Suara.com - Setiap musim durian tiba, kulit buah yang tersisa sering kali berakhir sebagai limbah. Di pasar, tumpukannya bisa menggunung, menimbulkan bau, dan membutuhkan waktu lama untuk terurai.
Namun, limbah tersebut ternyata bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Peneliti Universitas Malikussaleh mengolah kulit durian menjadi briket bioarang, bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai alternatif kayu bakar dan arang konvensional.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Chemical Engineering Journal Storage pada 2023 itu menguji pengaruh suhu karbonisasi dan komposisi tepung tapioka sebagai perekat terhadap kualitas briket.
Kulit durian dipilih karena mengandung selulosa sekitar 50–60 persen serta lignin. Kedua komponen tersebut membuat kulit durian berpotensi digunakan sebagai bahan baku biomassa.
"Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan adalah penggunaan variasi suhu dan komposisi campuran arang kulit durian dengan tepung tapioka," tulis tim peneliti.
Suhu 400 derajat Celsius
Untuk mendapatkan formula terbaik, peneliti menguji beberapa kombinasi suhu karbonisasi dan jumlah perekat.
Hasilnya, briket dengan kualitas terbaik diperoleh dari komposisi arang kulit durian yang dominan dengan sedikit perekat tepung tapioka. Formula tersebut diproses pada suhu 400 derajat Celsius, atau suhu tertinggi dalam percobaan.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit perekat yang digunakan, semakin baik sejumlah karakteristik briket. Briket yang dihasilkan memiliki kadar air dan abu yang rendah, menghasilkan lebih sedikit asap saat dibakar, serta memiliki kandungan karbon yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, karakteristik briket tersebut memenuhi standar mutu briket nasional (SNI).
Suhu karbonisasi juga berpengaruh terhadap kualitas briket. Semakin tinggi suhu yang digunakan, kadar air dan zat mudah menguap dalam briket cenderung semakin rendah. Keduanya menguap selama proses karbonisasi.
Sebaliknya, penambahan tepung tapioka dalam jumlah lebih besar justru menurunkan nilai kalor dan kadar karbon briket.
"Nilai kalor bahan bakar menentukan kualitasnya; semakin besar nilainya, semakin baik," tulis peneliti.
Meski begitu, briket dengan kandungan perekat paling tinggi, yakni 15 persen, memiliki karakteristik lain yang menarik. Briket tersebut memiliki laju pembakaran paling cepat, mencapai 0,110 gram per menit.
Karakteristik itu dapat berguna untuk kebutuhan yang membutuhkan api lebih cepat, meski konsekuensinya bahan bakar menjadi lebih cepat habis.
Mengubah limbah menjadi energi
Pemanfaatan kulit durian sebagai bahan bakar menawarkan dua manfaat sekaligus: mengurangi limbah dan menyediakan sumber energi alternatif.
Kebutuhan energi Indonesia saat ini masih banyak ditopang bahan bakar fosil. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar. Berdasarkan peta jalan Kementerian ESDM yang dikutip dalam penelitian, potensi energi biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 49,8 gigawatt.
Briket dari kulit durian dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan rumah tangga, seperti memasak dan menyetrika, maupun kebutuhan lain yang memerlukan bahan bakar padat.
Bagi daerah yang menjadi sentra produksi durian, pemanfaatan ini juga berpotensi mengurangi persoalan limbah yang muncul setiap musim panen.
Namun, penelitian tersebut belum menjadikan briket kulit durian sebagai produk yang siap diproduksi secara massal.
Peneliti mencatat, proses pengeringan dalam penelitian masih mengandalkan sinar matahari langsung sehingga dipengaruhi kondisi cuaca dan kelembapan. Pengujian lebih lanjut, termasuk terkait kepadatan dan tekanan briket menggunakan peralatan khusus, masih diperlukan untuk memastikan kualitasnya tetap konsisten ketika diproduksi dalam skala lebih besar.
Dengan demikian, kulit durian yang selama ini identik dengan limbah masih memiliki peluang untuk masuk ke rantai pemanfaatan energi. Tantangannya bukan lagi sekadar menemukan bahan bakunya, tetapi memastikan proses pengolahan dan kualitas briket dapat diterapkan secara konsisten di lapangan.
Penulis: Inesia Dian