendukung perusahaan Indonesia mengelola beban kerja data masif akibat adopsi AI dan otomatisasi.
- PAS7700 dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional serta mengoptimalkan total biaya kepemilikan infrastruktur digital bagi sektor enterprise.
Suara.com - Di tengah derasnya perkembangan artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan digitalisasi di berbagai sektor, perusahaan kini menghadapi tantangan baru: lonjakan data dalam skala besar yang terus meningkat setiap hari. Menariknya, isu yang dulu identik dengan ruang server dan tim IT kini mulai berdampak langsung pada ritme bisnis sehari-hari.
Hal inilah yang menjadi sorotan Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology, dalam peluncuran sistem penyimpanan data terbaru Synology PAS7700 di Jakarta, 25 Mei 2026 lalu.
Menurut Clara, transformasi digital bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan bisnis yang menentukan seberapa cepat perusahaan bisa berkembang dan beradaptasi.
“Perusahaan di Indonesia kini semakin aktif mengadopsi teknologi seperti AI dan otomatisasi sistem. Akibatnya, beban kerja pada pusat data internal perusahaan meningkat secara signifikan,” ujar Clara.
Ia menilai, di era bisnis yang semakin bergantung pada data, gangguan kecil pada sistem bisa berdampak besar terhadap operasional perusahaan.
“Lambatnya akses data atau gangguan sistem dapat menghambat laju pertumbuhan bisnis,” lanjutnya.
Pernyataan Clara menggambarkan bagaimana perubahan gaya kerja modern kini membuat data menjadi “urat nadi” baru bagi banyak industri. Mulai dari sektor keuangan, kesehatan, retail, manufaktur, hingga perusahaan kreatif, semuanya kini membutuhkan sistem yang mampu bekerja cepat tanpa henti.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Synology meluncurkan PAS7700, sistem penyimpanan data all-flash NVMe pertama mereka dengan arsitektur aktif-aktif untuk kebutuhan enterprise berskala besar.
Meski terdengar teknis, tujuan utamanya sederhana: memastikan perusahaan tetap bisa berjalan lancar di tengah ledakan data era AI.
“PAS7700 hadir sebagai jawaban langsung kami bagi berbagai industri di Indonesia yang ingin memperbarui infrastruktur yang sudah ada agar mampu mengikuti kebutuhan pengelolaan data yang terus meningkat pesat,” kata Clara.
Ia menjelaskan, perangkat ini dirancang agar pemrosesan data berskala besar dan aplikasi berbasis AI bisa terus berjalan selama 24 jam tanpa gangguan.
Selain soal performa, isu efisiensi juga menjadi perhatian penting. Di tengah pertumbuhan data yang semakin masif, banyak perusahaan mulai menghadapi biaya infrastruktur digital yang terus membengkak.
Karena itu, PAS7700 juga dilengkapi teknologi yang memungkinkan penyimpanan data menjadi lebih hemat dan efisien, termasuk fitur deduplikasi data hingga sistem pemindahan arsip otomatis ke ruang penyimpanan berbiaya lebih rendah.
Sementara itu, Executive Vice President Synology NAS Group, Bie-i Chu, menilai perkembangan teknologi AI membuat perusahaan kini membutuhkan sistem penyimpanan yang bukan hanya cepat, tetapi juga stabil untuk jangka panjang.
Menurutnya, PAS7700 lahir dari pengalaman panjang Synology selama lebih dari 25 tahun di industri penyimpanan data serta hasil kolaborasi langsung dengan pengguna enterprise.
“PAS7700 merupakan hasil dari pengalaman Synology selama lebih dari 25 tahun di industri penyimpanan data, serta kolaborasi erat dengan pengguna enterprise untuk memahami kebutuhan mereka terhadap performa dan skalabilitas,” ujar Bie-i Chu.
Ia juga menyebut perangkat tersebut telah melewati proses validasi nyata selama satu tahun melalui program proof-of-concept sebelum akhirnya resmi diperkenalkan ke pasar.
“PAS7700 telah terbukti andal di lapangan sekaligus membantu pengguna mengoptimalkan total biaya kepemilikan atau Total Cost of Ownership (TCO),” lanjutnya.
Di balik peluncuran teknologi ini, kehadiran Clara sebagai pemimpin perempuan di industri teknologi juga menjadi sorotan tersendiri. Di sektor yang masih didominasi laki-laki, ia membawa perspektif bahwa transformasi digital bukan hanya soal perangkat canggih, tetapi juga tentang bagaimana teknologi bisa membantu bisnis bergerak lebih adaptif dan berkelanjutan.