- Teknologi digital printing yang fleksibel mendorong pertumbuhan sektor kemasan, label, dan tekstil seiring meningkatnya aktivitas UMKM di Indonesia.
- Krista Exhibitions akan menyelenggarakan pameran ALLPrint Indonesia 2026 pada 7-10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
- Pameran tersebut menargetkan 60.000 pengunjung dengan menghadirkan 400 peserta dari lebih dari 10 negara untuk menampilkan inovasi percetakan.
Suara.com - Coba perhatikan kemasan makanan atau produk UMKM yang belakangan makin menarik. Ada yang dibuat dengan desain khusus, dicetak dalam jumlah terbatas, bahkan disesuaikan dengan momen tertentu.
Begitu juga dengan produk fesyen dan merchandise. Pilihan desain kini semakin beragam, termasuk produk dengan sentuhan personal yang dulu mungkin sulit dibuat dalam jumlah sedikit.
Di balik perubahan itu, ada perkembangan teknologi percetakan yang ikut bergerak. Industri yang dulu identik dengan produksi massal dan mesin-mesin besar kini semakin banyak mengandalkan teknologi digital yang memungkinkan proses cetak lebih fleksibel dan personal.
Di Indonesia, perkembangan tersebut salah satunya terlihat dari sektor kemasan dan label yang disebut tumbuh hingga 20 persen. Sementara textile printing tumbuh sekitar 15 persen, seiring meningkatnya aktivitas e-commerce dan berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Artinya, percetakan kini tidak hanya soal mencetak tulisan atau gambar di atas kertas. Teknologinya ikut mendukung banyak hal yang dekat dengan keseharian, mulai dari kemasan produk, label, kebutuhan promosi, hingga fesyen.
Perkembangan inilah yang akan menjadi salah satu hal yang bisa dilihat dalam ALLPrint Indonesia 2026. Pameran teknologi dan solusi industri percetakan tersebut akan berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Diselenggarakan oleh Krista Exhibitions, ALLPrint Indonesia 2026 akan menghadirkan sekitar 400 peserta dari lebih dari 10 negara. Di antaranya Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan. Sekitar 20 peserta merupakan UMKM.
Selama empat hari penyelenggaraan, pameran ini menargetkan sekitar 60.000 pengunjung.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan perkembangan industri percetakan saat ini sudah semakin luas dan tidak lagi terbatas pada teknologi cetak konvensional.
“Industri percetakan saat ini berkembang sangat luas. Tidak hanya berbicara mengenai mesin dan teknologi cetak konvensional, tetapi juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan oleh industri. Perkembangan ini tentu menciptakan kebutuhan baru dan peluang bisnis baru bagi para pelaku industri,” ujar Daud.

Salah satu perubahan yang cukup terasa adalah semakin terbukanya peluang bagi pelaku usaha untuk membuat produk dalam jumlah dan bentuk yang lebih fleksibel.
Bagi UMKM, misalnya, kemasan bukan lagi sekadar pembungkus. Desain kemasan bisa menjadi bagian dari identitas produk sekaligus cara untuk membuat sebuah produk lebih mudah dikenali di tengah persaingan di platform digital.
Teknologi digital printing juga membuat kebutuhan seperti ini lebih mudah disesuaikan. Pelaku usaha dapat mengeksplorasi desain, media, maupun jumlah produksi sesuai kebutuhan tanpa harus selalu bergantung pada produksi dalam skala besar.
Hal serupa berlaku pada textile printing. Perkembangan teknologi membuka lebih banyak pilihan bagi produk fesyen, merchandise, maupun berbagai kebutuhan kreatif yang membutuhkan desain lebih beragam dan personal.
Berbagai perkembangan tersebut dapat dilihat langsung di ALLPrint Indonesia 2026. Pengunjung akan menemukan teknologi digital printing, packaging printing, textile printing, teknologi karton box, label, finishing technology, tinta, kertas dan media cetak, hingga software pendukung industri grafika.