- Penyanyi Andien Aisyah menceritakan pengalaman didiagnosis tumor payudara pada usia enam belas tahun.
- Andien dan ibunya mengubah pola makan sehat setelah menjalani operasi pengangkatan tumor tersebut.
- Andien membagikan kisah kesehatannya dalam program Care Forvita Life pada Oktober dua ribu enam belas.
Suara.com - Pengalaman tak terlupakan dialami penyanyi Andien Aisyah saat masih berusia 16 tahun. Di usia yang terbilang muda, ia menemukan benjolan di payudaranya yang belakangan diketahui merupakan tumor.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik bagi Andien untuk lebih memperhatikan kesehatan, termasuk mengubah kebiasaan makan yang telah dijalaninya sejak kecil.
Andien mengungkapkan, awalnya ia tidak menyangka benjolan yang muncul di tubuhnya bisa menjadi masalah serius. Saat itu, ia merasa penyakit seperti tumor dan kanker payudara lebih identik dengan orang-orang berusia dewasa.
Anggapan tersebut membuat Andien sempat menyimpan kekhawatirannya sendiri. Namun, seiring waktu, benjolan yang dirasakannya semakin membesar hingga akhirnya ia memberanikan diri bercerita kepada sang ibu.
"Terus ibuku ngajak ke dokter. Nah, dokter bilang ini adalah tumor payudara yang kalau tidak dirawat, tidak di-takecare, ini mungkin banget untuk menyebar menjadi kanker," kenang Andien dalam sebuah perbincangan.
Kabar tersebut tentu menjadi pengalaman yang mengejutkan bagi Andien. Terlebih, ia mengaku tidak memiliki riwayat penyakit serupa di keluarganya sehingga sebelumnya tidak terlalu mengenal persoalan tumor maupun kanker payudara.
Mengubah Kebiasaan Makan Sejak Remaja
Pengalaman tersebut membuat Andien dan keluarganya mulai mengevaluasi pola hidup sehari-hari. Ia menuturkan, setelah menelusuri kebiasaan yang dijalaninya, mereka mulai memberikan perhatian lebih terhadap makanan yang dikonsumsi.
Andien mengingat bagaimana makanan instan dan produk olahan kerap menjadi pilihan praktis dalam keseharian. Sejak saat itu, ia bersama sang ibu berusaha mengganti pilihan makanan di meja makan maupun bekal dengan alternatif yang lebih sehat.
Perubahan tersebut tidak terjadi sekaligus. Andien mengaku kesadarannya mengenai pentingnya gaya hidup sehat terus berkembang, terutama ketika ia beranjak dewasa dan mulai mencari informasi lebih jauh mengenai kesehatan.
Setelah menjalani operasi untuk mengangkat tumor, Andien juga rutin melakukan pemeriksaan setiap enam bulan sekali. Ia ingin memastikan kondisinya tetap terpantau sekaligus menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Keinginannya untuk terus mendampingi anak-anak hingga mereka dewasa turut memperkuat komitmen tersebut.
"Jadi yang tadinya mungkin kalau makan ayam, ayamnya yang ayam olahan cepat saji, pada saat itu udah langsung diganti sama ayamnya ayam beneran," ungkapnya.
Bagi Andien, menjalani pola hidup sehat bukan sekadar mengubah satu atau dua jenis makanan. Ia ingin membangun kebiasaan yang bisa diterapkan bersama seluruh anggota keluarga agar mereka dapat menikmati waktu bersama dalam kondisi sehat.
Berbagi Pengalaman di Bulan Kesadaran Kanker Payudara

Pengalaman Andien tersebut dibagikan dalam rangkaian program Care Forvita Life 2026, yang digelar Forvita Margarin bersama Yayasan Kanker Payudara Indonesia untuk memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara pada Oktober.
Program tersebut dibuka melalui kegiatan Run For Care for Breast Cancer Awareness bersama komunitas Slow Girls Society di sekitar BSD City. Sekitar 50 peserta mengenakan atribut berwarna merah muda sebagai simbol dukungan terhadap penyintas kanker payudara.
Selain kegiatan lari, Forvita dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia menghadirkan layanan pemeriksaan payudara gratis di area parkir AEON Mall BSD City.
Sebanyak 50 pasien mendapatkan pemeriksaan yang meliputi pengecekan tekanan darah, skrining SADANIS oleh tim medis, serta pemeriksaan lanjutan menggunakan mobil mamografi.
Dalam sesi diskusi bertema Tasty without Worry: Sehat Dimulai dari Pilihan Sehari-Hari, Andien berbagi panggung dengan dr. Martha Roida Manurung dari RSK Dharmais, Wiranti Ratanattaya selaku Brand Manager Forvita, serta perwakilan Yayasan Kanker Payudara Indonesia.
Andien menekankan pentingnya memulai kebiasaan sehat dari pilihan sehari-hari, termasuk makanan yang dikonsumsi keluarga. Sejalan dengan tema acara, Forvita juga memperkenalkan produknya yang diklaim bebas lemak trans.
Lemak trans perlu diperhatikan karena konsumsinya dapat meningkatkan kolesterol LDL atau kolesterol jahat sekaligus menurunkan kolesterol HDL.
Namun, perubahan pola makan tidak dapat dianggap sebagai jaminan untuk mencegah tumor atau kanker payudara. Faktor risiko penyakit tersebut beragam sehingga pemeriksaan medis tetap penting.
Sementara itu, dr. Martha mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan pada payudara melalui SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri. Jika menemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Melalui program Care Forvita Life, Forvita juga merencanakan edukasi kesehatan dan demonstrasi memasak di sejumlah toko selama Oktober 2026 hingga Maret 2027. Sebagian keuntungan penjualan Forvita Tub dalam periode tersebut akan disisihkan untuk mendukung kegiatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia.
Bagi Andien, pengalaman saat remaja menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kesehatan perlu dibangun sejak dini. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi keluarga dan masa depan yang ingin dijalani bersama.