Ketika Tubuh Berbicara: Pantomim dan Bahasa yang Melampaui Kata

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:07 WIB
Ketika Tubuh Berbicara: Pantomim dan Bahasa yang Melampaui Kata
Bagas Dharmawan dan Muhammad Angga Nurohman, Sosok di Balik Komunitas Remime (dok.pribadi/Chairun Nisa)

Suara.com - Tangan Fadhl bergerak di depan dada. Tubuhnya mengikuti, wajahnya berubah-ubah, sementara mulutnya tetap diam. Di tengah ramainya Taman Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu sore itu, sekelompok orang tampak sibuk memperagakan sesuatu. Ada yang berjalan, berhenti, lalu menggerakkan tubuh dengan ekspresi yang membuat saya penasaran.

Saya menghampiri mereka. Kebetulan, sore itu saya memang punya janji dengan seorang pegiat pantomim. Salah seorang dari mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai Fadhl.

“Ini kalau mau tahu tentang Remime, nanti ada teman saya, namanya Bagas sama Angga. Mereka lebih paham soalnya. Bentar lagi orangnya datang,” kata Fadhl.

Tak lama kemudian, Bagas dan Angga datang. Kami akhirnya duduk di atas rerumputan. Di tengah suara orang bermain bola dan aktivitas pengunjung taman lainnya, obrolan tentang pantomim dimulai.

Bagi sebagian orang, pantomim mungkin masih identik dengan wajah yang dicat putih, pakaian bergaris, serta gerakan seolah-olah sedang menyentuh tembok yang tidak terlihat.

Namun bagi Muhammad Angga Nurohman, pegiat komunitas Remime, pantomim jauh lebih dari sekadar pertunjukan tanpa suara.

Ia justru melihat ketiadaan suara sebagai kekuatan.

Ketika kata-kata tidak lagi diperlukan

Angga pernah merasakan sendiri bagaimana gerakan tubuh dapat menggantikan bahasa verbal. Pengalaman itu terjadi ketika ia mengajar pantomim di sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk bertemu dengan siswa penyandang tuli.

baca juga

Pada awalnya, Angga kebingungan. Ia tidak cukup menguasai bahasa isyarat. Sementara itu, siswa yang dia hadapi memiliki keterbatasan dalam mendengar dan berbicara.

Ada jarak komunikasi yang harus dijembatani. Namun pantomim justru memberikan jalan keluar.

“Mereka ini tuli, gak bisa dengar dan bicara. Awalnya bingung, gimana ini komunikasinya. Tapi, inget kalau pantomim kan juga gak ngomong, ya. Akhirnya diakalin pakai gerakan sama ekspresi,” kata Angga.

Gerakan tangan, perubahan ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang selama ini menjadi bagian dari pertunjukan pantomim berubah menjadi alat komunikasi.

Tidak ada kalimat yang perlu diterjemahkan. Tidak ada bahasa yang harus disamakan. Tubuh menjadi bahasanya.

Pengalaman serupa terjadi ketika Angga bertemu dengan seniman pantomim asal Jepang, Naoki Nagai. Mereka tidak berbicara dalam bahasa ibu yang sama. Komunikasi verbal pun akhirnya terputus.

Tetapi pertemuan itu tidak berhenti di sana.

“Terputuslah komunikasi kita secara verbal. Tapi, karena kita sama-sama dari komunitas pantomim, dia seorang seniman pantomim, jadilah kita ngobrol pake bahasa pantomim,” ujar Angga.

Bagas yang ikut dalam percakapan itu kemudian tertawa. Komunikasi yang bermula dari gerakan bahkan berlanjut menjadi kegiatan bersama.

“Akhirnya bisa makan duren bareng,” katanya.

Cerita itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi Angga, pengalaman tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih besar, manusia bisa memahami satu sama lain tanpa selalu membutuhkan kata-kata.

Pantomim yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak kecil

Angga kemudian mengajak saya melihat pantomim dari sudut pandang yang berbeda. Menurut dia, manusia sebenarnya sudah berpantomim jauh sebelum mengenal bahasa.

Seorang bayi yang belum bisa berbicara, misalnya, akan menggerakkan tangan ketika menginginkan sesuatu. Ekspresi wajah berubah ketika merasa senang atau tidak nyaman.

Gerakan-gerakan itu menjadi cara untuk menyampaikan pesan.

“Tanpa sadar kita tuh sudah berpantomim sejak kecil loh. Intinya pantomim itu udah kita lakuin dari gerakan sehari-hari,” jelasnya.

Karena itu, bagi Angga, pantomim merupakan salah satu bentuk komunikasi paling tua. Tubuh menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, emosi, bahkan cerita.

Mengapa wajah pantomim dicat putih?

Dari pembicaraan itu, saya kemudian penasaran dengan satu hal yang sejak lama melekat pada gambaran tentang pantomim: wajah putih.

Angga menjelaskan, riasan tersebut bukan kewajiban dalam setiap pertunjukan pantomim. Fungsinya lebih kepada kebutuhan panggung—membantu penonton menangkap ekspresi pemain, terutama dari jarak jauh.

