- Berbagai mitos tentang Bulan Suro mencuat saat memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 pada Selasa, 16 Juni 2026.
- Buya Yahya menegaskan bahwa bulan Muharram bukanlah bulan sial, melainkan bulan suci penuh rahmat.
- Umat Islam diimbau meningkatkan ibadah dan amal saleh untuk menguatkan tauhid serta menghindari kepercayaan mitos yang keliru.
Suara.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Momentum ini pun menandai awal Bulan Suro.
Memasuki pergantian tahun baru Islam atau yang akrab disapa masyarakat Jawa sebagai Bulan Suro, berbagai mitos seputar kesakralan bulan ini kembali mencuat.
Banyak sebagian dari kita yang masih memegang erat tradisi larangan menikah, menggelar hajatan besar, hingga pindah rumah di bulan ini karena takut tertimpa sial.
Anggapan bahwa Bulan Suro adalah bulan yang keramat dan penuh kesialan seolah sudah mendarah daging dalam tradisi kebudayaan tertentu.
Namun, benarkah Bulan Suro sekeramat itu dalam pandangan agama? Bagaimana umat Islam seharusnya menyikapi fenomena ini agar tidak terjebak dalam lingkaran syirik?
Pandangan Buya Yahya

Mitos seputar Bulan Suro pembawa sial sering kali memicu kecemasan tersendiri saat ingin menggelar hajatan besar.
Menanggapi fenomena budaya ini, pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan penjelasan tegas yang menenangkan hati umat.
"Suro itu bukan malapetaka, justru kebalikannya bulan penuh rahmat," ungkap sang pendakwah dilihat dari video YouTube Buya Yahya.
Beliau menjelaskan bahwa kalender Islam memiliki sistem waktu yang suci, di mana tidak ada ruang bagi takhayul pembawa nasib buruk.
"Bulan Allah ada 12, empat adalah Asyhurul Hurum, termasuk salah satunya Muharram (Suro). Bulan yang dimuliakan, bukan bulan petaka," lanjutnya.
Ulama kharismatik ini mengimbau agar kita tidak terjebak dalam prasangka buruk yang dapat merusak akidah harian kita. "Jangan percaya berita-berita (Suro bulan keramat). Itu adalah suudzon kepada Allah. Semuanya bulan baik," tegasnya.
Mengutip tuntunan resmi dari Muhammadiyah, pemaknaan Bulan Muharam atau Suro sebagai bulan pembawa sial adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan.
Dalam perspektif Islam, tidak ada satu pun hari atau bulan yang diciptakan Allah SWT sebagai pembawa kesialan (tathayyur).
Menolak mitos-mitos ini justru menjadi langkah krusial dalam menguatkan tauhid dan membersihkan akidah kita dari kepercayaan yang tidak berdasar.
Cara Menguatkan Tauhid di Bulan Muharram
Daripada memelihara rasa takut terhadap mitos yang tidak berdasar, ulama mengajak umat Islam untuk mengisi bulan suci ini dengan berbagai amalan positif, di antaranya:
- Meningkatkan Puasa Sunah: Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, khususnya puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
- Memperbanyak Amal Saleh: Mengingat pahala ibadah dilipatgandakan, perbanyaklah sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berzikir.
- Meninggalkan Maksiat: Di bulan haram, dosa dari perbuatan maksiat dan kezaliman juga akan dihitung lebih berat. Oleh karena itu, bulan ini menjadi momen terbaik untuk bertobat dan memperbaiki diri.