Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan

Husna Rahmayunita, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:04 WIB
Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan
Ilustrasi pernikahan dini, perkawinan anak (pexels.com/Daria Obymaha)
baca 10 detik
  • Proporsi perkawinan anak di daerah masih mencatatkan angka di atas 10 persen.

  • Risiko stunting meningkat akibat tingginya angka perkawinan anak di daerah.

  • Pelibatan remaja perempuan mendesak demi cegah masalah perkawinan anak di daerah.

  •  

Suara.com - Perkawinan anak masih menjadi persoalan di Indonesia. Meski angkanya secara nasional menunjukkan penurunan, sejumlah daerah masih mencatat proporsi perkawinan anak di atas 10 persen.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan anak remaja perempuan masih kerap luput dari perhatian dalam program pembangunan. Padahal, kelompok ini berada pada masa kritis yang dapat menentukan masa depan mereka, termasuk peluang untuk menjadi pemimpin.

"Kalau kita bicara mau investasi terus kemudian perempuan menjadi pemimpin ke depannya, tapi kalau pipeline-nya ini tidak dibangun, akan kecil juga nih pool calon-calon pemimpin perempuan," ujar Dini saat diskusi media Perayaan 10 tahun Girls Takeover di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).

Menurut Dini, Plan Indonesia memang berfokus pada remaja dan anak muda perempuan karena mereka masih menghadapi berbagai hambatan untuk mendapatkan akses dan kesempatan.

Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut perkawinan anak, tetapi juga keberlanjutan pendidikan hingga jenjang menengah dan perguruan tinggi.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti. [Suara.com/Dini Afrianti]
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti. [Suara.com/Dini Afrianti]

Ia menyebut, berdasarkan data yang dirujuknya, hampir 20 persen anak perempuan pada kelompok usia SMA dan SMK belum bersekolah. Di sisi lain, angka perkawinan anak di sejumlah daerah masih mencapai 11 hingga 12 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 memperlihatkan bahwa proporsi perempuan berusia 20–24 tahun yang menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun mencapai 4,56 persen secara nasional. Angka ini berbeda cukup jauh antardaerah.

Papua Selatan mencatat proporsi tertinggi sebesar 12,94 persen, disusul Papua Barat sebesar 12,25 persen, Nusa Tenggara Barat sebesar 11,31 persen, dan Sulawesi Barat sebesar 11,21 persen.

Sementara itu, DKI Jakarta tercatat sebesar 0,86 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan perkawinan anak belum merata penyelesaiannya di seluruh wilayah Indonesia.

baca juga

Dini menegaskan, dampak perkawinan pada usia anak tidak berhenti pada kehidupan individu yang mengalaminya. Keputusan menikah dan memiliki anak pada usia muda juga dapat berkaitan dengan kesehatan generasi Indonesia di masa mendatang.

"Kalau kita bicara stunting, datanya adalah misalnya perempuan yang kawin di usia muda dan punya anak di usia yang masih muda, kemungkinan anaknya stunting itu juga lebih besar," katanya.

Dini menilai terbatasnya kesempatan bagi anak perempuan tidak bisa semata-mata dijelaskan oleh budaya atau norma sosial. Hambatan juga dapat muncul dari sistem dan ketersediaan layanan yang belum mendukung kebutuhan mereka.

Ia mencontohkan akses menuju sekolah di wilayah terpencil. Jarak sekolah yang jauh, perjalanan yang harus ditempuh dalam kondisi gelap, hingga kekhawatiran orang tua terhadap keamanan anak perempuan dapat menghambat keberlanjutan pendidikan.

"Jadi banyak hal yang not necessarily cuma masalah norma, tapi masalah sistem, masalah services juga yang masih membatasi," ujar Dini.

Menurut Dini, keterbatasan kesempatan yang dialami remaja perempuan, termasuk yang dapat meningkatkan kerentanan mereka terhadap perkawinan anak, perlu diatasi dengan memberikan ruang bagi mereka untuk menjadi pemimpin di berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Dengan begitu, mereka dapat menyampaikan perspektif, gagasan, dan aspirasi.

Hal ini sejalan dengan program Girls Takeover, yang melibatkan remaja perempuan agar dapat menyalurkan pendapat mereka terkait isu-isu yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka.

Inisiatif yang digelar di Indonesia sejak 2016 ini telah melibatkan anak perempuan untuk mengambil alih tujuh posisi menteri dan lebih dari 40 posisi strategis di berbagai lembaga, termasuk MRT Jakarta dan sejumlah kedutaan besar.

