- UBBG dan Sanggar Aceh Art Dance Community menjalankan program PISN 2026 didanai kementerian sejak April 2026.
- Narasumber Novirela Minang Sari memberikan workshop peningkatan kapasitas pelatih tari tradisional pada 22 April 2026.
- Hasil kegiatan meningkatkan kapasitas pelatih dan kader serta menghasilkan dokumentasi seni serta bahan promosi digital.
Suara.com - Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 resmi berjalan untuk periode April 2026 hingga April 2027. Program yang melibatkan Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) bersama Sanggar Aceh Art Dance Community itu diarahkan untuk memperkuat pembinaan dan keberlanjutan tari tradisi Aceh.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Workshop Penguatan Kapasitas Pelatih dan Pengembangan Model Latihan Inovatif pada 22 April 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kemampuan pelatih sekaligus memperbaiki metode latihan di sanggar.
Program PISN 2026 mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Selain penguatan kapasitas pelatih, kegiatan juga mencakup dokumentasi seni dan pemanfaatan media digital untuk mendukung keberlanjutan aktivitas sanggar.
Workshop menghadirkan Novirela Minang Sari, akademisi sekaligus koreografer seni tari Aceh. Peserta berasal dari pelatih, kader, dan anggota Sanggar Aceh Art Dance Community yang selama ini membina Tari Laweut, Ratoeh Jaroe, dan Ranup Lampuan.
Materi tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori. Peserta juga mengikuti praktik mengenai penyusunan model latihan, pengembangan gerak dan pola lantai, teknik mendokumentasikan gerakan tari, hingga pemanfaatan media digital sebagai media promosi dan arsip sanggar.
Novirela menilai pelestarian seni tradisi membutuhkan sistem pembelajaran yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pelestarian tari tradisi tidak cukup hanya melalui pertunjukan, tetapi juga melalui sistem pembinaan yang terdokumentasi dan terstruktur. Model latihan yang baik akan membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah diterapkan dan diwariskan,” ujarnya.
Ketua Sanggar Aceh Art Dance Community, Laina Miska, mengatakan peningkatan kapasitas pelatih dan kader menjadi salah satu kebutuhan dalam menjaga keberlangsungan pembinaan di sanggar.
“Workshop ini memberikan tambahan pengetahuan bagi pelatih dan kader kami. Harapannya, materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam latihan rutin dan membantu kami membangun pembinaan yang lebih terarah,” kata Laina.
Ketua Pelaksana PISN, Riska Gebrina, menjelaskan program tersebut tidak berhenti pada kegiatan workshop.
Tim UBBG juga memberikan pendampingan agar materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan sanggar.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya memberikan materi, tetapi berupaya mendampingi mitra agar hasil pelatihan dapat diterapkan dalam kegiatan sanggar. Penguatan pelatih, penyusunan panduan latihan, dokumentasi, dan pemanfaatan media digital menjadi bagian dari proses yang sedang berjalan,” ujarnya.
Pelaksanaan program turut melibatkan dosen, mahasiswa, praktisi seni, pelatih, kader, dan anggota komunitas.
Mahasiswa UBBG membantu proses teknis di lapangan, pendampingan peserta, dokumentasi, pengolahan materi digital, serta administrasi kegiatan.
Sejumlah hasil awal program telah terlihat melalui peningkatan kapasitas pelatih dan anggota, penerapan materi dalam latihan, dokumentasi kegiatan, serta pengembangan bahan promosi digital.
Sementara itu, penyusunan panduan latihan untuk Tari Laweut, Ratoeh Jaroe, dan Ranup Lampuan masih berlanjut.
Tahap berikutnya akan mencakup penyempurnaan hasil pelatihan, pendampingan lanjutan, dokumentasi karya, dan penguatan promosi digital.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pembinaan sanggar sekaligus membantu memperkenalkan seni tari tradisi Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.