- Sejak 2024, kunjungan pasien asal Indonesia ke SL Aesthetic Clinic di Singapura meningkat sekitar 30 persen.
- Dr. Kelvin Chua menyatakan penggunaan skincare berlebih tanpa pertimbangan medis dapat memicu iritasi dan masalah kulit.
- Klinik kecantikan di Singapura memanfaatkan analisis kulit berbasis AI guna mendukung evaluasi medis secara objektif.
Suara.com - Kulit glowing mungkin masih menjadi dambaan banyak perempuan Indonesia. Namun, standar kecantikan perlahan bergeser. Jika dulu perawatan estetika identik dengan keinginan terlihat lebih muda, putih, atau mengubah bentuk wajah, kini semakin banyak perempuan yang justru ingin memiliki kulit yang sehat, kuat, dan terlihat natural.
Perubahan ini turut terlihat dari meningkatnya pasien Indonesia yang mencari perawatan kulit di Singapura. Dr. Kelvin Chua, Senior Medical Director sekaligus Founder SL Aesthetic Clinic di Singapura, mengatakan jumlah pasien Indonesia di kliniknya meningkat sekitar 30 persen sejak 2024.
“Sebagian besar pasien Indonesia kami datang dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Banyak yang awalnya datang karena jerawat yang terus muncul dan tidak membaik meskipun sebelumnya sudah menjalani perawatan atau menggunakan skincare,” ujar Dr. Kelvin kepada Suara.com dalam wawancara tertulis.
Menariknya, setelah menjalani pemeriksaan lebih menyeluruh, tidak sedikit pasien yang ternyata bukan sekadar mengalami jerawat. Kondisi seperti skin barrier yang terganggu atau rosacea dapat menimbulkan tampilan kemerahan dan bruntusan yang sekilas menyerupai jerawat.
Ketika Terlalu Banyak Skincare Justru Jadi Masalah
Fenomena ini cukup relate dengan kebiasaan perempuan masa kini yang gemar mencoba berbagai produk skincare. Mulai dari retinol, vitamin C, AHA, BHA, hingga berbagai teknik layering dan skin cycling.
Menurut Dr. Kelvin, masalahnya bukan pada penggunaan banyak produk semata, melainkan ketika bahan aktif digunakan terlalu banyak atau diperkenalkan terlalu cepat tanpa mempertimbangkan kondisi kulit.
“Retinol adalah bahan yang sangat efektif untuk mengatasi jerawat dan tanda-tanda penuaan. Tapi jika diperkenalkan terlalu cepat atau digunakan terlalu sering, retinol dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi, terutama bagi mereka yang memiliki kulit kering dan sensitif,” jelasnya.
Pada kulit Asia, termasuk perempuan Indonesia, persoalan tersebut juga perlu mendapat perhatian lebih. Produksi melanin yang relatif tinggi membuat kulit lebih rentan mengalami post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yaitu noda gelap yang muncul setelah peradangan seperti jerawat.
Ditambah iklim tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun, bekas jerawat pada kulit perempuan Indonesia bisa membutuhkan waktu cukup lama untuk memudar. Karena itu, penggunaan sunscreen menjadi bagian penting dari perawatan kulit, terutama ketika menggunakan bahan aktif tertentu.
Teknologi Membantu Melihat Masalah yang Tak Kasatmata
Di tengah semakin kompleksnya kebutuhan perawatan kulit, teknologi mulai memainkan peran penting dalam dunia estetika Singapura. Salah satunya melalui penggunaan AI-powered skin analysis untuk membantu dokter mendapatkan gambaran kondisi kulit secara lebih objektif.
Dr. Kelvin mengatakan teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi masalah yang sulit terlihat dengan mata telanjang, seperti pigmentasi tersembunyi maupun kerusakan kulit akibat paparan sinar UV.
“Penggunaan teknologi ini memberikan kami gambaran dasar yang lebih objektif tentang kondisi kulit pasien, sehingga dapat membantu kami memantau perubahan dari waktu ke waktu dan memahami lebih baik masalah kulit mana yang perlu diprioritaskan,” katanya.
Namun, kecanggihan teknologi bukan berarti AI dapat menggantikan dokter.
“AI dirancang untuk membantu, namun tidak menggantikan proses perencanaan perawatan. Penilaian medis adalah sesuatu yang hanya bisa diberikan melalui evaluasi dokter,” tegas Dr. Kelvin.
Artinya, teknologi lebih berperan sebagai alat bantu untuk memberikan informasi tambahan sebelum dokter menentukan langkah perawatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Tren Kecantikan Bergeser ke Hasil yang Lebih Natural
Perubahan lain yang diamati Dr. Kelvin adalah tujuan pasien saat menjalani perawatan estetika. Dibandingkan lima tahun lalu, pasien kini dinilai lebih berhati-hati terhadap perubahan wajah yang terlalu drastis.
Mereka lebih banyak mencari perawatan minimal invasif yang dapat membantu menjaga kualitas kulit dan merangsang produksi kolagen alami, tanpa membuat wajah kehilangan karakter aslinya.
“Banyak dari mereka yang lebih tertarik untuk menjaga kesehatan kulit, menua dengan baik, dan mendapatkan hasil yang terlihat alami yang bersifat menyempurnakan, tanpa mengubah penampilannya secara berlebihan,” ujarnya.
Pandangan terhadap warna kulit juga mulai berubah. Jika kulit putih pernah menjadi standar kecantikan yang sangat kuat, kini semakin banyak perempuan yang justru berfokus pada kulit yang sehat dan tangguh, tanpa harus mengubah warna alami kulitnya.
Kenapa Perempuan Indonesia Melirik Singapura?
Selain jaraknya relatif dekat, faktor regulasi dan standar keselamatan menjadi salah satu pertimbangan pasien Indonesia ketika memilih perawatan di Singapura.
Sistem kesehatan Singapura berada di bawah pengawasan Ministry of Health (MOH) dan Health Sciences Authority (HSA), dengan standar terkait penggunaan alat medis, protokol klinis, dan keselamatan pasien.
Namun bagi Dr. Kelvin, kepercayaan pasien tidak hanya dibangun melalui teknologi atau regulasi. Konsultasi yang menyeluruh, pengalaman dokter, perencanaan perawatan yang personal, serta pemantauan setelah tindakan juga menjadi bagian penting.
Pasien pun disarankan tidak langsung mengikuti treatment yang sedang viral. Sebelum menjalani laser, skin booster, injeksi, atau prosedur lainnya, kondisi kulit dan riwayat kesehatan perlu diperiksa terlebih dahulu.
“Perawatan yang tepat harus selalu didasarkan pada diagnosis yang akurat dan kebutuhan kulit setiap individu, bukan pada tren yang sedang populer,” kata Dr. Kelvin.
Dalam lima tahun ke depan, Dr. Kelvin memperkirakan perawatan estetika akan semakin bergerak ke arah preventive skin health dan personalized treatment.
Alih-alih menunggu tanda penuaan muncul lalu memperbaikinya, semakin banyak orang diperkirakan akan mulai merawat kualitas kulit sejak lebih dini. Teknologi juga akan terus berkembang untuk membantu dokter memahami kondisi kulit secara lebih detail.
Salah satu bidang yang dinilai menjanjikan adalah regenerative aesthetics, yaitu pendekatan yang memanfaatkan proses biologis alami tubuh untuk mendukung produksi kolagen dan pemulihan jaringan kulit.
Pada akhirnya, definisi cantik mungkin memang sedang berubah. Bukan lagi soal seberapa banyak treatment yang dilakukan atau seberapa drastis perubahan wajah setelah perawatan, melainkan bagaimana seseorang bisa mempertahankan kulit yang sehat, terawat, dan tetap terlihat seperti dirinya sendiri.
Dan bagi perempuan Indonesia yang hidup di tengah iklim tropis, paparan UV tinggi, serta derasnya tren skincare di media sosial, pendekatan tersebut terasa semakin relevan: kenali kulitnya, pahami kebutuhannya, lalu pilih perawatan berdasarkan kondisi, bukan sekadar karena sedang viral.