- Little Siam Fest mengadakan kompetisi memasak nasi goreng nanas di Little Siam Milenial Park PIK2 pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
- Peserta kompetisi wajib mengolah hidangan secara mandiri selama 60 menit tanpa menggunakan bumbu instan dan bantuan orang lain.
- Dewi juri menilai peserta berdasarkan aspek rasa, kreativitas, presentasi, kesesuaian tema Thailand, serta kebersihan selama proses memasak.
Suara.com - Kuliner Thailand selama ini cukup mudah dikenali dari sejumlah hidangan populernya, seperti tom yum, pad thai hingga mango sticky rice. Namun, kekayaan kuliner Negeri Gajah Putih sebenarnya tidak berhenti pada makanan-makanan tersebut.
Ada banyak hidangan yang menarik untuk dikenali, termasuk nasi goreng nanas atau pineapple fried rice. Perpaduan nasi berbumbu gurih dengan potongan nanas memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Rasa manis dan segar dari buah berpadu dengan bumbu serta bahan pelengkap yang digunakan dalam nasi goreng.
Yang membuat hidangan ini semakin menarik adalah cara penyajiannya. Nasi goreng nanas kerap disajikan di dalam kulit buah nanas yang sudah dikosongkan. Selain memberikan tampilan khas, cara tersebut sekaligus memperkuat karakter buah yang menjadi salah satu elemen utama dalam hidangan.
Mengenal makanan seperti ini juga bisa menjadi cara untuk memahami karakter kuliner Thailand secara lebih dekat. Bukan hanya mengenai rasa, tetapi juga bagaimana bahan-bahan sederhana dapat dipadukan menjadi sajian yang memiliki identitas tersendiri.
Konsep tersebut kemudian diangkat dalam salah satu kegiatan kuliner di Little Siam Fest, yang berlangsung di Little Siam Milenial Park, Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2), Sabtu (17/10/2026).
Pengunjung diajak tidak hanya mencicipi makanan Thailand, tetapi juga mencoba proses membuat salah satu hidangannya melalui kompetisi memasak nasi goreng nanas.
Kegiatan ini memberikan pengalaman yang berbeda karena peserta harus mengolah hidangan tersebut secara mandiri. Mereka diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan proses memasak hingga penyajian.
Peserta juga membawa sendiri bahan makanan dan peralatan pendukung yang diperlukan. Sementara kompor portabel dan gas disediakan oleh panitia.
Ada sejumlah aturan yang membuat kompetisi ini bukan sekadar soal siapa yang mampu memasak paling cepat. Peserta tidak diperbolehkan menggunakan bumbu instan maupun mendapatkan bantuan dari orang lain selama proses memasak.
Karena itu, kemampuan mengatur waktu, memilih bahan, meracik bumbu hingga menyajikan makanan menjadi bagian dari tantangan.
Penilaian dilakukan melalui beberapa aspek, mulai dari rasa, kreativitas dan presentasi, kesesuaian dengan tema Thailand, hingga kebersihan selama memasak. Kompetisi tersebut juga menghadirkan chef sebagai juri.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba pengalaman tersebut, pendaftaran dikenakan biaya Rp50.000. Peserta berkesempatan mendapatkan hadiah dengan total jutaan rupiah. Menariknya, penyelenggara juga menyebut setiap peserta akan mendapatkan hadiah.
Namun, di luar kompetisi, kegiatan ini menunjukkan bahwa mengenal kuliner Thailand bisa dilakukan dengan cara yang lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya menjadi penikmat makanan, tetapi dapat melihat bagaimana sebuah hidangan diracik, memahami karakter rasanya, sekaligus mencoba mengembangkan kreativitas melalui bahan-bahan yang digunakan.
Untuk informasi mengenai lomba, masyarakat dapat menghubungi nomor 0878-8880-5700.Kuliner Thailand selama ini cukup mudah dikenali dari sejumlah hidangan populernya, seperti tom yum, pad thai hingga mango sticky rice. Namun, kekayaan kuliner Negeri Gajah Putih sebenarnya tidak berhenti pada makanan-makanan tersebut.
Ada banyak hidangan yang menarik untuk dikenali, termasuk nasi goreng nanas atau pineapple fried rice. Perpaduan nasi berbumbu gurih dengan potongan nanas memberikan pengalaman rasa yang berbeda.
Rasa manis dan segar dari buah berpadu dengan bumbu serta bahan pelengkap yang digunakan dalam nasi goreng. Yang membuat hidangan ini semakin menarik adalah cara penyajiannya.
Nasi goreng nanas kerap disajikan di dalam kulit buah nanas yang sudah dikosongkan. Selain memberikan tampilan khas, cara tersebut sekaligus memperkuat karakter buah yang menjadi salah satu elemen utama dalam hidangan.
Mengenal makanan seperti ini juga bisa menjadi cara untuk memahami karakter kuliner Thailand secara lebih dekat. Bukan hanya mengenai rasa, tetapi juga bagaimana bahan-bahan sederhana dapat dipadukan menjadi sajian yang memiliki identitas tersendiri.
Konsep tersebut kemudian diangkat dalam salah satu kegiatan kuliner di Little Siam Fest, yang berlangsung di Little Siam Milenial Park, Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2), Sabtu (17/10/2026).
Pengunjung diajak tidak hanya mencicipi makanan Thailand, tetapi juga mencoba proses membuat salah satu hidangannya melalui kompetisi memasak nasi goreng nanas.
Kegiatan ini memberikan pengalaman yang berbeda karena peserta harus mengolah hidangan tersebut secara mandiri. Mereka diberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan proses memasak hingga penyajian.
Peserta juga membawa sendiri bahan makanan dan peralatan pendukung yang diperlukan. Sementara kompor portabel dan gas disediakan oleh panitia.
Ada sejumlah aturan yang membuat kompetisi ini bukan sekadar soal siapa yang mampu memasak paling cepat. Peserta tidak diperbolehkan menggunakan bumbu instan maupun mendapatkan bantuan dari orang lain selama proses memasak.
Karena itu, kemampuan mengatur waktu, memilih bahan, meracik bumbu hingga menyajikan makanan menjadi bagian dari tantangan.
Penilaian dilakukan melalui beberapa aspek, mulai dari rasa, kreativitas dan presentasi, kesesuaian dengan tema Thailand, hingga kebersihan selama memasak. Kompetisi tersebut juga menghadirkan chef sebagai juri.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba pengalaman tersebut, pendaftaran dikenakan biaya Rp50.000. Peserta berkesempatan mendapatkan hadiah dengan total jutaan rupiah. Menariknya, penyelenggara juga menyebut setiap peserta akan mendapatkan hadiah.
Namun, di luar kompetisi, kegiatan ini menunjukkan bahwa mengenal kuliner Thailand bisa dilakukan dengan cara yang lebih interaktif.
Pengunjung tidak hanya menjadi penikmat makanan, tetapi dapat melihat bagaimana sebuah hidangan diracik, memahami karakter rasanya, sekaligus mencoba mengembangkan kreativitas melalui bahan-bahan yang digunakan.