- Samsonite Indonesia menyelenggarakan program Luggage Trade-In dari tanggal 3 September hingga 11 Oktober 2026.
- Program tersebut mengajak masyarakat mengumpulkan koper bekas untuk diolah kembali demi mendukung fasilitas pendidikan sekolah.
- Pemanfaatan material koper tahun 2026 diarahkan pada inisiatif Breathable Classroom guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.
Suara.com - Koper yang sudah tak lagi digunakan tak selalu harus berakhir di gudang atau tempat pembuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, material dari koper bekas perjalanan masih bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lain.
Gagasan inilah yang diangkat melalui program Samsonite Luggage Trade-In 2026. Program yang berlangsung 3 September hingga 11 Oktober 2026 tersebut kembali mengajak masyarakat mengumpulkan koper preloved untuk kemudian dimanfaatkan kembali.
Tahun ini, pemanfaatan material koper diarahkan untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih nyaman melalui inisiatif Breathable Classroom.
Sebelumnya, program serupa pada 2025 mengumpulkan 1.792 koper preloved dari 36 gerai di Indonesia. Material tersebut kemudian diolah menjadi Scholar Panel, yakni panel akustik yang dipasang di SDN Cipeujeh Wetan 03, Cirebon.
Panel tersebut membantu mengurangi tingkat kebisingan di ruang kelas, dari 92 desibel menjadi 50 desibel. Dengan kondisi ruang yang lebih tenang, proses belajar diharapkan dapat berlangsung lebih kondusif.
Tahun ini, konsep pemanfaatan kembali tersebut diperluas. Jika Scholar Panel berfokus pada persoalan kebisingan, Breathable Classroom memanfaatkan material koper preloved sebagai bagian dari sistem jendela sekolah untuk membantu menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman di tengah paparan polusi udara.
Isu kualitas udara sendiri menjadi perhatian karena paparan polusi dapat berdampak pada kesehatan, termasuk fungsi kognitif anak. Kementerian Kesehatan melalui laman Ayo Sehat menyebut polusi udara dapat berdampak pada otak serta memengaruhi kemampuan belajar dan memori.
Temuan serupa juga terlihat dalam studi kohort yang dipublikasikan di PLOS Medicine pada 2015. Penelitian terhadap 2.715 anak dari 39 sekolah di Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa anak-anak yang belajar di sekolah dengan tingkat polusi lalu lintas lebih tinggi menunjukkan perkembangan memori kerja dan perhatian yang lebih lambat dibandingkan anak yang berada di lingkungan dengan paparan lebih rendah.
Mengubah Fungsi, Memperpanjang Manfaat
Bagi Samsonite Indonesia, pemanfaatan kembali koper preloved merupakan bagian dari upaya memperpanjang nilai guna material yang sudah tidak digunakan pemiliknya.
Country Head Samsonite Indonesia Nadya Pertiwi mengatakan, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada pelanggan mengganti perlengkapan perjalanan, tetapi juga memastikan koper yang dikumpulkan dapat memberikan manfaat sosial.
“Bagi Samsonite, memperbarui perlengkapan perjalanan tidak harus mengakhiri nilai dari koper yang telah menemani berbagai perjalanan sebelumnya. Melalui Luggage Trade-In, kami ingin memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan berikutnya, sekaligus memastikan bahwa koper preloved dapat dikelola kembali untuk menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas,” ujar Nadya.
Selain Scholar Panel dan Breathable Classroom, program ini sebelumnya juga dikaitkan dengan kolaborasi Water Guardian bersama Kitabisa yang menghadirkan sumur dan tangki air untuk mendukung akses air bersih bagi masyarakat di Yogyakarta.
Pada 2026, sebagian nilai dari transaksi dalam program Luggage Trade-In juga dialokasikan untuk mendukung komunitas yang membutuhkan.
Dengan demikian, sebuah koper yang telah menyelesaikan perjalanan bersama pemiliknya dapat memiliki fungsi baru. Bukan lagi sekadar barang bawaan, melainkan material yang kembali digunakan untuk mendukung kebutuhan di lingkungan lain.