- Lucky Alpi merintis usaha online pakaian dan perabot rumah tangga di Blitar sejak tahun 2022.
- Pengusaha berusia 30 tahun tersebut berhasil memperoleh omzet sekitar Rp50 juta setiap bulannya.
- Perempuan asal Blitar itu sebelumnya pernah memulai usaha serupa saat menjadi pekerja migran di Taiwan.
Suara.com - Lucky Alpi, perempuan pelaku usaha online asal Blitar, Jawa Timur, membuktikan bahwa usaha dapat dibangun ulang dari nol dengan ketekunan.
Ia pertama kali merintis usaha pada 2016 saat bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan, lalu memulai kembali dari awal setelah pulang ke Indonesia pada 2022.
Kini, di usia 30 tahun, ia mengelola usaha pakaian dan perabot rumah tangga dengan omzet sekitar Rp50 juta per bulan. Perjalanannya menjadi potret ketangguhan perempuan daerah dalam dunia usaha.
Lahir di Blitar pada 2 April 1996, Lucky berangkat bekerja ke Taiwan di usia muda. Di tengah rutinitas kerja, ia menyisihkan jam istirahat untuk berjualan secara online. Usaha kecil itu ia tekuni selama bertahun-tahun, meski waktu dan tenaganya terbatas.
Lucky Alpi, pemilik akun TikTok @luckyalpi22 dan Instagram @luckyalpi, mengatakan semangat itu berangkat dari keinginan memiliki penghasilan tambahan yang ia kelola sendiri.
"Saya ingin punya usaha sendiri, walaupun kecil. Jadi setiap ada waktu kosong, saya pakai untuk jualan," ujarnya. Dari usaha sampingan itu ia belajar dasar-dasar berdagang, mulai dari memilih barang, menentukan harga, hingga menjaga komunikasi dengan pembeli.
Tahun 2022 menjadi titik balik. Lucky kembali ke Indonesia dan harus menata ulang hampir seluruh aspek usahanya. Jaringan pembeli, pemasok, dan sistem kerja yang ia bangun dari luar negeri perlu ia susun kembali dari Blitar. Banyak orang mungkin memilih berhenti pada fase ini. Lucky memilih bertahan.
"Rasanya memang berat, karena yang sudah saya bangun harus mulai lagi dari awal. Tapi saya pikir, dulu saja saya bisa mulai dari nol di negeri orang, masa di kampung sendiri tidak bisa," katanya.
Masa membangun ulang itu ia jalani dengan penuh perhitungan. Lucky tidak langsung menambah banyak jenis barang. Ia fokus pada pakaian terlebih dahulu sambil mengenali kembali selera pembeli di dalam negeri. Setiap bulan ia mengevaluasi barang yang laku dan barang yang kurang diminati.
Keuntungan yang masuk ia putar kembali untuk menambah stok. Cara ini membuat usahanya tumbuh bertahap tanpa beban utang yang memberatkan. Menurut Lucky, kesabaran menjadi pelajaran terbesar yang ia dapat dari fase memulai ulang tersebut. Ia juga belajar memilah prioritas agar modal yang terbatas tetap berputar dengan sehat.
Ia memulai kembali dengan berjualan pakaian. Perlahan, pembeli kembali datang dan usahanya tumbuh stabil. Pada 2024, Lucky merasa cukup percaya diri untuk menambah lini perabot rumah tangga.
Keputusan itu membuahkan hasil. Kedua lini produk kini sama-sama berjalan lancar dan saling melengkapi. Menurut Lucky, setiap tahap pertumbuhan usaha ia jalani dengan hitungan yang matang.
"Saya tidak mau buru-buru. Setelah baju jalan dan saya yakin, baru saya berani tambah perabot. Alhamdulillah sampai sekarang dua-duanya lancar," tuturnya.
Di balik pertumbuhan itu, Lucky menjalankan banyak peran sekaligus. Ia memilih barang, membuat konten, melayani pembeli, hingga mengatur pengiriman.
Pengalaman bekerja di Taiwan melatihnya disiplin dan terbiasa bekerja keras. Ia menilai bekal tersebut sangat membantu saat mengelola usaha secara mandiri.
"Kerja di luar negeri itu mengajarkan saya disiplin waktu dan tanggung jawab. Itu yang saya bawa ke usaha. Kalau sudah janji kirim hari ini, ya harus terkirim hari ini," ucapnya. Setiap tugas ia kerjakan sendiri dengan urutan yang rapi agar tidak ada pesanan yang terlewat.
Kisah Lucky memiliki relevansi kuat bagi daerah asalnya. Blitar Kawentar, mengutip data Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar, mencatat 3.636 warga Kabupaten Blitar menjadi PMI sepanjang Januari hingga Juli 2026, mayoritas adalah perempuan dan Taiwan sebagai tujuan favorit.
Lucky berharap pengalamannya dapat menguatkan perempuan lain yang sedang merintis usaha. "Perempuan itu kuat. Jatuh sekali tidak apa-apa, yang penting bangun lagi. Saya sudah dua kali mulai dari nol, dan saya bersyukur tidak berhenti," imbuhnya.
Perjalanan Lucky juga mencerminkan perubahan peran perempuan dalam ekonomi keluarga. Melalui ponsel dan media sosial, ia dapat bekerja dari rumah sekaligus membangun usaha yang terus tumbuh.
Model usaha seperti ini memberi ruang bagi perempuan di daerah untuk berdaya secara ekonomi tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Bagi Lucky, kemandirian itu menjadi pencapaian penting setelah bertahun-tahun bekerja jauh dari keluarga. Ia kini dapat mengatur waktu sendiri dan menentukan arah usahanya berdasarkan keputusan yang ia ambil secara mandiri.
Yang membuat perjalanan Lucky Alpi menarik untuk dicermati terletak pada keberaniannya memulai ulang ketika keadaan memaksanya kembali ke titik awal.
Sepuluh tahun usaha yang ia jalani lahir dari dua kali merintis, di dua negara yang berbeda. Selama ketekunan dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan terus ia jaga, kisah Lucky layak dibaca sebagai inspirasi ketangguhan perempuan daerah sekaligus kontribusi nyata bagi ekonomi keluarga.