- Kementerian Komdigi menyatakan Indonesia berpeluang menjadi pusat data utama berkat keunggulan lahan dan sumber daya.
- PT Dwimitra Ekatama Mandiri memperluas ekspansi proyek pengelolaan data center ke tingkat regional Asia Pasifik sejak 2024.
- PT PLN menyediakan daya listrik sebesar 2.000 MVA untuk mendukung pertumbuhan industri data center yang semakin meningkat di Indonesia.
PT Dwimitra Ekatama Mandiri (Dwimitra), misalnya, telah terlibat dalam berbagai pembangunan proyek data center sejak 2007 dengan total kapasitas sekitar 200 MW.
Memasuki usia ke-25 tahun, perusahaan tersebut kini ingin membawa pengalaman yang dibangun di Indonesia ke pasar yang lebih luas di kawasan Asia Pasifik.
Chief Commercial Officer Dwimitra Ekatama Mandiri, Oon Suciagung, mengatakan perusahaan telah mengerjakan sejumlah proyek di luar Indonesia, meski saat ini masih berada dalam lingkup project management seperti konsultasi dan engineering.
“Dwimitra akan menjadi salah satu pemain besar di industri data center, tidak lagi hanya di Indonesia, tetapi di level Asia Pasifik. Kami sudah memiliki beberapa pekerjaan di luar Indonesia, meski saat ini masih pada lingkup project management seperti konsultasi dan engineering,” kata Oon Suciagung.
CEO Dwimitra, Ridwan Eddy, menambahkan bahwa perusahaan juga telah membangun kemitraan dengan perusahaan asal India, Listenlights Pvt. Ltd., melalui joint venture Dwimitra Listenlights Indonesia sejak 2024.
Ke depan, Dwimitra berencana memperluas ekspansi ke sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
AI Ikut Membantu Pekerjaan di Lapangan
Seiring proyek data center semakin kompleks, teknologi juga mulai dimanfaatkan untuk membantu proses pengerjaan.
Dwimitra menerapkan AI, otomasi, dan digital project management untuk memantau tenaga kerja, progres pekerjaan, produktivitas, serta berbagai indikator proyek di lapangan.
Sistem tersebut dilengkapi dashboard terintegrasi dan pengingat otomatis sehingga potensi kendala dapat diketahui lebih awal. Dengan begitu, proses tindak lanjut dan pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat.
“Dengan jumlah pekerja yang bisa mencapai ribuan orang di lapangan, kita tidak bisa hanya bergantung pada proses manual. Sistem membantu memberikan reminder dan dashboard agar kita memahami apa yang terjadi di lapangan dan dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat,” jelas Ridwan Eddy.
Meski teknologi semakin banyak digunakan, kemampuan manusia tetap menjadi bagian penting. Oon mengatakan kompetensi dan rasa ownership dari setiap individu yang terlibat dalam proyek tetap dibutuhkan untuk menjaga kualitas pekerjaan.
“Tantangannya adalah bagaimana membangun data center sesuai timeline dengan kualitas yang tetap baik. Karena itu, support dari sisi engineering, kalkulasi hingga eksekusi harus semakin kuat agar risiko delay bisa ditekan,” kata Oon Suciagung.
Energi dan SDM Jadi Bagian Penting
Pertumbuhan data center juga tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan energi. Vice President Priority Account Executive Swasta dan Bisnis PT PLN (Persero), Fauzi Arubusman, mengatakan PLN saat ini telah melayani 153 pelanggan data center dengan total daya terpasang sekitar 2.000 MVA. Sebanyak 137 pelanggan berada di wilayah Jawa-Bali.
Data center juga telah masuk dalam 10 besar segmen usaha dengan konsumsi listrik terbesar di Indonesia.
PLN, kata Fauzi, akan terus mendukung pertumbuhan industri melalui penyediaan infrastruktur kelistrikan yang andal sekaligus memenuhi kebutuhan energi hijau yang semakin menjadi perhatian industri data center.
Pada akhirnya, perkembangan data center bukan hanya cerita tentang bangunan, server, atau teknologi yang bekerja di balik layar. Pertumbuhan industri ini juga berkaitan dengan bagaimana kebutuhan digital masyarakat terus berkembang.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut diikuti dengan kesiapan energi, konektivitas, teknologi, serta sumber daya manusia. Sementara bagi pelaku industri, perkembangan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat kemampuan dan membawa keahlian Indonesia ke pasar regional.