- Masyarakat Adat Mairasi di Papua Barat menggunakan gelang waraya sebagai penanda identitas dan hubungan dengan alam.
- Perempuan adat mewariskan pengetahuan pembuatan gelang waraya berbagai warna ini kepada generasi muda secara turun-temurun.
- Generasi muda Mairasi perlu mempelajari dan melestarikan makna waraya agar budaya leluhur tidak hilang ditelan modernisasi.
Suara.com - Di hutan tempat Masyarakat Adat Suku Mairasi menggantungkan hidup, tumbuh tanaman yang akarnya kelak dipilin menjadi waraya. Benda itu melingkar di pergelangan tangan. Gelang ini punya cerita panjang tentang asal usul mereka dan hubungannya dengan Alam.
Bagi Masyarakat Adat Mairasi di Kabupaten Teluk Wondama dan Kaimana, Papua Barat, waraya ialah penanda tentang identitas seorang, dari mana ia berasal, serta hubungan yang terus dijaga dengan alam dan leluhur.
Pengetahuan untuk membuatnya diwariskan antargenerasi, terutama melalui perempuan adat yang mengolah bahan dari akar tanaman menjalar di hutan.
Dari bahan sederhana itu, lahir benda budaya yang menyimpan pengetahuan tentang alam, kehidupan sosial, dan nilai-nilai adat Mairasi.
Yustina Sabarnao, salah seorang perempuan adat Mairasi, mengatakan waraya memiliki beberapa jenis berdasarkan warna tali yang digunakan. Tali berwarna hitam disebut wawur. Gelang yang seluruh talinya berwarna hitam disebut wara’i wawur. Ada pula wara’i irisitatc, yang menggunakan kombinasi tali hitam dan putih, serta wara’i akwa dengan tali berwarna putih.
Perbedaan itu bukan sekadar soal warna

Di balik bentuknya yang sederhana, kata Yustina, tersimpan cerita mengenai identitas, keberanian, hubungan dengan alam, serta nilai kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Setiap bentuk, bahan, cara membuat, hingga cara menggunakannya memiliki cerita tersendiri. Begitu juga dengan maknanya,” ujarnya.
Bagi orang yang tidak mengenal adat Mairasi, waraya mungkin hanya terlihat seperti gelang yang dikenakan di lengan. Tetapi bagi masyarakat Mairasi, benda itu dapat menjadi bagian dari identitas seorang lelaki maupun perempuan.
Ketika Gelang Menjadi Penanda Tanggung Jawab
Pemuda spiritual adat Mairasi, Ishak Nyalo, mengatakan waraya menjadi salah satu simbol keterikatan manusia Mairasi dengan adat dan alam tempat mereka hidup.
Sejak dahulu, lelaki dalam masyarakat Mairasi memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, kelompok kekerabatan, wilayah adat, serta alam yang menjadi sumber kehidupan. Sebagian pengetahuan tentang tanggung jawab itu tidak diwariskan melalui kata-kata, melainkan melalui kebiasaan, benda adat, dan praktik kehidupan sehari-hari.
“Di situlah, makna waraya mendapatkan tempatnya,” kata Ishak.
Hubungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat Mairasi memandang lingkungan di sekitarnya. Hutan, sungai, gunung, tanah, dan sumber kehidupan lainnya bukan semata-mata tempat untuk mengambil kebutuhan hidup. Semua itu juga menjadi bagian dari ruang budaya dan identitas.
Karena itu, seseorang yang mengenakan waraya membawa lebih dari sekadar benda yang melingkar di tubuhnya.
“Seorang lelaki yang mengenakannya membawa sebuah pesan sederhana: bahwa dirinya merupakan bagian dari komunitas, memiliki akar budaya, dan mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nilai yang diwariskan oleh leluhur,” ujar Ishak.
Menjaga Cerita di Balik Waraya
Perubahan zaman membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan waraya. Bagi Ishak, pengetahuan tentang gelang adat itu tidak cukup jika hanya tersimpan dalam ingatan generasi tua.
Seperti kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengetahuan tentang waraya juga perlu terus dikenalkan kepada anak-anak muda Mairasi. Mereka perlu memahami bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk rumah adat, tarian, bahasa, atau upacara.
Benda yang tampak sederhana pun dapat menyimpan pengetahuan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Untuk memahami waraya, kata Ishak, generasi muda perlu kembali bertanya kepada para tetua: dari mana gelang itu berasal, siapa yang boleh mengenakannya, bagaimana cara membuatnya, kapan digunakan, dan apa makna yang terkandung di dalamnya.
“Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena sebuah budaya akan tetap hidup ketika generasi muda tidak hanya melihatnya sebagai benda lama, tetapi memahami cerita dan nilai yang ada di baliknya,” tuturnya.
Membawa Waraya Keluar dari Mairasi
Modernisasi membuat pakaian dan aksesori baru semakin mudah ditemukan. Gelang tradisional pun berhadapan dengan berbagai pilihan yang lebih dekat dengan selera zaman.
Namun, bagi pemuda adat Mairasi Agustinus Vet, perubahan tidak harus membuat waraya ditinggalkan.
Generasi sekarang, menurutnya, tetap dapat mengenakan waraya sekaligus memperkenalkan makna yang menyertainya kepada masyarakat di luar komunitas.
“Seorang lelaki Mairasi yang mengenakan waraya bukan sekadar memakai aksesori tradisional. Ia sedang membawa serta makna waraya: sebuah cerita tentang leluhur, tanah adat, hubungan sosial, dan identitas masyarakatnya,” kata Agustinus.
Karena itu, menjaga waraya bukan semata-mata mempertahankan bentuk gelang. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan, cerita, nilai, serta tata cara yang menyertainya.
Para tetua adat dapat terus menceritakan sejarah waraya, sementara generasi muda memiliki ruang untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan meneruskannya.
Sebab, gelang itu mungkin masih dapat dibuat bertahun-tahun mendatang. Tetapi jika cerita di baliknya tidak lagi diwariskan, waraya bisa saja tetap melingkar di pergelangan tangan, sementara sebagian dari maknanya perlahan hilang.