- Pasukan TNI terlibat kontak tembak selama 45 menit dengan kelompok bersenjata di Kabupaten Yahukimo.
- Kontak senjata terjadi setelah kelompok pimpinan Kopitua Heluka menolak menyerah dan justru menembak aparat secara membabi buta.
- TNI berhasil memukul mundur kelompok tersebut serta menyita sejumlah senjata api, amunisi, dan bendera Bintang Kejora.
Suara.com - Pasukan TNI mengaku lebih dulu meminta kelompok bersenjata pimpinan Kopitua Heluka menyerah dan meletakkan senjata sebelum terjadi kontak tembak di Camp Biru, Kali Senami, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kontak senjata yang melibatkan Pasukan Detasemen 3 Satgas Rajawali V dan Satgas Yonif 3 Marinir Koops TNI Habema itu berlangsung selama 45 menit.
Peristiwa tersebut terjadi saat pasukan TNI menelusuri keberadaan kelompok yang disebut beranggotakan sedikitnya 15 orang.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan, pergerakan pasukan dilakukan setelah menerima informasi dari Satgas Mandala.
Personel kemudian mengikuti jejak kelompok bersenjata hingga menemukan mereka di sekitar Kali Senami.
Menurut Lucky, sebelum kontak senjata pecah, personel TNI telah melakukan pendekatan persuasif dengan meminta kelompok tersebut menyerah.
“Dengan meminta OPM menyerah serta meletakkan senjata,” ujar Lucky.
Namun, menurut Lucky, kelompok bersenjata justru melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pasukan TNI. Kontak tembak pun tidak terhindarkan.
Setelah berlangsung sekitar 45 menit, pasukan TNI berhasil memukul mundur kelompok tersebut. Mereka kemudian melarikan diri ke kawasan hutan.

Personel TNI selanjutnya menyisir lokasi dan menemukan sebuah gubuk yang disebut sebagai tempat persembunyian kelompok tersebut. Dari lokasi itu, pasukan menyita tujuh pucuk senjata api, terdiri atas dua senjata laras pendek dan lima laras panjang.
Selain senjata api, ditemukan puluhan butir peluru tajam, dua teleskop, beberapa bilah senjata tajam, serta selembar bendera Bintang Kejora.
Lucky menyebut Kopitua Heluka sebelumnya pernah ditangkap dan dipenjara. Namun, pimpinan kelompok tersebut berhasil melarikan diri dari Lapas Kelas 2B Wamena pada 25 Februari 2025.
Lucky kembali mengimbau pimpinan, anggota, dan simpatisan OPM yang masih berada di hutan agar menyerahkan diri dan meletakkan senjata.
Ajakan itu, menurutnya, ditujukan agar mereka kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan bersama-sama membangun Papua.
“Untuk bersama membangun Papua,” tegas Lucky.
Ia menambahkan, TNI akan mengambil tindakan tegas dan terukur apabila imbauan tersebut tidak diindahkan.
“Berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku sesuai Rules of Engagement (ROE),” pungkasnya.