“Aku juga sebagai sulung tuh belum bisa dapet tempat untuk berehat. Pas sampai di sana ternyata kita bisa sharing yang benar-benar relate dengan Persulungan ini,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Dinni. Ia mengaku menemukan ruang yang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
“Selama ini jadi anak sulung tuh juga nggak ada tempat cerita, jadi ini adalah tempat yang nyaman dan aman untuk bercerita tanpa harus dihakimi,” katanya.
Melalui komunitas ini, Hendika dan para pengurus berharap semakin banyak anak sulung yang memiliki ruang aman untuk berbagi cerita, saling mendukung, dan bertumbuh bersama. Informasi mengenai kegiatan Persulungan dapat diakses melalui akun Instagram @per.sulung.an.
Dari obrolan sederhana tiga anak sulung, lahirlah ruang yang kini mempertemukan ribuan orang dengan pengalaman serupa. Persulungan mengingatkan saya bahwa menjadi anak sulung mungkin tidak selalu mudah, tetapi ternyata tidak harus dijalani sendirian.
Penulis: Natasha Suhendra