- Sejak beroperasi pada 2020, Jago Coffee mengembangkan bisnis kopi bergerak menggunakan gerobak listrik berteknologi dan aplikasi pemesanan.
- Jago Coffee berhasil menghimpun pendanaan total lebih dari US$20 juta hingga mencapai valuasi sekitar US$63,5 juta pada Februari 2026.
- Ketiga pendiri Jago Coffee terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur di Montreal, Kanada, pada tanggal 17 September 2026.
Suara.com - Budaya minum kopi di Indonesia terus berkembang. Jika sebelumnya menikmati kopi identik dengan datang ke kedai, kini secangkir kopi bisa ditemukan lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari, mulai dari kawasan perkantoran, permukiman, hingga titik transit.
Perubahan kebiasaan tersebut ikut mendorong munculnya model penjualan kopi yang lebih fleksibel. Salah satunya melalui gerobak listrik yang memungkinkan penjual berpindah mengikuti lokasi dan kebutuhan konsumen.
Model inilah yang dikembangkan Jago Coffee sejak mulai beroperasi pada 2020. Berawal dari dua prototipe gerobak listrik dan tiga barista, Jago Coffee kini membangun jaringan penjualan kopi dengan memadukan mobilitas, teknologi, dan harga yang relatif terjangkau.
Kopi yang ditawarkan dibanderol mulai Rp8.000 hingga Rp12.000. Konsumen juga dapat memesan melalui aplikasi dengan layanan pengantaran tanpa biaya antar.
Alih-alih mengandalkan kedai dengan lokasi tetap, gerobak Jago Coffee atau yang disebut Jagoan dapat berpindah dan berada lebih dekat dengan konsumen.
Yoshua Tanu, Co-Founder & CEO Jago Coffee, mengatakan pendekatan tersebut berangkat dari gagasan bahwa masa depan bisnis kopi tidak hanya bergantung pada jumlah kedai yang dibangun.
“Kami percaya masa depan kopi bukan hanya tentang membangun lebih banyak kedai, tetapi tentang bagaimana kopi bisa hadir lebih dekat dengan konsumen. Gerobak listrik memungkinkan kami memindahkan titik penjualan mengikuti kebutuhan konsumen, sementara teknologi membantu kami mengelolanya secara efisien.”
Kopi yang Mengikuti Mobilitas Konsumen
Gerobak listrik menjadi bagian penting dari model bisnis Jago Coffee. Armada tersebut dijalankan oleh barista yang disebut “Jagoan” dan dapat beroperasi di berbagai titik sesuai dengan kebutuhan.
Di baliknya, teknologi digunakan untuk mengatur pengiriman, rute, hingga data permintaan armada.
Pendekatan ini membuat pengalaman membeli kopi tidak harus selalu dikaitkan dengan aktivitas nongkrong di kedai. Bagi konsumen yang sedang bekerja, tinggal di kawasan permukiman, atau berada di titik transit, kopi dapat hadir lebih dekat dengan rutinitas mereka.
Model tersebut juga dibarengi dengan program Jagoan Academy. Para mitra mendapatkan pelatihan melalui kelas daring dan ujian praktik sebelum mulai beroperasi.
Proses onboarding bahkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam.
“Yang kami bangun bukan hanya armada kafe bergerak, tetapi budaya wirausaha mikro generasi baru: para Jagoan,” ujar Yoshua.
Menurutnya, melalui Jagoan Academy, para mitra tidak hanya menjalankan usaha dengan merek dan standar yang sama, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian mereka.