“Biar penonton tuh lebih keliatan ekspresi kita,” katanya.

Riasan biasanya dilengkapi dengan alis yang dipertegas dan warna merah pada bibir. Tujuannya sama: membuat perubahan ekspresi lebih mudah terbaca oleh penonton.

Begitu pula dengan pakaian bergaris yang kerap diasosiasikan dengan pemain pantomim.

Menurut Bagas, motif tersebut memiliki sejarah yang berkaitan dengan perlawanan terhadap pembungkaman.

“Awalnya mereka itu dibungkam. Lalu mereka break the rule dengan memakai baju bergaris yang menyerupai seragam tahanan. Walaupun terkukung, mereka tetap melawan,” jelasnya.

Di atas panggung, pakaian bergaris juga membantu membuat gerakan tubuh pemain lebih mudah terlihat.

Membuat benda yang tidak ada menjadi nyata
Tetapi kemampuan berkomunikasi tanpa kata bukan berarti pantomim mudah dilakukan.

Justru sebaliknya. Seorang pemain pantomim harus mampu membuat penonton percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Tembok. Cermin. Tali. Tangga.

Semua harus tampak nyata meski tidak pernah benar-benar hadir di atas panggung.

Karena itu, menurut Angga, kemampuan tersebut tidak bisa diperoleh hanya dengan menghafalkan gerakan. Kuncinya adalah latihan.

“Kita gak bisa menyampaikan sesuatu kalau kita sendiri belum pernah mencobanya, atau seenggaknya pernah lihat deh,” katanya.

Latihan bahkan tidak selalu berlangsung di ruang latihan.

Kegiatan sehari-hari bisa menjadi bahan belajar. Cara seseorang berjalan. Cara memegang gelas. Gerakan ketika minum. Cara mengangkat barang.

Semua diamati. Kemudian diulang. Terus-menerus.

“Latihannya bisa dari kegiatan sehari-hari aja. Misal minum, gimana sih gerakan minum, diulang-ulang aja terus nanti lama-lama otot bakal refleks dan jadi terbiasa deh,” ujar Angga.

Dari rerumputan Taman Menteng sore itu, pantomim yang semula saya bayangkan sebagai seni tentang gerakan tanpa suara perlahan terlihat berbeda.

Ia bukan sekadar tentang bagaimana seseorang berpura-pura menarik tali atau menyentuh dinding yang tidak ada.

Pantomim adalah tentang bagaimana tubuh berbicara ketika kata-kata tidak lagi tersedia.

Dan mungkin, jauh sebelum manusia belajar berbicara, tubuh memang sudah lebih dulu menemukan caranya untuk bercerita.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?

Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?

Your Say | Senin, 27 Juli 2026 | 17:55 WIB

Remime: Menjaga Pantomim Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Remime: Menjaga Pantomim Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Your Say | Senin, 27 Juli 2026 | 11:49 WIB

WIB: Waktu Indonesia Bercanda

WIB: Waktu Indonesia Bercanda

Your Say | Rabu, 11 Februari 2026 | 15:36 WIB

Terkini

Transfer ke Daerah di RAPBN 2027 Naik 5,5 Persen

Transfer ke Daerah di RAPBN 2027 Naik 5,5 Persen

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:26 WIB

Perkuat Kepatuhan Badan Usaha, BPJS Kesehatan Dorong Pemanfaatan Ekosistem OSS

Perkuat Kepatuhan Badan Usaha, BPJS Kesehatan Dorong Pemanfaatan Ekosistem OSS

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:21 WIB

Danantara Sudah Tutup 260 BUMN

Danantara Sudah Tutup 260 BUMN

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:19 WIB

Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?

Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:15 WIB

Belanja Daerah Capai Rp538,5 Triliun Hingga Juli 2026, Kebanyakan Bayar Gaji

Belanja Daerah Capai Rp538,5 Triliun Hingga Juli 2026, Kebanyakan Bayar Gaji

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:14 WIB

Spesial Agustus, BRI Tebar Promo Spesial Diskon di Raja Susu

Spesial Agustus, BRI Tebar Promo Spesial Diskon di Raja Susu

Bri | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:09 WIB

8 Cara Mengatasi Cushion yang Terasa Terlalu Pekat atau Terlalu Cair

8 Cara Mengatasi Cushion yang Terasa Terlalu Pekat atau Terlalu Cair

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Presiden Beberkan PFII: Lokasi di Jakarta, Bahasanya Inggris dan Kemungkinan Ada Hakim Asing

Presiden Beberkan PFII: Lokasi di Jakarta, Bahasanya Inggris dan Kemungkinan Ada Hakim Asing

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:03 WIB

Penanganan Karhutla Bromo Fokus Pembasahan Delapan Hotspot

Penanganan Karhutla Bromo Fokus Pembasahan Delapan Hotspot

Jatim | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:01 WIB

AI dan Semikonduktor Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi 2027, Targetnya 6%

AI dan Semikonduktor Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi 2027, Targetnya 6%

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 18:56 WIB

×