- Status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda resmi meningkat menjadi Siaga (Level III) pada awal Juli 2026.
- Peningkatan aktivitas vulkanik memicu risiko erupsi, hujan abu, hingga potensi tsunami akibat keruntuhan lereng gunung tersebut.
- PVMBG menerapkan radius aman tiga kilometer dan mengimbau masyarakat pesisir waspada terhadap ancaman bencana gunung api aktif.
Ini merupakan ancaman utama. Gunung ini dibangun di lereng curam kaldera 1883 dengan material lepas. Seperti 2018, longsoran flank bisa memicu tsunami cepat.
Model menunjukkan gelombang bisa mencapai 15-30 meter di pulau-pulau terdekat dan 1-3 meter di pantai Jawa-Sumatra dalam waktu 30-60 menit. Pantai padat penduduk seperti Merak, Anyer, dan Bandar Lampung berisiko tinggi.
3. Aliran Piroklastik dan Lahar
Aliran awan panas (suhu ratusan derajat) bisa menyapu lereng dan mencapai laut. Hujan lebat pasca-erupsi bisa memicu lahar yang mengancam sungai-sungai di sekitar.
4. Dampak Lokal dan Regional
Gempa vulkanik, hujan abu tebal, dan kegelapan sementara. Wilayah Selat Sunda yang ramai dengan kapal dan wisatawan akan terganggu. Pulau-pulau kecil di sekitar (Rakata, Panjang, Sertung) bisa terdampak langsung.
5. Dampak Global (Jika Besar)
Letusan skala VEI 5+ bisa menyuntikkan aerosol ke stratosfer, menyebabkan pendinginan sementara dan perubahan cuaca, mirip 1883.
Namun, Anak Krakatau saat ini lebih kecil, sehingga kemungkinan letusan super besar rendah dalam waktu dekat.
Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau dengan seismograf, webcam, dan satelit. Radius larangan mendekat saat ini 3 km dari kawah saat Level III.
Sistem peringatan dini tsunami telah ditingkatkan pasca-2018, meski tantangan tetap ada karena tsunami vulkanik bisa datang tanpa gempa tektonik besar.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau memahami jalur evakuasi, mendengarkan peringatan BMKG/PVMBG, dan tidak mendekati kawasan bahaya.
Penelitian menunjukkan pertumbuhan cepat Anak Krakatau pasca-2018 membuatnya rentan runtuh lagi dalam beberapa dekade jika aktivitas berlanjut.
Pada intinya, letusan Anak Krakatau bisa menjadi ancaman berantai karena memicu longsor, tsunami, dan kerusakan pesisir. Meski erupsi rutin relatif terkendali, potensi bencana seperti 1883 atau 2018 mengingatkan kita pada kekuatan alam yang tak terduga.