- Parfum memiliki karakter aroma yang beragam.
- Aroma parfum dapat berubah setelah beberapa saat digunakan.
- Sensasi saat mencium parfum juga bisa berbeda pada setiap orang.
Suara.com - Parfum menjadi salah satu produk yang sering digunakan untuk melengkapi penampilan sehari-hari. Pilihan wanginya pun beragam, mulai dari aroma segar dan floral hingga wangi manis atau hangat yang terasa lebih kuat.
Beragamnya karakter parfum membuat sensasi yang muncul saat pertama kali digunakan juga tidak selalu sama. Ketika baru disemprotkan, aroma parfum biasanya langsung tercium cukup kuat sebelum perlahan berubah setelah beberapa saat.
Pada sebagian orang, aroma yang terlalu kuat di awal semprotan dapat membuat hidung terasa kurang nyaman hingga memicu pusing. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan berbagai hal yang muncul saat parfum digunakan.
Lantas, apa saja penyebab parfum terasa menyengat dan bikin pusing di awal semprotan?
Parfum adalah wewangian yang digunakan untuk memberikan aroma khas pada tubuh dan biasanya memiliki beberapa lapisan aroma yang berkembang seiring waktu.

1. Konsentrasi Parfum Cukup Tinggi
Kadar bahan pewangi dalam parfum dapat memengaruhi seberapa kuat aroma yang tercium ketika pertama kali disemprotkan. Produk dengan konsentrasi wewangian yang lebih tinggi umumnya memberikan aroma yang lebih pekat.
Jenis parfum seperti parfum atau extrait biasanya memiliki konsentrasi bahan pewangi lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis wewangian lain. Namun, tingkat ketajaman aroma tetap bergantung pada komposisi bahan yang digunakan.
Bagi sebagian orang, aroma yang terlalu pekat sejak awal dapat terasa berat dan membuat kepala kurang nyaman.
2. Aroma Top Notes Terasa Tajam
Parfum memiliki beberapa tahapan aroma yang biasanya dikenal sebagai top notes, middle notes, dan base notes. Top notes merupakan aroma yang pertama kali tercium setelah parfum disemprotkan.
Karakter top notes dapat terasa cukup kuat karena memang menjadi kesan awal dari sebuah parfum. Aroma citrus, herbal, atau rempah tertentu, misalnya, bisa memberikan sensasi segar sekaligus tajam ketika baru disemprotkan.
Setelah beberapa waktu, aroma tersebut perlahan berkurang dan berganti dengan lapisan aroma berikutnya. Inilah yang membuat parfum terkadang terasa berbeda antara beberapa detik pertama dan beberapa jam setelah digunakan.
3. Parfum Disemprotkan Terlalu Dekat
Jarak saat menggunakan parfum juga dapat memengaruhi seberapa kuat aroma yang langsung tercium. Ketika parfum disemprotkan terlalu dekat dengan hidung atau wajah, aroma yang masuk ke indera penciuman dalam waktu singkat menjadi lebih banyak.
Kondisi tersebut dapat membuat parfum terasa menusuk meskipun karakter wanginya sebenarnya tidak terlalu kuat. Selain membuat tidak nyaman, menyemprotkan parfum terlalu dekat dengan wajah juga sebaiknya dihindari.
Parfum lebih baik diarahkan ke area tubuh yang sesuai dan tidak langsung ke wajah.
4. Terlalu Banyak Menyemprotkan Parfum
Jumlah semprotan yang terlalu banyak dapat membuat aroma parfum menumpuk di tubuh maupun udara sekitar. Kondisi ini biasanya lebih terasa ketika beberapa semprotan diberikan pada area yang berdekatan.
Semakin banyak parfum yang digunakan, semakin kuat pula aroma yang tercium pada awal pemakaian. Bagi orang yang sensitif terhadap wewangian, kondisi tersebut dapat memicu rasa tidak nyaman hingga pusing.
Mengurangi jumlah semprotan bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan aroma yang tetap terasa tanpa terlalu memenuhi udara di sekitar.
5. Digunakan di Ruangan yang Tertutup
Tempat menggunakan parfum juga dapat memengaruhi pengalaman mencium aromanya. Di ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang kurang baik, aroma parfum cenderung lebih lama bertahan di sekitar tubuh.
Akibatnya, hidung terus terpapar aroma dengan intensitas yang cukup tinggi. Parfum yang terasa biasa saja ketika digunakan di ruang terbuka bisa terasa jauh lebih menyengat ketika disemprotkan di ruangan kecil atau minim ventilasi.
Membuka jendela atau menggunakan parfum di area dengan sirkulasi udara yang baik dapat membuat aroma lebih cepat menyebar.
6. Sensitif terhadap Wewangian Tertentu
Setiap orang dapat memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap aroma. Wewangian yang terasa lembut bagi satu orang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain.
Parfum dengan karakter manis, pekat, smoky, musky, atau rempah tertentu dapat terasa lebih berat bagi sebagian orang. Respons tersebut juga dapat berubah tergantung kondisi tubuh dan lingkungan saat parfum digunakan.
Jika aroma tertentu berulang kali membuat pusing atau tidak nyaman, karakter wanginya bisa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan saat memilih parfum.
7. Parfum Masih Berada di Tahap Awal Aroma
Parfum tidak selalu memiliki aroma yang sama sejak pertama kali disemprotkan. Wangi yang muncul pada awal pemakaian akan berkembang secara bertahap seiring menguapnya beberapa komponen dan munculnya aroma dari lapisan berikutnya.
Tahap perubahan aroma ini sering disebut sebagai dry down. Setelah beberapa waktu, karakter parfum biasanya mulai terasa lebih menyatu dengan aroma kulit dan tidak setajam ketika baru disemprotkan.
Itulah sebabnya parfum yang terasa sangat kuat pada awal semprotan belum tentu memiliki aroma yang sama kuatnya setelah beberapa puluh menit.
Cara Mengurangi Aroma Parfum yang Terasa Menyengat
Jika parfum terasa terlalu kuat ketika baru digunakan, jumlah semprotan dapat dikurangi terlebih dahulu. Hindari menyemprotkan parfum terlalu dekat dengan wajah dan pilih area tubuh yang tidak berada tepat di sekitar hidung.
Perhatikan juga tempat penggunaannya. Ruangan dengan sirkulasi udara yang baik dapat membuat aroma tidak terlalu menumpuk di satu tempat.
Selain itu, memberikan waktu beberapa menit untuk melihat perubahan aroma parfum dapat membantu mengetahui karakter wanginya setelah top notes mulai berkurang.