- Sebanyak 36,8 persen pelaku UMKM di Indonesia telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk pemasaran dan layanan pelanggan.
- Survei Lalamove tahun 2026 mencatat sebanyak 50,5 persen responden merasa optimistis terhadap prospek bisnis nasional pada tahun 2027.
- Sekitar 60,7 persen responden menyatakan peningkatan kebutuhan layanan pengiriman barang ke beberapa titik tujuan yang berbeda.
Suara.com - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas bisnis sehari-hari, mulai dari membuat konten pemasaran hingga melayani pelanggan.
Survei UMKM 2026 yang dilakukan Lalamove terhadap lebih dari 300 pelaku UMKM pengguna layanannya menunjukkan, sebanyak 36,8 persen responden telah menggunakan AI untuk kebutuhan bisnis.
Sementara itu, 29,6 persen lainnya belum menggunakan teknologi tersebut, tetapi sedang mempertimbangkannya.
Pemasaran dan pembuatan konten menjadi bidang yang paling banyak memanfaatkan AI, dengan persentase mencapai 42,6 persen. Adapun 23,5 persen responden menggunakan teknologi tersebut untuk mendukung layanan pelanggan dan komunikasi.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan AI mulai menjadi salah satu pilihan bagi pelaku usaha untuk menunjang kegiatan bisnis, terutama dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pemasaran dan interaksi dengan pelanggan.
UMKM Optimistis Menatap 2027
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar, pelaku UMKM juga menunjukkan optimisme terhadap prospek bisnis ke depan.
Survei tersebut mencatat 50,5 persen responden optimistis terhadap prospek bisnis Indonesia pada 2027. Sementara itu, 30,3 persen lainnya memilih bersikap hati-hati.
Meski demikian, pelaku usaha tetap memperhatikan pengeluaran operasional. Sebanyak 50,5 persen responden memperkirakan biaya transportasi dan logistik akan relatif stabil, sedangkan 37,6 persen memperkirakan biaya tersebut meningkat.
Managing Director Lalamove Indonesia Andito B. Prakoso mengatakan, pelaku UMKM perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku pelanggan dan dinamika operasional bisnis.
Menurut dia, fleksibilitas pengiriman menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan agar pelaku usaha dapat merespons kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.
Kebutuhan Pengiriman Ikut Berubah
Selain pemanfaatan teknologi, survei tersebut menemukan perubahan kebutuhan pengiriman di kalangan UMKM.
Sebanyak 60,7 persen responden menyatakan semakin membutuhkan pengiriman ke beberapa titik tujuan. Sementara itu, 43,3 persen membutuhkan layanan pengiriman di luar jam operasional atau dengan waktu yang lebih fleksibel.
Kebutuhan ini antara lain dipengaruhi oleh ekspektasi pelanggan terhadap layanan yang lebih cepat, sebagaimana dinyatakan oleh 36,3 persen responden.