- Siswa SMP dari berbagai daerah mengembangkan gagasan dan solusi inovatif terkait pengelolaan keuangan melalui kompetisi JA SparktheDream Social Challenge 2026.
- Otoritas Jasa Keuangan dan penyelenggara program menilai edukasi finansial sejak usia sekolah penting untuk membangun kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
- Tiga tim dari SMP Bandung, Surabaya, dan Denpasar berhasil meraih posisi tiga besar berkat platform, permainan, serta situs pencatatan keuangan yang mereka ciptakan.
Suara.com - Kemampuan mengambil keputusan tidak selalu datang dengan sendirinya ketika seseorang beranjak dewasa. Sejak usia sekolah, anak sebenarnya sudah berhadapan dengan berbagai pilihan sederhana, mulai dari menentukan prioritas, mengatur uang saku, hingga mempertimbangkan risiko dari keputusan yang mereka buat.
Kebiasaan untuk berhenti sejenak, berpikir sebelum memilih, lalu memahami konsekuensi dari keputusan tersebut menjadi bekal yang semakin penting di tengah kehidupan yang terus berubah.
Untuk itu, pembelajaran di sekolah kini tidak hanya dituntut memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi anak untuk mencoba, membuat kesalahan, mencari solusi, dan belajar dari pengalaman.
Hal tersebut terlihat dalam JA SparktheDream Social Challenge 2026, kompetisi yang melibatkan siswa sekolah menengah pertama (SMP) untuk mengembangkan gagasan yang dapat menjawab persoalan di lingkungan sekitar.
Memasuki tahun keempat, program ini menjangkau lebih dari 2.300 siswa di 12 kota dan kabupaten. Alih-alih hanya mempelajari teori, para siswa diajak melihat persoalan di sekitar mereka, berdiskusi dalam tim, kemudian merancang solusi yang bisa diterapkan.
Proses tersebut membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Halimatus Sa’diyah, Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, mengatakan edukasi sejak usia sekolah penting untuk membangun kemampuan anak dalam mengelola uang, memahami risiko, sekaligus mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Edukasi sejak usia sekolah menjadi investasi penting untuk membangun kemampuan mengelola uang, memahami risiko, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab di masa depan,” ujar Halimatus.
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, industri jasa keuangan, sekolah, keluarga, hingga organisasi masyarakat. Dengan begitu, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan dalam keseharian.
Menariknya, gagasan yang lahir dari kompetisi ini menunjukkan bahwa persoalan finansial dapat diterjemahkan anak-anak menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.
Tim 13 Finsmart dari SMPN 13 Bandung, misalnya, mengembangkan FINHABIT, sebuah platform interaktif yang menggabungkan latihan, simulasi, dan tantangan kehidupan nyata.
Konsep tersebut mengajak pengguna tidak hanya mengetahui informasi mengenai keuangan, tetapi juga mempraktikkannya dan merefleksikan keputusan yang telah dibuat.
Sementara itu, Tim FINSHIELD dari SMP Nation Star Academy Surabaya menghadirkan permainan papan dengan kartu skenario penipuan. Melalui permainan tersebut, remaja diajak mengenali berbagai risiko sekaligus berlatih menentukan pilihan yang aman.
Ada pula Tim Spensyora dari SMPN 9 Denpasar yang membuat Cashora, situs pencatatan uang saku dengan fitur notifikasi ketika pengeluaran meningkat terlalu cepat. Ketiga gagasan tersebut akhirnya meraih posisi tiga besar dalam kompetisi nasional.
Bagi Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, proses belajar seperti ini dapat membantu anak membangun kebiasaan yang akan berguna ketika mereka menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan.
“Pembelajaran keuangan sejak usia sekolah menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi risiko dan perubahan sepanjang kehidupan,” kata Rudy.
Ia menilai, kemampuan tersebut juga dapat membantu anak memiliki kepercayaan diri untuk merencanakan masa depan dan mengejar peluang yang sesuai dengan aspirasi mereka.
Sementara itu, Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, melihat proses merancang solusi sebagai kesempatan bagi siswa untuk belajar memahami persoalan dari sudut pandang orang lain.
“Kami ingin siswa mampu menggunakan pengetahuan keuangan untuk mengambil keputusan dan memahami persoalan di sekitarnya,” ujar Utami.
Dalam proses tersebut, siswa perlu memikirkan siapa yang membutuhkan solusi, bagaimana solusi dapat digunakan, serta manfaat yang ingin diberikan. Pendampingan dari guru, keluarga, dan sukarelawan pun membuat prosesnya semakin kaya.
Pada akhirnya, pengalaman seperti ini bukan semata tentang bagaimana anak memahami uang. Lebih jauh, mereka belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, setiap masalah membutuhkan cara berpikir yang tepat, dan sebuah gagasan akan lebih berarti ketika dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Bekal semacam itu menjadi penting ketika anak tumbuh menghadapi dunia yang semakin kompleks. Sebab, menjadi dewasa bukan hanya tentang semakin banyak tahu, tetapi juga tentang mampu menentukan pilihan dengan lebih bijak dan bertanggung jawab.