- Achadiningtyas dan Made Sumiati adalah pendidik kecantikan berpengalaman yang melatih ribuan peserta dan murid sejak puluhan tahun lalu.
- Pendidik kecantikan membekali peserta didik dengan teknik tata rambut, standar keselamatan, dan membangun kepercayaan diri untuk bekerja.
- Program Hairducation dan BFBL melatih puluhan guru serta ribuan peserta untuk memenuhi kebutuhan industri kecantikan sejak 2014 dan 2017.
Suara.com - Industri kecantikan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan perawatan rambut dan wajah.
Perubahan tren, inovasi produk, hingga teknologi perawatan turut mendorong kebutuhan tenaga profesional yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai standar industri.
Di balik tenaga profesional yang bekerja di salon maupun bidang kecantikan lainnya, terdapat peran pendidik yang turut mempersiapkan sumber daya manusia.
Profesi beauty educator atau pendidik kecantikan kini menjadi salah satu pilihan karier yang berkontribusi dalam mengembangkan kompetensi sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain.
Peran pendidik kecantikan tidak sebatas mengajarkan teknik tata rambut, pewarnaan, atau rias. Mereka juga perlu membekali peserta didik dengan pemahaman tentang karakteristik rambut, standar keselamatan, etika profesional, hingga kemampuan menghadapi kebutuhan konsumen.
Kebutuhan tersebut membuat seorang beauty educator dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan. Sebab, teknik dan standar industri kecantikan dapat berubah mengikuti perkembangan tren dan teknologi.
Salah satu sosok yang menekuni bidang ini adalah Achadiningtyas atau Ibu Aca, trainer Beauty for a Better Life (BFBL) Training Center Cianjur. Berbekal pengalaman sekitar 45 tahun di industri kecantikan, ia telah membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta sejak bergabung sebagai trainer pada 2015.
Dalam perjalanan mengajar, Ibu Aca bertemu dengan peserta dari berbagai latar belakang. Ada perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, mereka yang harus membagi waktu antara belajar dan tanggung jawab keluarga, hingga peserta yang masih belum percaya diri dengan kemampuannya.
Kondisi tersebut membuatnya harus menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan masing-masing peserta.
Menurutnya, mengajarkan keterampilan kecantikan tidak cukup hanya dengan memperagakan teknik, tetapi juga membantu peserta membangun kepercayaan diri agar berani memanfaatkan kemampuan yang telah dipelajari.
“Mengajar tata rambut tidak cukup hanya dengan menunjukkan teknik. Saya juga harus terus belajar karena kebutuhan di industri berubah, sementara setiap peserta datang dengan kondisi yang berbeda. Ada yang cepat menguasai materi, ada pula yang perlu lebih banyak waktu dan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” ujar Ibu Aca.
Bahkan, pendampingannya tidak selalu berakhir setelah pelatihan selesai. Sejumlah pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, kerap menghubunginya untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidik kecantikan juga dapat berperan sebagai penghubung antara peserta pelatihan dan peluang di dunia kerja.
Peluang serupa juga terbuka di jalur pendidikan formal. Made Sumiati, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor, telah mengabdikan diri untuk mengajar tata rambut sejak 1986.
Selama puluhan tahun mengajar, ia terus mengembangkan pengetahuan agar materi yang diberikan kepada murid tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Salah satunya melalui pelatihan yang memperdalam pemahaman mengenai anatomi rambut dan hair science, termasuk proses pewarnaan serta perubahan yang terjadi pada batang rambut.
Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam metode pengajarannya. Murid tidak hanya diminta mengikuti tahapan kerja, tetapi juga memahami alasan di balik penggunaan suatu teknik dan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi rambut.
“Pengetahuan itu mengubah cara saya mengajar. Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap, sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” kata Made.
Ia juga mengembangkan materi pembelajaran dalam bentuk presentasi dan video ketika pandemi, serta menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN dan digunakan sejumlah guru di Indonesia.
Pengajar Kecantikan Perlu Terus Memperbarui Kompetensi
Berkembangnya industri kecantikan membuat peningkatan kompetensi tenaga pengajar menjadi bagian penting dalam menyiapkan talenta profesional.
Pendidik yang memiliki pengetahuan terkini dapat meneruskan keterampilan tersebut kepada lebih banyak peserta, baik melalui sekolah kejuruan maupun pelatihan berbasis komunitas.
Salah satu upaya pengembangan kompetensi tersebut dilakukan melalui program Hairducation yang dijalankan L’Oréal Indonesia sejak 2017 bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini memberikan pelatihan kepada guru SMK tata kecantikan, mulai dari teknik terbaru, inovasi produk, standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen.
Hingga saat ini, Hairducation telah melatih 88 guru dari 46 SMK di berbagai daerah. Para guru tersebut kemudian turut mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan untuk memasuki industri tata rambut profesional.
Selain pendidikan formal, terdapat pula jalur pengembangan keterampilan melalui pelatihan komunitas. Program Beauty for a Better Life (BFBL) yang hadir sejak 2014 telah menjangkau lebih dari 7.200 peserta melalui 12 pusat pelatihan dan 12 trainer yang bekerja sama dengan lembaga sosial nirlaba.
Program tersebut membekali instruktur dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional, serta modul pendampingan sosial berbasis empati. Sasarannya adalah perempuan dari kelompok rentan sosio-ekonomi agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja maupun membangun usaha mandiri.
Selain menjadi pilihan karier bagi mereka yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang kecantikan, profesi ini juga membuka kesempatan untuk mengembangkan talenta baru dan membantu lebih banyak orang memperoleh sumber penghasilan.