- JLL melaporkan rata-rata biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi pada 2026.
- Permintaan proyek kantor berkelanjutan meningkat di 88 persen pasar Asia Pasifik guna mengurangi konsumsi energi perusahaan.
- Jakarta mencatat biaya penataan ulang kantor lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, serta Bangkok.
Suara.com - Kantor kini tak lagi sekadar tempat untuk duduk bekerja dari pagi hingga sore. Di tengah perubahan cara bekerja dan ketidakpastian ekonomi global, perusahaan mulai memikirkan kembali seperti apa ruang kerja yang dibutuhkan.
Ruang kantor dituntut tidak hanya nyaman, tetapi juga mampu mendukung produktivitas, efisiensi energi, teknologi, hingga keberlanjutan.
Perubahan tersebut terlihat dalam tren penataan ulang kantor atau office fit-out di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026 dari JLL, perusahaan kini harus mempertimbangkan berbagai faktor ketika menata ruang kerja, mulai dari biaya material, tenaga kerja, nilai tukar, hingga kebutuhan akan ruang kerja yang berkinerja baik.
Kantor Makin Dituntut Efisien
Salah satu perubahan yang cukup terlihat adalah meningkatnya perhatian terhadap konsep kantor yang lebih berkelanjutan.
JLL mencatat sebanyak 88 persen pasar di Asia Pasifik melaporkan peningkatan permintaan terhadap proyek sustainable fit-out. Sementara itu, 46 persen organisasi secara aktif menerapkan berbagai langkah untuk mengurangi konsumsi energi.
Artinya, keberlanjutan mulai menjadi bagian dari pertimbangan ketika perusahaan merancang atau menata ulang ruang kerjanya.
Teknologi juga semakin mendapatkan tempat dalam perencanaan kantor. Penggunaannya tak lagi sekadar dianggap sebagai fasilitas tambahan, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memitigasi risiko dan meningkatkan kinerja ruang kerja.
Biaya Kantor Berbeda di Tiap Kota
Di balik tren tersebut, perusahaan tetap harus berhadapan dengan biaya penataan ulang kantor yang terus meningkat.
JLL mencatat rata-rata biaya office fit-out di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi, dengan kenaikan sekitar 2–5 persen secara tahunan.
Namun, biaya tersebut tidak sama di setiap kota.
Martin Hinge, Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, mengatakan perbedaan biaya di kawasan Asia Pasifik cukup besar.
“Biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik menunjukkan variasi yang lebih beragam dibandingkan kawasan lain. Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru memiliki biaya renovasi yang lebih tinggi dari kota di negara lainnya. Ini menunjukkan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja serta standar kualitas bangunan yang tinggi. Sementara itu, India, Tiongkok, dan beberapa negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang relatif lebih kompetitif.”
Menurut Martin, pergerakan nilai tukar juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi biaya di sejumlah pasar.
“Dalam banyak kasus, biaya tersebut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dibandingkan penurunan biaya produksi. Kami juga melihat bahwa terbatasnya jumlah proyek yang berjalan serta meningkatnya persaingan di sejumlah pasar membuat harga semakin kompetitif. Karena itu, analisis pada tingkat kota menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat rata-rata kawasan,” ujarnya.
Bagaimana dengan Jakarta?
Dibandingkan sejumlah kota utama di Asia Tenggara, Jakarta masih memiliki biaya penataan ulang kantor yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.
Kondisi ini membuat perbandingan biaya antar kota menjadi penting bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan investasi maupun penataan ruang kerja.
“Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara. Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar,” kata Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia.
Di Indonesia, layanan mekanikal dan elektrikal atau M&E menjadi komponen dengan porsi biaya terbesar dalam office fit-out. Setelahnya terdapat pekerjaan konstruksi, sementara jasa profesional menjadi komponen dengan porsi biaya terendah.
Kantor yang Berkinerja Baik Jadi Prioritas
Perubahan kebutuhan terhadap ruang kerja juga membuat perusahaan semakin memperhatikan bagaimana kantor dapat memberikan kinerja yang lebih baik.
Daniel Malacchini, Head of Cost Advisory & Cost Management, Project & Development Services (PDS), Asia Pacific, JLL, mengatakan analisis berdasarkan kondisi masing-masing kota semakin penting dalam menentukan keputusan investasi dan lokasi.
“Kami melihat, hal ini mendorong diskusi dengan banyak perusahaan yang mempertimbangkan dampak geopolitik dan akses terhadap rantai pasok saat mengevaluasi risiko biaya proyek serta upaya mitigasi yang diperlukan,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global masih menjadi tantangan. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar energi, keterbatasan tenaga kerja, serta harga material ikut membuat perencanaan proyek menjadi lebih kompleks.
Sebanyak 68 persen pemimpin fungsi biaya di Asia Pasifik bahkan menyebut tekanan harga baja dan tembaga sebagai perhatian utama.
Shweta Choudhari, Director, Research and Strategy, Work Dynamics, Asia Pacific, JLL, mengatakan kondisi tersebut membuat perencanaan proyek perlu dilakukan dengan lebih cermat.
“Meskipun situasi ekonomi ekonomi mulai beranjak stabil di beberapa wilayah sepanjang 2025 hingga awal 2026, tantangan makro ekonomi global dan regional masih memengaruhi prediktabilitas biaya, kelayakan konstruksi, serta pelaksanaan proyek di tingkat lokal. Memahami bagaimana dinamika tersebut membentuk kondisi pasar di Asia Pasifik menjadi faktor penting untuk memastikan keberhasilan perencanaan proyek dan rencana finansial perusahaan,” ujarnya.
Pada akhirnya, tren perkantoran di Asia Pasifik menunjukkan bahwa ruang kerja terus berkembang mengikuti kebutuhan perusahaan dan kondisi ekonomi.
Kantor masa kini bukan hanya tentang bagaimana sebuah ruangan terlihat, tetapi juga bagaimana ruang tersebut dapat bekerja secara lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan perusahaan di tengah perubahan yang terus berlangsung.