Suara.com - Laut bukan hanya dijadikan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. Bagi Masyarakat Adat di Desa Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), laut turut memiliki makna spiritual yang diturunkan melalui tradisi Tetulak Tamperan.
Tradisi tahunan ini menjadi bagian dari kehidupan nelayan suku Mandar, Bugis, dan Bajau yang mengandalkan penghidupan mereka pada hasil laut.
Secara harfiah, Tetulak Tamperan dimaknai sebagai ritual untuk menolak bala, musibah, dan berbagai marabahaya.
Namun, di balik pelaksanaannya, terkandung nilai mengenai hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Masyarakat tak hanya memandang laut sebagai tempat mencari rezeki, melainkan juga sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dihormati dan disyukuri.
Perjanjian Leluhur dengan Raja Laut
Tokoh adat Desa Pringgabaya, Amaq Rusdian, menerangkan bahwa Tetulak Tamperan bersumber dari legenda hubungan manusia dengan raja ikan paus biru.
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, seorang leluhur bernama Uaqdama bertemu paus biru saat berjalan di tepi laut. Paus tersebut penasaran dengan kecerdikan manusia.
Uaqdama kemudian membuat bebonto atau orang-orangan sawah dari jerami yang dipasangi kail. Benda itu diikatkan pada pohon di tepi pantai hingga akhirnya dimakan oleh sang paus.
"Saat sang paus menghampiri lalu memakan bebonto tersebut, raja laut itu tersangkut kali yang dipasang di dalamnya," jelas Amaq Rusdian dikutip dalam laman AMAN, Kamis (29/10).
Paus tersebut meminta pertolongan Uaqdama untuk membebaskannya. Sebagai gantinya, keduanya membuat kesepakatan.
Paus biru dan keturunannya berjanji untuk membantu serta menyelamatkan manusia yang tertimpa musibah di tengah laut. Sementara, manusia berjanji membenrikan sedekah dari rezeki dan hasil tangkapan yang diperoleh dari laut.
"Komitmen saling menjaga serta ikhtiar memohon perlindungan dari bala ini menjadi fondasi utama pelaksanaan tradisi Tetulak Tamperan," katanya.
Legende itulah yang menggambarkan bagaimana masyarakat setempat memaknai hubungan dengan laut melalui nilai saling menjaga, berbagi, dan bersyukur atas penghidupan yang didapatkan.
Tradisi yang Beradaptasi dengan Perubahan Zaman
Semakin berkembangnya zaman, pelaksanaan Tetulak Tamperan ini mengalami perubahan atau akulturasi budaya.
Masyarakat setempat telah menyesuaikan ritual dengan ajaran Islam agar pelaksanaannya tetap selaras dengan nilai-nilai agama.
Sebelum proses utama dilakukan, masyarakat terlebih dahulu mengadakan kegiatan keagamaan seperti pengajian, khataman, pembacaan Surah Yasin, dan zikir bersama.
Kegiatan tersebut bisa dilangsungkan di rumah warga maupun tepi pantai.
Untuk puncak ritualnya sendiri ini dikenal sebagai Buang Tetulak, yakni prosesi melarungkan berbagai bahan makanan ke laut sebagai perlambang sedekah.
Bahan-bahan yang disiapkan mencakup 44 jenis buah-buahan dan 44 jenis sayur-sayuran. Ada pula tebu, pisang mentah dan matang, ketan kuning, nasi putih, serta ayam panggang.
Jika perayaannya berskala besar, masyarakat menyiapkan lima wadah pesaji utama.
Jumlah tersebut memiliki makna tersendiri atau simbolis yang ada hubungannya dengan lima rukum Islam dan kewajiban salat lima waktu.
Amaq menekankan bahwa tradisi ini hadir bukan sebagai bentuk pemujaan kepada penguaa laut. Buang Tetulak itulah yang dimaknai sebagai wujud sedekah kepada makhluk ciptaan Tuhan di laut sekaligus ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan.
Meskipun demikian, pelestarian tradisi dan perlindungan ekosistem laut tetaplah membutuhkan upaya nyata dalam menjaga lingkungan itu sendiri.
Keduanya tetap dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Penulis: Chairunisa