- Ayah korban penembakan Pidie menuntut keadilan transparan atas kematian anaknya saat kenduri maulid.
- Bentrokan TNI dan warga picu penembakan fatal akibat perselisihan pengibaran bendera Bulan Bintang.
- Tokoh masyarakat dan Pemerintah Aceh mendesak pembentukan tim investigasi independen usut penembakan Tiro.
Suara.com - Ayah korban penembakan di Kecamatan Tiro, M. Hasan Ali, mempertanyakan alasan pembunuhan anak bungsunya saat menghadiri kenduri Maulid Nabi. Isak tangis menyelimuti Hasan ketika mengingat nasib malang yang menimpa Abzalul Riza di Gampong Pulo Keunari, Aceh.
Riza meregang nyawa akibat peluru tajam yang menembus dadanya pada Rabu sore. Kehadiran pemuda 20 tahun itu di lokasi kejadian murni hanya untuk menyaksikan keramaian kenduri maulid warga.
Ketidakadilan proses hukum di Indonesia menjadi sorotan tajam keluarga korban penembakan Pidie ini. Sang ayah menegaskan pelaku penembakan anaknya wajib menerima hukuman yang setimpal tanpa sandiwara hukum.
Bentrokan fisik pecah seusai personel TNI melarang pengibaran bendera Bulan Bintang oleh warga setempat. Eskalasi massa memuncak hingga berujung pada aksi pelemparan batu dan penambahan pasukan tentara laras panjang.
"Padahal dia hanya menghadiri kenduri maulid. Biasalah anak muda lagi panas-panasnya, tapi mengapa harus dibunuh?" Suara Hasan terdengar tercekat, dikutip dari BBC.
Riza terpisah dari rekannya saat melarikan diri dari letusan senjata api di area meunasah. Dua warga sipil sempat membonceng tubuh Riza yang sudah tidak sadarkan diri menuju rumah sakit.
Perjalanan evakuasi sejauh sembilan kilometer tersebut gagal menyelamatkan nyawa pemuda yang baru mengambil ijazah sekolahnya. Nyawa korban melayang sebelum sempat mendapatkan penanganan medis darurat di rumah sakit tujuan.
"Mereka yang berkuasa bisa membuat sesuka hati pada masyarakat bawah..."
"Lucu dan aneh sekali hukum di negara Indonesia ini," Hasan berkata.
"Mereka yang membunuh anak saya harus dihukum. Jangan hukum pura-pura."
Pihak aparat mengklaim hanya melepaskan tembakan peringatan menggunakan amunisi hampa serta peluru karet. Namun, saksi mata di lokasi kejadian mengonfirmasi dugaan keterlibatan anggota TNI dalam letusan peluru fatal tersebut.
Gelombang desakan dari Gubernur Aceh hingga aktivis sipil menuntut pembentukan tim investigasi independen. Penyelesaian sengketa simbol Bulan Bintang semestinya menempuh jalur dialog substantif tanpa memicu kekerasan bersenjata.
"Saat terjadi tembakan, saya terpisah dengan Apa. Saya berlari lewat jalan belakang meunasah menuju Gampong Daya Cot," ujar Ajib, seraya berlinang air mata, Kamis (05/11).
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait telah berjanji mengusut tuntas peristiwa tragis di Kabupaten Pidie. Polemik bendera hasil kesepakatan damai Helsinki ini terus menjadi sumber ketegangan yang menelan korban jiwa.
Pemerintah janji usut tuntas