Suara.com - Kebiasaan sederhana saat mandi, seperti menggunakan sampo dua kali atau terlalu sering mematikan dan menyalakan pancuran, ternyata dapat membuat seseorang menghabiskan lebih banyak air.
Studi terbaru dari para peneliti University of Surrey menemukan bahwa aktivitas mandi menyumbang sekitar 25-45 persen dari total penggunaan air di dalam rumah. Angka tersebut menjadikan pancuran sebagai salah satu penyumbang terbesar konsumsi air rumah tangga.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Management itu melibatkan 319 rumah tangga di Jerman. Para peneliti memasang sensor pintar di kamar mandi selama 40 hari dan merekam 8.550 aktivitas mandi.
Dikutip dari Phys.org, Kamis (31/7), sensor tersebut mencatat durasi mandi, jeda aliran air, serta kondisi lingkungan. Data kemudian dipadukan dengan survei setelah mandi untuk melihat hubungan antara kebiasaan mandi dengan karakteristik responden dan penggunaan produk perawatan tubuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang menggunakan sampo dua kali atau lebih dalam satu kali mandi menghabiskan waktu sekitar 27 persen lebih lama di bawah pancuran dibandingkan mereka yang menggunakan sampo sekali.
Kebiasaan mematikan dan kembali menyalakan pancuran juga berkaitan dengan durasi mandi yang lebih panjang. Mereka yang menghentikan aliran air tiga kali atau lebih menghabiskan waktu sekitar 20 persen lebih lama dibandingkan orang yang tidak melakukan jeda.
Pablo Pereira-Doel, salah satu penulis studi sekaligus peneliti di Institute for Sustainability, University of Surrey, mengatakan faktor yang paling menentukan lama mandi bukan terutama siapa seseorang atau tempat tinggalnya, melainkan kebiasaan selama berada di bawah pancuran.
"Rutinitas kecil seperti mengoleskan sampo dua kali atau membiarkan air mengalir saat mengoleskan sabun dapat memperpanjang waktu mandi jauh lebih lama daripada yang disadari," katanya.
Peneliti juga menemukan kondisi air berpengaruh terhadap durasi mandi. Orang yang tinggal di wilayah dengan air lebih lunak cenderung mandi sekitar 23 persen lebih lama dibandingkan mereka yang menggunakan air dengan kandungan kapur tinggi.
Kondisi tersebut diduga karena air yang lebih lunak dapat menghasilkan lebih banyak busa sehingga pengalaman mandi terasa lebih nyaman.
Para peneliti berharap temuan ini dapat menjadi dasar untuk merancang strategi penghematan air yang lebih efektif. Menurut mereka, upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan teknologi atau kebijakan, tetapi juga perlu mendorong perubahan perilaku.
Penggunaan sampo secukupnya, mematikan air saat mengoleskan sabun, serta penggunaan perangkat yang memberikan informasi tentang konsumsi air dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Jika kita ingin mengurangi konsumsi air rumah tangga, kita perlu merancang solusi yang selaras dengan kebiasaan masyarakat,” ujar Pereira-Doel.