Suara.com - Setelah penyelenggaraan pertama sukses melibatkan ribuan peserta dari berbagai sekolah dan madrasah, Festival Literasi Aceh #2 resmi diluncurkan sebagai kelanjutan gerakan pengembangan literasi di Provinsi Aceh.
Penyelenggaraan pertama telah mencapai puncaknya yaitu dengan penyelenggaraan Puncak Acara Festival Literasi Aceh #1 yang digelar di Gedung Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu, 3 Oktober 2026. Penyelenggaraan pertama Festival Literasi Aceh melibatkan 63 sekolah dan madrasah dari berbagai wilayah di Aceh dengan 3.294 peserta.
Festival Literasi Aceh #1 menjadi ruang bagi siswa, guru, sekolah/madrasah untuk mengembangkan kemampuan literasi, menghasilkan karya, serta memperkuat kreativitas dan karakter peserta didik. Program ini juga menjadi wadah kolaborasi berbagai unsur pendidikan dalam memperluas gerakan literasi di Aceh.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si., mengapresiasi pelaksanaan Festival Literasi Aceh dan karya yang berhasil dihasilkan peserta.
“Festival Literasi Aceh sebagai program literasi sudah sangat bagus. Ada 3.294 siswa yang sudah berkarya, dan hal itu mencerminkan karakter baik,” ujar Azhari.
Menurut Azhari, penguatan literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan berwawasan luas. Ia juga mendorong agar budaya literasi terus dihidupkan di lingkungan madrasah, sehingga peserta didik tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu memahami informasi dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat.
Komitmen untuk melanjutkan gerakan tersebut diperkuat melalui penandatanganan perpanjangan kerja sama antara Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Nyalanesia. Kerja sama itu diarahkan untuk semakin membuka ruang bagi guru dan siswa sekolah dan madrasah dalam meningkatkan kemampuan literasi sekaligus melahirkan berbagai karya.
Dalam kesempatan yang sama, Festival Literasi Aceh #2 diluncurkan sebagai kelanjutan program pengembangan literasi bagi sekolah dan madrasah di Aceh. Peluncuran ini menjadi penanda bahwa gerakan yang telah dimulai pada penyelenggaraan pertama akan terus diperkuat dan diperluas pada tahun berikutnya.
Advisor Nyalanesia, Imam Subchan, mengatakan Festival Literasi Aceh tidak sekadar memberikan pengalaman mengikuti kegiatan literasi, tetapi juga menyediakan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
“Festival Literasi Aceh sebagai program literasi telah memberikan ruang kepada anak-anak untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, dan isi hati melalui karya,” ujar Imam Subchan.
Imam juga melihat kekayaan budaya Aceh sebagai potensi besar dalam pengembangan literasi. Menurutnya, nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan tradisi yang hidup di masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak dalam menghasilkan karya sekaligus mengembangkan kreativitas. Ia pun mengajak sekolah dan madrasah untuk melanjutkan semangat tersebut melalui Festival Literasi Aceh #2.
Puncak Festival Literasi Aceh #1 turut menjadi ruang apresiasi bagi para tokoh dan penggerak literasi. Kakanwil Kemenag Aceh Drs. H. Azhari, M.Si. menerima Penghargaan Tokoh Penggerak Literasi Nasional, sementara penghargaan Tokoh Penggerak Literasi juga diberikan kepada Bunda Literasi Provinsi Aceh, Marlina Muzakkir Manaf. Penghargaan Penggerak Literasi Aceh Besar diberikan kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E.
Sejumlah penghargaan lain juga diberikan kepada para penggerak dan peserta program, antara lain Penghargaan Duta Literasi Aceh kepada Naswati, S.Ag., Penghargaan Sekolah Penggerak Literasi Aceh kepada MIN 27 Aceh Besar, penghargaan Sosialisator dan Penggerak Literasi Nasional Wilayah, serta penghargaan kepada para pemenang karya siswa tingkat kabupaten/kota.
Rangkaian acara juga menghadirkan NyalaTalks bertema “Dialog Kepemimpinan untuk Pendidikan Literasi dan Karakter” bersama Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Prof. Safrul Muluk, S.Ag., M.A., M.Ed., Ph.D. Sesi tersebut membahas pentingnya kepemimpinan dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan literasi sekaligus penguatan karakter peserta didik.
Koordinator Festival Literasi Aceh, Naswati, S.Ag., menilai pengembangan literasi perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis.
“Dengan mengembangkan enam elemen literasi, insyaallah Aceh Carong, Aceh Berkarya akan terwujud,” ujar Naswati.
Ia juga mengajak sekolah dan madrasah untuk melanjutkan partisipasi dalam Festival Literasi Aceh #2 agar manfaat pengembangan literasi dapat menjangkau semakin banyak peserta didik dan lembaga pendidikan.
Peluncuran Festival Literasi Aceh #2 menjadi langkah berikutnya dari perjalanan yang telah dibangun pada penyelenggaraan pertama. Melalui keberlanjutan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, madrasah, pendidik, penggerak literasi, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan semakin membuka ruang bagi anak-anak Aceh untuk membaca, menulis, berpikir kritis, mengenali kekayaan budayanya, serta berani menyampaikan gagasan melalui karya.
Pendaftaran program Festival Literasi Aceh #2 dibuka hingga 25 Januari 2027 untuk pendaftaran Gelombang 1. Lalu pendaftaran Gelombang 2 dibuka 26 Januari - 25 Februari 2027. Sedangkan Gelombang 3 mulai 26 Februari hingga 25 Maret 2027. ***