- The Solitaire di KEK Sanur, Bali, merayakan ulang tahun desainer Erika Peña dengan tema perpaduan fashion dan bedah estetika.
- Para ahli medis menegaskan bahwa bedah estetika memerlukan pendekatan personal dan presisi tinggi, bukan sekadar mengikuti tren populer.
- The Solitaire menghadirkan lima klinik mitra internasional untuk menjadikan Bali sebagai destinasi global utama dalam bidang *medical tourism*.
Suara.com - Dunia fashion dan kedokteran estetika sekilas terlihat berada di dua jalur yang berbeda. Fashion identik dengan panggung, desain, kreativitas, dan ekspresi diri, sementara kedokteran estetika berkaitan dengan anatomi, presisi, pertimbangan klinis, hingga keselamatan pasien.
Namun, keduanya ternyata memiliki satu titik temu yang cukup kuat, yakni bagaimana melihat setiap individu sebagai pribadi yang memiliki karakter dan kebutuhan berbeda.
Persinggungan tersebut terlihat dalam perayaan ulang tahun ke-20 desainer internasional Erika Peña di Bali. Mengusung tema From Runway to Transformation, acara ini mempertemukan dunia fashion dengan keahlian medis melalui gagasan tentang craftsmanship, presisi, dan identitas personal.
Bagi The Solitaire, World-Class Aesthetic Surgery & Longevity Centre yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur, Bali, tema tersebut sejalan dengan filosofi The House of Expertise yang mereka usung.
Fashion dapat menjadi medium untuk mengekspresikan identitas seseorang melalui desain dan detail. Sementara dalam bedah estetika, pendekatan terhadap seseorang juga tidak bisa dibuat seragam. Bentuk wajah, proporsi tubuh, kondisi medis, hingga ekspektasi personal perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan tindakan.
Dengan kata lain, sesuatu yang terlihat menarik pada seseorang belum tentu menjadi pilihan yang tepat bagi orang lain.
Ketika Tren Bukan Lagi Satu-satunya Acuan
Perkembangan media sosial membuat berbagai referensi kecantikan semakin mudah ditemukan. Tren bentuk wajah, kontur tubuh, hingga prosedur estetika tertentu dapat dengan cepat menjadi perhatian banyak orang.
Namun, popularitas sebuah tren tidak serta-merta membuatnya cocok untuk semua individu.
Dr. Eduardo, Dokter Bedah dari World Class Plastic Surgeons (WCPS), menilai bahwa bedah estetika seharusnya tidak berangkat dari keinginan untuk sekadar mengikuti tampilan yang sedang populer.
“Bedah estetika bukan tentang mengikuti tren, melainkan memahami anatomi, proporsi, dan kebutuhan setiap individu. Presisi, pengalaman, dan keahlian medis sangat penting untuk mencapai hasil yang harmonis dan seimbang, dengan tetap menghormati karakteristik tubuh setiap pasien,” kata Dr. Eduardo.
Menurutnya, pengalaman profesional memiliki peran penting dalam menentukan pendekatan yang sesuai. Dokter tidak hanya dituntut mampu melakukan prosedur, tetapi juga memahami anatomi, mempertimbangkan keterbatasan, serta membantu pasien memiliki ekspektasi yang realistis terhadap hasil perawatan.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi dalam kedokteran estetika bukan sekadar tentang perubahan penampilan. Ada proses untuk memahami apa yang dibutuhkan seseorang sebelum menentukan tindakan.
Hal serupa disampaikan Hwang Yujin, Pendiri Banobagi Plastic Surgery dan Woori Plastic Surgery. Ia menilai kecantikan tidak bisa didefinisikan dengan satu standar yang berlaku bagi semua orang.
“Kami percaya bahwa kecantikan tidak dapat distandarisasi atau didefinisikan hanya berdasarkan tren. Setiap individu memiliki karakteristik, struktur wajah, dan kebutuhan yang unik. Pendekatan estetika yang tepat harus dimulai dengan pemahaman terhadap proporsi, presisi medis, dan hasil yang tetap harmonis dengan identitas setiap individu,” ujar Hwang Yujin.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia fashion dan kedokteran estetika ditempatkan dalam satu ruang. Fashion pada dasarnya juga tidak hanya berbicara mengenai pakaian, tetapi bagaimana sebuah rancangan dapat merepresentasikan karakter pemakainya.
Karena itu, konsep From Runway to Transformation menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu berarti menghilangkan identitas seseorang. Sebaliknya, perubahan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter dan keunikan individu.
Keahlian yang Berbeda, Pendekatan yang Personal
Konsep personalisasi tersebut juga menjadi bagian dari pendekatan The Solitaire dalam menghadirkan layanan estetika dan longevity di Bali.
