- Sepatu adidas Hyperboost Edge seharga Rp3.500.000 memadukan teknologi midsole Hyperboost Pro, upper PRIMEWEAVE, dan outsole LIGHTTRAXION.
- Dokter Tirta menguji sepatu lari tersebut sejauh 8 kilometer dan menilai karakternya sangat nyaman serta agresif.
- Sepatu ini dinilai lebih cocok digunakan untuk sesi lari jarak jauh dengan kecepatan tinggi.
Suara.com - adidas Hyperboost Edge menjadi salah satu sepatu yang menarik perhatian karena menawarkan bantalan maksimal dan pengembalian energi dalam desain yang ditujukan untuk mendukung performa.
Karakter tersebut membuat Hyperboost Edge menarik bagi pelari yang menginginkan satu sepatu serbaguna untuk berbagai sesi, termasuk lari jarak jauh dengan kecepatan tinggi.
Pengalaman dokter sekaligus runner dr. Tirta melalui akun Instagram @dr.tirta turut memberikan gambaran mengenai karakter sepatu ini setelah digunakan berlari sejauh 8 kilometer.
Detail Sepatu Lari adidas Hyperboost Edge

adidas Hyperboost Edge merupakan sepatu lari yang menggunakan midsole Hyperboost Pro untuk memberikan bantalan sekaligus energi pada setiap langkah.
Sepatu ini menggabungkan tiga teknologi utama, yakni midsole Hyperboost Pro, upper PRIMEWEAVE, dan outsole LIGHTTRAXION.
Midsole Hyperboost Pro menjadi bagian yang paling ditonjolkan karena dirancang untuk memberikan cushioning sekaligus responsivitas ketika digunakan berlari. Teknologi tersebut dikembangkan dengan mengadaptasi teknologi midsole yang digunakan pada sepatu lari performa adidas.
Berbeda dari sepatu yang menggunakan carbon plate atau elemen penguat lainnya, Hyperboost Edge mengandalkan konstruksi busa yang dapat bergerak mengikuti pola langkah secara alami.
Bagian upper menggunakan material tenun PRIMEWEAVE yang dirancang memberikan fit nyaman sekaligus mendukung pergerakan kaki. Sepatu ini memiliki regular fit dengan sistem pengencangan menggunakan tali sepatu.
Sementara itu, outsole LIGHTTRAXION digunakan pada bagian bawah sepatu untuk mendukung traksi ketika digunakan berlari di permukaan jalan. Kombinasi upper, midsole, dan outsole tersebut membuat Hyperboost Edge dirancang untuk berbagai kebutuhan latihan.
Dari segi dimensi, Hyperboost Edge memiliki bobot sekitar 255 gram untuk ukuran UK 8,5. Sepatu ini mempunyai drop 6 mm dengan tinggi midsole 45 mm pada bagian tumit dan 39 mm pada bagian depan kaki.
Sepatu ini dibanderol dengan harga Rp3.500.000 dan hadir dalam kombinasi warna Cloud White, Pure Ruby, dan Zero Metallic.
Review Sepatu Lari adidas Hyperboost Edge dari Dr. Tirta

Spesifikasi produk memberikan gambaran mengenai teknologi yang digunakan, tetapi pengalaman langsung saat berlari dapat membantu melihat bagaimana karakter sepatu tersebut dalam penggunaan nyata. dr. Tirta menjadi salah satu runner yang membagikan pengalamannya setelah mencoba Hyperboost Edge untuk berlari.
Dikutip dari akun Instagram miliknya, dr. Tirta menyebut sepatu ini sangat viral dan banyak digunakan oleh runner.
Dari sisi tampilan, ia menilai warna Hyperboost Edge cukup menarik dan bahkan mengingatkannya pada salah satu colorway sepatu adidas yang pernah digunakannya.
“Ini sepatu yang happening sekali kawan-kawan semua. Warnanya ini mengingatkan colorway saya di Adidas Porsche Design,” kata dr. Tirta.
Namun, perhatian Dr. Tirta tidak hanya tertuju pada tampilan. Ia justru memberikan catatan penting mengenai ukuran sepatu yang digunakannya. Menurutnya, sizing Hyperboost Edge terasa berbeda dibandingkan Adizero SL.
Karena itu, persoalan ukuran menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon pengguna. dr. Tirta menyarankan pelari mencoba langsung sepatu sebelum membeli agar dapat menemukan ukuran yang sesuai dengan bentuk kaki.
Mengenai karakter sepatu, Dr. Tirta memberikan perbandingan dengan sejumlah model lain.
“Karakter menurutku lebih mirip sama Megablast dibandingkan SB3,” ujarnya.
Ia kemudian memberikan catatan mengenai karakter respons sepatu yang menurutnya cukup agresif.
Karakter tersebut membuatnya menilai Hyperboost Edge lebih sesuai untuk pelari yang ingin menggunakan satu sepatu untuk long run dengan kecepatan tinggi.
“Ini di atasnya, untuk long run tapi yang kenceng. Buat teman-teman yang speed-nya masih nanggung, saranku kalau pakai ini cukup hati-hati aja,” ujarnya.
Selain karakter midsole, ia menyoroti konstruksi bagian heel dan fit sepatu. Menurut dr. Tirta, bentuk tersebut memberikan karakter tersendiri dibandingkan sepatu pembanding yang ia gunakan.
Ia menjelaskan bahwa bagian heel Hyperboost Edge terasa lebih flat dibandingkan Superblast.
Catatan lain diberikan untuk pelari yang memiliki pola pendaratan kaki tertentu. dr. Tirta menjelaskan bahwa bagian tertentu pada sepatu terasa cukup firm sehingga berpotensi menimbulkan gesekan apabila kaki mendarat dengan pola yang kurang tepat.
Meski memberikan peringatan, ia tetap menilai bagian tersebut memiliki karakter yang mendukung performa. Ia bahkan menyarankan pelari dengan kondisi kaki atau pola pendaratan tertentu untuk melakukan antisipasi dengan tapping pada area yang dianggap rawan.
Material upper juga mendapat perhatian positif. Dr. Tirta menyebut konstruksinya memiliki karakter yang menyerupai mesh pada supershoes. “Ini mesh-nya tuh kayak mesh supershoes,” ujarnya.
Setelah mencoba Hyperboost Edge untuk berlari sekitar 8 kilometer, dr. Tirta memberikan penilaian yang cukup positif mengenai kenyamanannya.
“Memang nyaman dan agresif, jadi kayak pakai Megablast aja,” ujar dr. Tirta.
dr. Tirta juga melihat Hyperboost Edge dalam konteks perkembangan kategori super trainer yang semakin populer.
Kini semakin banyak pelari serius yang menginginkan satu sepatu untuk digunakan dalam berbagai jenis latihan. Jika sebelumnya pelari cenderung memisahkan sepatu untuk easy run, interval, dan race, kini kebutuhan tersebut mulai bergeser ke sepatu serbaguna dengan kemampuan mencakup berbagai sesi.
Hyperboost Edge menurutnya dapat masuk ke kebutuhan tersebut karena memiliki bantalan tinggi sekaligus karakter agresif. Ia juga menyoroti tinggi midsole sepatu yang mencapai 45 mm pada bagian belakang dan 39 mm di bagian depan.