- Desainer Atikah Huza menyelenggarakan Tieka Huza Trunk Show 2026 di Kemang, Jakarta Selatan.
- Acara tersebut memperkenalkan dua puluh empat tampilan busana batik modern untuk menjangkau perempuan muda.
- Koleksi baru ini berhasil memperluas pangsa pasar konsumen hingga ke usia di bawah tiga puluh tahun.
Suara.com - Batik selama ini kerap identik dengan busana formal yang dikenakan untuk acara resmi atau kegiatan tertentu. Namun, perkembangan dunia mode membuat warisan budaya Indonesia ini semakin mudah diterima dalam berbagai gaya berpakaian, termasuk untuk perempuan muda yang ingin tampil modis tanpa meninggalkan unsur tradisional.
Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan yang dihadirkan Tieka Huza melalui Tieka Huza Trunk Show 2026 bertema “A Timeless Legacy – Celebrating Batik as a Living Heritage”.
Acara yang digelar secara privat di butik Batik Huza, Kemang, Jakarta Selatan, ini memperkenalkan batik sebagai warisan budaya yang terus berkembang mengikuti kebutuhan dan gaya hidup perempuan masa kini.
Pemilik sekaligus desainer Tieka Huza, Atikah Huza atau yang dikenal sebagai Tieka Assegaf, menjelaskan bahwa jenama tersebut merupakan bagian dari Batik Huza, merek fesyen batik asal Pekalongan yang telah berdiri sejak 1985. Sementara itu, Tieka Huza dikembangkan sejak 2014 dengan segmentasi premium.
"Kalau karakteristik batik Huza itu sendiri lebih modern, terus pewarnaannya juga lebih modern, pattern-nya juga lebih modern, sama bentuk style fashion-nya lebih kekinian juga," ujar Atikah.

Meski mengusung tampilan kontemporer, Tieka Huza tidak meninggalkan akar tradisi batik. Motif-motif klasik tetap menjadi inspirasi, kemudian dikembangkan melalui eksplorasi pola, warna, material, hingga potongan busana yang lebih sesuai dengan tren saat ini.
"Kalau motif tertentu sebenarnya enggak juga, kita tetap pakai motif-motif klasik tapi kita kembangin lagi ke motif-motif yang lebih modern," jelasnya.
Blazer hingga Sutra, Ada 24 Tampilan Baru
Dalam trunk show kali ini, Tieka Huza memperkenalkan tiga rangkaian koleksi yang masing-masing terdiri dari delapan tampilan atau look. Ketiganya mencakup koleksi batik ready to wear, busana formal berbahan sutra, serta koleksi bordir dengan motif batik.
Koleksi ready to wear menjadi salah satu perhatian karena menawarkan pilihan busana yang lebih fleksibel untuk aktivitas sehari-hari. Blazer batik, misalnya, menjadi alternatif bagi perempuan muda yang ingin mengenakan wastra Indonesia dengan gaya lebih santai sekaligus elegan.
"Kalau anak muda sih lebih suka yang saya pakai ya, kayak blazer-blazer gini. Kalau dalamannya mungkin lebih ke orang-orang dewasa ya, kalau dalamannya kan lebih formal look," ungkap Atikah.
Selain blazer, koleksi tersebut juga menghadirkan dress dan berbagai atasan dengan motif serta warna yang lebih beragam. Sementara itu, koleksi sutra ditujukan untuk tampilan formal, sedangkan bordir menggunakan material organza dan tile yang dipadukan dengan pola batik.
Dari segi bahan, Tieka Huza mengeksplorasi katun, sutra, organza, hingga tile. Harga koleksi blazer ready to wear dibanderol mulai Rp700 ribu, sedangkan koleksi berbahan sutra dimulai dari Rp2 juta.
Atikah mengatakan, perubahan selera konsumen turut mendorong pengembangan desain yang lebih muda. Jika sebelumnya pelanggan Tieka Huza didominasi perempuan berusia 30 tahun ke atas, kini mereka mulai memperluas pasar ke kelompok usia di bawah 30 tahun.
"Kalau konsumen saya sebelumnya tuh di usia rata-rata 30 ke atas, tapi sekarang kita sudah mulai menurunkan ke 30 ke bawah, dengan kita produksi Tieka Huza ready to wear yang lebih style-nya ke anak muda," tuturnya.
Produksi Sendiri di Pekalongan
Di balik koleksi modern tersebut, proses produksi Tieka Huza tetap berakar di Pekalongan. Atikah menyebut seluruh produk dibuat melalui produsen sendiri yang berada di kota asal Batik Huza.
Koleksinya juga menggunakan teknik batik tulis, dengan proses pewarnaan kimia dan pengerjaan yang tetap mempertahankan tahapan tradisional.
Menariknya, pilihan produk tidak hanya terbatas pada busana perempuan. Tieka Huza juga menyediakan koleksi pria berupa kemeja, serta produk lain seperti kain, scarf, selendang, dan pashmina. Konsumen bahkan dapat memesan busana couple melalui layanan khusus.
Bagi Atikah, batik tidak harus dikenakan dengan tampilan yang seragam untuk menunjukkan identitas budaya. Perpaduan warna dalam satu nuansa dapat menjadi pilihan agar busana keluarga tetap terlihat selaras tanpa harus menggunakan model yang sama.
Melalui Tieka Huza Trunk Show 2026, Atikah ingin memperlihatkan bahwa batik tidak harus selalu tampil klasik atau membuat pemakainya terlihat lebih tua.
"Kalau dari acara ini, saya menunjukkan bahwa batik itu walaupun klasik, tradisional, tapi tetap bisa menampilkan batik-batik itu modern dan kekinian sehingga kita yang pakai tuh enggak kelihatan lebih tua," pungkasnya.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi cara Tieka Huza menjaga warisan batik agar tetap relevan. Bukan sekadar disimpan sebagai peninggalan budaya, melainkan terus dikenakan dan dikembangkan melalui kreativitas tanpa melupakan keterampilan para perajin lokal.