The Solitaire tidak hanya menghadirkan satu jenis layanan, tetapi mengkurasi sejumlah mitra klinik internasional berdasarkan bidang spesialisasi masing-masing. Saat ini terdapat lima mitra klinik yang beroperasi di sana, yakni World Class Plastic Surgeons (WCPS), Hestia Women's Clinic, Banobagi Plastic Surgery, Woori Plastic Surgery, dan Mojelim Hair Transplant.
Masing-masing memiliki fokus yang berbeda. WCPS berspesialisasi dalam pembentukan kontur tubuh dan bedah payudara, Hestia Women's Clinic berfokus pada peremajaan area intim, Banobagi Plastic Surgery pada pembentukan kontur wajah, Woori Plastic Surgery pada bedah kelopak mata dan anti-aging, sementara Mojelim Hair Transplant menangani transplantasi rambut.
Keberagaman spesialisasi tersebut menjadi bagian dari konsep The House of Expertise, yakni menghadirkan keahlian yang lebih terarah sesuai kebutuhan pasien.
Anna Jeon, Direktur Pemasaran HESTIA, mengatakan bahwa pendekatan personal juga penting dalam memahami kebutuhan kesehatan wanita yang tidak selalu terlihat dari luar.
“Presisi dimulai dari memahami individu, bukan sekadar tindakan yang dilakukan. Setiap wanita memiliki kebutuhan yang berbeda, dan kesehatan intim memerlukan penilaian yang cermat, keahlian medis, serta pendekatan personal sebagaimana layanan terspesialisasi lainnya,” kata Anna Jeon.
Ia menambahkan, pengalaman mendapatkan perawatan yang tepat juga berkaitan dengan rasa nyaman dan keyakinan bahwa kebutuhan seseorang benar-benar dipahami.
“Bagi saya, kemewahan sejati adalah memiliki akses terhadap perawatan yang tepat, dengan keyakinan bahwa kebutuhan, kenyamanan, dan kesejahteraan setiap individu dipahami dan dihormati,” lanjutnya.
Bagi The Solitaire, berbagai perspektif tersebut menunjukkan bahwa keahlian medis tidak berhenti pada kemampuan melakukan sebuah prosedur. Keahlian juga mencakup kemampuan memahami kebutuhan individu dan menentukan pendekatan yang paling sesuai.
Renny, General Manager Pemasaran The Solitaire, menyebut kemewahan dalam bedah estetika dan longevity tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas yang tersedia.
“Bagi kami, kemewahan dalam bedah estetika dan longevity bukan sekadar tentang fasilitas premium, melainkan tentang akses terhadap keahlian medis yang tepat. Melalui kurasi klinik internasional, The Solitaire menyatukan para spesialis dengan bidang keahlian masing-masing, didukung oleh dokter berpengalaman, standar medis yang tinggi, dan teknologi canggih untuk menghadirkan perawatan personal sesuai kebutuhan setiap individu,” ujar Renny.
Membawa Perspektif Baru untuk Bali
Pertemuan antara fashion dan keahlian medis tersebut juga menjadi bagian dari visi The Solitaire untuk memperkenalkan Bali sebagai salah satu destinasi layanan medis terspesialisasi.
Selama ini Bali telah dikenal luas sebagai destinasi pariwisata dan gaya hidup. Dengan berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus Sanur serta hadirnya layanan medis dengan keahlian internasional, Bali dinilai memiliki peluang untuk memperluas perannya di tingkat global.
The Solitaire melihat peluang tersebut sebagai bagian dari perkembangan medical tourism, khususnya untuk layanan bedah estetika dan longevity.
“Bali telah dikenal luas di seluruh dunia sebagai destinasi pariwisata. Kami ingin turut membangun babak berikutnya, ketika Bali juga menjadi destinasi yang dipertimbangkan untuk layanan bedah estetika dan longevity,” kata Renny.
“Dengan menyatukan keahlian medis internasional, teknologi canggih, dan standar perawatan yang tinggi, kami berharap The Solitaire dapat berkontribusi menjadikan Bali sebagai destinasi yang dikunjungi tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk Medical Tourism,” lanjutnya.
Pada akhirnya, From Runway to Transformation tidak hanya menjadi tema yang mempertemukan fashion dengan kedokteran estetika. Ada gagasan yang lebih luas di baliknya, yakni bahwa setiap bentuk transformasi seharusnya tetap berangkat dari pemahaman terhadap individu.
Seperti seorang desainer yang mempertimbangkan karakter pemakainya sebelum menciptakan sebuah rancangan, pendekatan medis juga membutuhkan pemahaman terhadap anatomi, kebutuhan, kondisi, dan harapan setiap pasien.
Di titik itulah fashion dan keahlian medis menemukan persamaannya: bukan tentang menciptakan satu standar kecantikan untuk semua orang, melainkan menghadirkan pendekatan yang tepat bagi karakter dan kebutuhan masing-masing individu.