Melalui program ini, anak perempuan diharapkan menjadi lebih berani menyampaikan pendapat dan keinginan mereka, sekaligus menginspirasi remaja perempuan lainnya agar lebih berdaya serta mendorong lahirnya kebijakan publik yang dapat menyejahterakan perempuan di Indonesia.

"Ketika suara mereka didengar, perspektif mereka dipertimbangkan, dan mereka mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinannya. Tantangannya sekarang adalah memastikan kesempatan menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk terus memimpin dan mendorong perubahan," pungkas Dini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anak Urus Anak: KPI Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Pernikahan Dini di Indonesia

Anak Urus Anak: KPI Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Pernikahan Dini di Indonesia

News | Jum'at, 10 April 2026 | 08:06 WIB

Tuai Pro Kontra, Film Na Willa Dinilai Normalisasi Pernikahan Dini

Tuai Pro Kontra, Film Na Willa Dinilai Normalisasi Pernikahan Dini

Entertainment | Minggu, 29 Maret 2026 | 11:00 WIB

Masih 16 Tahun, Adegan Ranjang Richelle Skornicki dengan Aliando di Pernikahan Dini Gen Z Dikecam

Masih 16 Tahun, Adegan Ranjang Richelle Skornicki dengan Aliando di Pernikahan Dini Gen Z Dikecam

Entertainment | Rabu, 14 Januari 2026 | 11:34 WIB

Kemen PPPA Kecam Aksi Ibu Mutilasi Bayi di Jember, Soroti Dampak Pernikahan Dini dan Pengasuhan

Kemen PPPA Kecam Aksi Ibu Mutilasi Bayi di Jember, Soroti Dampak Pernikahan Dini dan Pengasuhan

News | Senin, 05 Januari 2026 | 11:36 WIB

Rahasia di Balik Adegan Dewasa Serial Pernikahan Dini Gen Z

Rahasia di Balik Adegan Dewasa Serial Pernikahan Dini Gen Z

Entertainment | Jum'at, 19 Desember 2025 | 13:45 WIB

Terkini

Rekomendasi Mobil Murah untuk Pekerja Bergaji UMP Jakarta

Rekomendasi Mobil Murah untuk Pekerja Bergaji UMP Jakarta

Otomotif | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:25 WIB

Pakar Lingkungan UGM: Keputusan Karhutla Bukan Bencana Nasional Adalah Kekonyolan

Pakar Lingkungan UGM: Keputusan Karhutla Bukan Bencana Nasional Adalah Kekonyolan

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:23 WIB

Persib Dapat Keuntungan di ACL 2, The Cong Viettel Diterpa Krisis Pemain

Persib Dapat Keuntungan di ACL 2, The Cong Viettel Diterpa Krisis Pemain

Bola | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Asap Tak Kenal Retorika: Menguji Keseriusan Pemerintah Menangani Karhutla

Asap Tak Kenal Retorika: Menguji Keseriusan Pemerintah Menangani Karhutla

Your Say | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:20 WIB

8.093 Berkas Sertifikat Tanah Warga Jakarta Mandek, DPRD Desak Percepatan Penyelesaian

8.093 Berkas Sertifikat Tanah Warga Jakarta Mandek, DPRD Desak Percepatan Penyelesaian

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:16 WIB

Sekolah di Pekanbaru PJJ Lagi, Imbas Kabut Asap Tak Kunjung Hilang

Sekolah di Pekanbaru PJJ Lagi, Imbas Kabut Asap Tak Kunjung Hilang

Riau | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:11 WIB

Mengapa Pemerintah Tidak Menetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional?

Mengapa Pemerintah Tidak Menetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional?

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:10 WIB

Oppo ColorOS 17 Bawa AI yang Bisa Bereskan File hingga Bikin Itinerary

Oppo ColorOS 17 Bawa AI yang Bisa Bereskan File hingga Bikin Itinerary

Tekno | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:09 WIB

3 Rekomendasi Sneakers Kanky Tanpa Tali, Handsfree Nyaman Buat Jalan Jauh

3 Rekomendasi Sneakers Kanky Tanpa Tali, Handsfree Nyaman Buat Jalan Jauh

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:05 WIB

Menanti Wajah Baru Teluk Mendale Setelah Rusak Diterjang Bencana

Menanti Wajah Baru Teluk Mendale Setelah Rusak Diterjang Bencana

Foto | Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:00 WIB

×