- Pemerintah Indonesia menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028 mendatang.
- ETS melakukan transformasi pada TOEFL iBT untuk memberikan pengalaman belajar fleksibel yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
- TOEFL iBT telah diterima oleh 13.000 institusi global untuk mengukur kemampuan komunikasi akademik dan profesional para calon pelajar.
Suara.com - Belajar bahasa Inggris kini tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah. Bagi banyak pelajar, kemampuan berbahasa Inggris telah menjadi salah satu modal penting untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, mengikuti program pertukaran pelajar, memperoleh beasiswa, hingga membangun karier di perusahaan multinasional.
Kebutuhan tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Di Indonesia, pemerintah bahkan menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa internasional semakin dipandang sebagai bekal penting untuk menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Di saat yang sama, cara pelajar mempersiapkan diri juga berubah. Mereka tidak hanya mencari materi belajar yang efektif, tetapi juga menginginkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan dekat dengan kebiasaan digital.
Perubahan karakter pelajar inilah yang mendorong berbagai penyelenggara tes kemampuan bahasa Inggris ikut bertransformasi. Salah satunya dilakukan oleh TOEFL iBT, yang baru-baru ini memperkuat posisinya sebagai "The World's English Test" melalui pembaruan pengalaman tes sekaligus berbagai program pendukung bagi calon peserta.
Global General Manager TOEFL di ETS, Omar Chihane, mengatakan transformasi tersebut dilakukan agar TOEFL tidak hanya menjadi alat ukur kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga mampu mendampingi perjalanan belajar pelajar menuju pendidikan dan karier internasional.
"Tujuan kami adalah dan akan terus memastikan bahwa pengalaman TOEFL selaras dengan kebutuhan para pelajar serta masa depan yang tengah mereka persiapkan. Pelajar masa kini mengharapkan fleksibilitas, autentisitas, dan dukungan sepanjang perjalanan mereka," ujar Omar.
Menurutnya, perkembangan teknologi, pembelajaran digital, hingga perubahan dunia kerja membuat penyelenggara tes perlu menghadirkan pendekatan yang lebih relevan tanpa mengurangi standar akademik yang selama ini menjadi acuan berbagai universitas di dunia.
Belajar Tak Lagi Terbatas di Ruang Kelas
Menyesuaikan perubahan tersebut, TOEFL kini memperluas cara berinteraksi dengan pelajar. Tidak hanya melalui materi persiapan tes, tetapi juga lewat media sosial, kreator konten, musik, hingga komunitas belajar.
Salah satunya melalui kampanye global "Learn It. Take It. Review It." yang melibatkan 25 kreator dari berbagai negara, termasuk kreator Indonesia, Khansa Khalisha. Melalui konten kesehariannya, Khansa membagikan pengalaman mempersiapkan diri hingga mengikuti TOEFL iBT.
TOEFL juga menghadirkan berbagai inisiatif lain seperti "You Speak World", lagu dan video musik yang mengangkat semangat pelajar global, "Future Me Calling", playlist belajar berbasis riset neuromarketing untuk membantu meningkatkan fokus, hingga Tina, Chief Student Ambassador virtual yang membagikan tips belajar dan informasi studi luar negeri melalui media sosial.
Untuk membantu pelajar memahami proses penyusunan tes, TOEFL juga menghadirkan TOEFL Talks, serial di YouTube yang membahas bagaimana setiap bagian tes dirancang agar mencerminkan kemampuan komunikasi akademik yang dibutuhkan di dunia nyata.
Pengalaman Belajar yang Lebih Dekat dengan Pelajar Indonesia
Upaya tersebut juga diperkuat melalui penyelenggaraan TOEFL Experience Day di Jakarta. Acara ini menghadirkan guru, konselor pendidikan, institusi, dan mitra pendidikan untuk mengenal lebih dekat fitur-fitur terbaru TOEFL iBT melalui sesi interaktif.
Di sisi lain, riset ETS menunjukkan penggunaan materi persiapan resmi turut berpengaruh terhadap hasil tes. Sebanyak 18 persen peserta yang menggunakan materi resmi melaporkan memperoleh skor lebih tinggi dari perkiraan, lebih besar dibandingkan peserta yang menggunakan sumber belajar lain.
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh Sahari Machyuddin, peserta TOEFL iBT yang bekerja di perusahaan multinasional. Menurutnya, format tes terasa dekat dengan situasi komunikasi yang dijumpai dalam pekerjaan sehari-hari.
"Saya memilih TOEFL iBT karena menurut saya tes ini lebih natural dan praktis. Beberapa bagian tes seperti menulis email, berdiskusi dalam rapat, hingga menjelaskan sesuatu dalam wawancara sangat mirip dengan aktivitas yang saya lakukan setiap hari di kantor," katanya.
Saat ini, TOEFL iBT telah diterima oleh lebih dari 13.000 institusi pendidikan di lebih dari 160 negara dan wilayah. Dengan semakin terbukanya akses pendidikan internasional dan meningkatnya kebutuhan akan talenta global, kemampuan bahasa Inggris diperkirakan akan menjadi salah satu kompetensi yang semakin penting dimiliki pelajar Indonesia.