- Badan Pusat Statistik mencatat pengangguran berpendidikan tinggi di Indonesia meningkat menjadi 13,89 persen pada Februari 2025.
- Universitas Pembangunan Jaya menerapkan konsep Living Lab untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman profesional industri.
- Sebanyak 232 mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya mengikuti program magang di berbagai unit ekosistem Pembangunan Jaya.
Suara.com - Memiliki gelar pendidikan tinggi belum selalu menjamin seseorang siap menghadapi dunia kerja.
Lulusan perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menguasai teori dan pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki kompetensi praktis serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan profesional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang pada Februari 2025. Pada periode yang sama, proporsi pengangguran dengan latar belakang pendidikan Diploma IV, S1, S2, dan S3 meningkat dari 12,12 persen menjadi 13,89 persen dibandingkan Februari 2024.
Data tersebut menunjukkan adanya tantangan yang perlu dijawab perguruan tinggi. Pendidikan tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga perlu memberi kesempatan untuk mengenal persoalan dan dinamika dunia kerja secara langsung.
Salah satu pendekatan dilakukan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dengan mendekatkan mahasiswa pada pengalaman industri selama masa perkuliahan.
Sebagai kampus yang mengusung konsep Urban Campus, UPJ menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman profesional melalui sejumlah program, seperti internship, proyek industri, penelitian terapan, mentoring bersama praktisi, hingga program pengembangan karier.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari konsep Living Lab, yang menjadikan persoalan nyata, lingkungan industri, masyarakat, dan praktisi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Rektor UPJ Elisabeth Rukmini mengatakan perguruan tinggi perlu memberikan ruang kepada mahasiswa untuk memahami dunia nyata sejak masih menempuh pendidikan.
“Perguruan tinggi perlu memberikan ruang kepada mahasiswa untuk memahami dunia nyata sejak masa pendidikan. Melalui ekosistem Pembangunan Jaya, UPJ memiliki kesempatan untuk mempertemukan pembelajaran di kampus dengan pengalaman di industri,” ujar Elisabeth.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kesempatan untuk melihat persoalan secara langsung, bekerja bersama praktisi, dan mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ratusan Mahasiswa Ikuti Internship
Upaya mempertemukan mahasiswa dengan dunia profesional tersebut tercermin dari program internship UPJ. Pada periode Tahun Akademik 2024/2025 hingga semester gasal Tahun Akademik 2026/2027, sebanyak 232 mahasiswa telah mengikuti program internship di berbagai unit dalam ekosistem Pembangunan Jaya.
Rinciannya, 112 mahasiswa mengikuti program pada TA 2024/2025, 74 mahasiswa pada TA 2025/2026, dan 46 mahasiswa pada semester gasal TA 2026/2027.
Sementara melalui program The Bridge, sebanyak 46 lulusan UPJ telah terhubung dengan dunia profesional selama periode TA 2023/2024 hingga TA 2025/2026.
Presiden UPJ Frans Sunito mengatakan pengalaman menghadapi persoalan nyata dan berinteraksi dengan praktisi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan profesional mahasiswa.
“Living Lab bagi kami bukan hanya tentang lokasi belajar di luar kampus. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mendapatkan pengalaman menghadapi persoalan nyata, berinteraksi dengan praktisi, dan memahami bagaimana sebuah pengetahuan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Frans.
Ketika Industri Menjadi Bagian dari Ruang Belajar
Sebagai bagian dari ekosistem PT Pembangunan Jaya, BXSea Oceanarium menjadi salah satu contoh bagaimana lingkungan industri dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa UPJ. Keterhubungan antara institusi pendidikan dan unit bisnis dalam satu ekosistem memberi mahasiswa kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh di kampus diterapkan dalam lingkungan profesional.
Pimpinan Unit BXSea Oceanarium Sri Agung Agus Putranto mengatakan bahwa interaksi langsung dengan industri dapat membantu generasi muda melihat dunia kerja dengan perspektif yang lebih nyata.
“Industri membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja dan memberikan nilai bagi masyarakat. Kolaborasi seperti ini membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat industri secara langsung sekaligus memahami kompetensi yang dibutuhkan di dalamnya,” katanya.
Kebutuhan industri terhadap talenta yang adaptif membuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia profesional semakin penting. Bagi UPJ, pengalaman belajar tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga mencakup kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami konteks, berinteraksi dengan praktisi, dan melihat bagaimana kompetensi mereka dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata.