- Lemonilo didirikan pada 1 Oktober 2016 oleh Shinta Nurfauzia guna memperluas akses makanan sehat di Indonesia.
- Perusahaan menyediakan berbagai produk tanpa pengawet, penguat rasa, dan pewarna buatan di 103.000 titik penjualan.
- Lemonilo meraih sertifikasi B Corp pada usia satu dekade untuk menilai dampak perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.
Suara.com - Memilih gaya hidup sehat kerap dimulai dari hal-hal sederhana, mulai dari memperhatikan makanan yang dikonsumsi, memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan, hingga membangun kebiasaan baik secara konsisten.
Namun, pilihan tersebut akan lebih mudah diterapkan ketika masyarakat memiliki akses terhadap beragam produk yang mendukung keseharian mereka.
Pilihan makanan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan membangun kebiasaan hidup sehat.
Bukan berarti harus mengubah seluruh pola hidup sekaligus, tetapi memberi ruang bagi masyarakat untuk membuat keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing.
Di Indonesia, upaya memperluas akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat turut mewarnai perkembangan industri makanan dan minuman dalam satu dekade terakhir. Salah satunya melalui kehadiran Lemonilo, yang didirikan pada 1 Oktober 2016 dengan misi membuat pilihan makanan yang lebih sehat dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.
Co-Founder dan Co-CEO Lemonilo, Shinta Nurfauzia, mengatakan perusahaan tersebut berangkat dari keinginan menjembatani kesenjangan antara produk sehat yang relatif mahal dan produk kebutuhan sehari-hari yang tersedia luas di pasaran.
“Sepuluh tahun lalu kami memulai Lemonilo dengan mimpi sederhana, yaitu membuat pilihan makanan yang lebih sehat dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Setelah melewati perjalanan selama satu dekade, kami belajar bahwa membangun Indonesia yang lebih sehat akan sangat berkaitan dengan bagaimana sebuah perusahaan menjalankan bisnisnya,” ujar Shinta.
Berawal dari lokapasar produk sehat, perusahaan ini kemudian berkembang dengan menghadirkan beragam kategori produk, mulai dari mi instan, camilan, hingga bumbu dapur. Dalam pengembangan produknya, perusahaan mengusung standar tanpa 3P, yakni pengawet, penguat rasa, dan pewarna buatan.
Kini, produknya tersedia di lebih dari 103.000 titik penjualan di Indonesia serta sejumlah pasar internasional.
Pilihan Sehat Dimulai dari Keseharian
Membangun kebiasaan hidup sehat tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Memperhatikan komposisi makanan, memahami kebutuhan tubuh, dan membiasakan diri membaca informasi pada kemasan dapat menjadi langkah awal untuk membuat pilihan yang lebih bijak.
Ketersediaan produk dengan karakteristik yang beragam juga memberi masyarakat kesempatan untuk menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, tidak ada satu jenis produk yang otomatis menjamin pola hidup sehat. Kualitas pola makan tetap dipengaruhi oleh keseimbangan asupan, variasi makanan, porsi, serta kebiasaan hidup secara keseluruhan.
Dengan pemahaman tersebut, gaya hidup sehat bukan semata-mata tentang memilih produk tertentu, melainkan membangun kesadaran dalam menentukan apa yang dikonsumsi dan bagaimana menjaga keseimbangan dalam keseharian.
Hidup Sehat Juga Berkaitan dengan Lingkungan
Selain makanan, kualitas hidup turut dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang tinggal, kondisi kerja, serta hubungan dengan komunitas. Karena itu, pembahasan mengenai hidup sehat semakin luas, mencakup pula bagaimana aktivitas ekonomi dan bisnis memengaruhi manusia serta lingkungan.
Perspektif ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam sertifikasi B Corp yang diraih perusahaan tersebut saat memasuki usia satu dekade. Dikembangkan oleh B Lab, sertifikasi ini menilai dampak perusahaan terhadap manusia dan lingkungan melalui berbagai aspek bisnis.
Penilaiannya menggunakan B Impact Assessment yang mencakup lima area utama, yakni tata kelola perusahaan (Governance), pekerja (Workers), komunitas (Community), lingkungan (Environment), dan konsumen (Customers).
Aspek yang dinilai meliputi cara perusahaan mengambil keputusan, memperhatikan kesejahteraan pekerja, mengelola dampak lingkungan, membangun hubungan dengan komunitas, serta menjalankan tanggung jawab terhadap konsumen.
Shinta mengatakan, pencapaian tersebut menjadi pengingat bahwa pertumbuhan perusahaan perlu berjalan bersama tanggung jawab sosial dan lingkungan.
“Ini adalah standar yang membantu kami melihat Lemonilo secara lebih menyeluruh dan menjadi pengingat bahwa pertumbuhan bisnis perlu berjalan bersama tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan hidup sehat merupakan proses yang berlangsung dalam keseharian. Pilihan makanan yang sesuai kebutuhan, kebiasaan memahami informasi produk, pola makan seimbang, serta lingkungan yang mendukung dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana yang dijalankan secara konsisten dapat membantu masyarakat membangun kebiasaan yang lebih baik, sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.