Suara.com - Seharian menunggu air menetes ke dalam ember menjadi rutinitas Eka, warga Masyarakat Adat Kandangwesi di Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Air yang terkumpul disimpan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan esok hari.
Eka tinggal di bagian kampung yang jauh dari sumber mata air. Ketika aliran air di rumahnya berhenti, ia harus mencari air ke rumah tetangga yang masih mendapat pasokan. Kemarau 2026 membuat kehidupan warga semakin sulit, terutama mereka yang tinggal di wilayah bawah.
Dampak kekeringan juga menjalar ke sawah, peternakan, dan kolam ikan. Menghadapi kondisi tersebut, warga mulai mengupayakan pemulihan hutan adat untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang.
Kemarau memperlebar kesenjangan akses air
Warga menyebut kemarau tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hujan nyaris tidak turun sepanjang Mei hingga Oktober. Kalaupun turun, intensitasnya rendah dan berlangsung singkat.
Neneng, warga adat lainnya, mengatakan kepada AMAN pada Sabtu (24/10/2026), hujan sesekali memang masih datang, tetapi belum cukup mengatasi kekeringan.
Dampaknya bergantung pada lokasi tempat tinggal. Rumah Neneng yang dekat dengan mata air masih mendapat pasokan untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, warga seperti Eka harus menghadapi keterbatasan air setiap hari.
Salah satu sumber air yang masih bisa dimanfaatkan adalah Situ Gadok. Danau kecil dengan kedalaman sekitar satu meter itu memiliki bendungan yang dibangun warga bersama aparat desa pada 2025. Airnya masih dapat diambil untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari.
Bagi Eka, keberadaan bendungan tersebut menjadi penopang ketika pasokan air di permukiman berkurang. Warga pun terus berhemat karena belum mengetahui kapan hujan deras akan kembali turun.
Kekeringan mengganggu panen dan peternakan
Keterbatasan air turut memengaruhi penghidupan warga. Panen padi yang biasanya berlangsung dua hingga tiga kali setahun, pada 2026 baru bisa dilakukan sekali.
Peternak kesulitan mendapatkan pakan karena rumput mengering. Mereka harus mencari rumput hingga ke Kecamatan Bungbulang. Pemilik kolam ikan juga mempercepat penjualan sebelum ikan mati akibat volume air yang terus menyusut.
Irpan, pemuda adat Kandangwesi, mengatakan kemarau kali ini berdampak besar terhadap kehidupan warga, termasuk hewan peliharaan. Sejumlah petani bahkan mengalami gagal panen.
Kondisi tersebut membuat krisis air semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Berkurangnya air mengancam kebutuhan rumah tangga sekaligus sumber pangan dan pendapatan masyarakat.
Warga mulai memulihkan hutan adat
Tetua adat yang juga Kepala Desa Bojong, Atep Sumiarsa Bakri, mengaitkan kesulitan air dengan perubahan vegetasi di hutan sekitar wilayah adat. Menurut dia, kawasan yang dahulu ditumbuhi beragam jenis pohon kini lebih banyak ditanami pinus.
Atep menilai pinus menyerap banyak air dan menganggap program penanamannya kurang tepat. Ia juga mengkhawatirkan tanaman lain sulit tumbuh di sekitar pohon tersebut.
Pandangan mengenai pengaruh pinus terhadap ketersediaan air ini merupakan penilaian warga dan belum didukung kajian ilmiah yang dirujuk dalam laporan ini. Tanggapan pihak berwenang terkait program penanaman pinus juga belum diperoleh.
Sebagai respons, masyarakat adat mulai mengumpulkan bibit dan menanam kembali pohon yang dahulu banyak tumbuh di hutan mereka. Jenisnya antara lain loa, rasamala, kayu bungbulang, dan aren.
Targetnya mencapai satu juta pohon pada tahun depan. Hingga kini, bibit yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 500. Warga masih membutuhkan dukungan untuk memperbanyak bibit, melakukan penanaman, serta merawat pohon agar dapat tumbuh.
Bagi Atep, upaya tersebut juga berkaitan dengan pemulihan nilai-nilai adat dalam menjaga alam.
“Pokoknya sekarang yang perlu diluruskan (kembali) adalah jiwa adat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat di wilayah bawah bergantung pada kondisi hutan di wilayah atas.
Target satu juta pohon masih jauh dari jumlah bibit yang tersedia. Di kampung paling bawah Desa Bojong, Eka dan warga lainnya masih harus menghemat air sambil menunggu hujan. Upaya pemulihan hutan kini menjadi salah satu ikhtiar masyarakat Kandangwesi untuk menjaga sumber kehidupan mereka pada masa mendatang.
Penulis: Inesia Dian