Suara.com - Kerusakan hutan di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, tidak hanya mengancam keberadaan berbagai jenis tumbuhan, tetapi juga pengetahuan pangan yang diwariskan masyarakat adat. Salah satunya adalah tradisi penggunaan daun sengkubak sebagai penyedap alami oleh Masyarakat Adat Dayak Seberuang.
Tanaman yang tumbuh liar di kawasan hutan tersebut selama ini dimanfaatkan untuk mengolah makanan tradisional. Namun, keberadaannya semakin sulit ditemukan seiring perubahan kondisi hutan.
Vitronila Bendra, salah seorang Masyarakat Adat Dayak Seberuang, mengatakan dahulu daun sengkubak mudah dijumpai di hutan. Kini, masyarakat harus lebih sulit mencarinya. Upaya menanam tanaman tersebut di sekitar permukiman juga tidak selalu berhasil.
"Dulu daun sengkubak banyak di hutan. Sekarang susah carinya. Kalau ditanam, tidak semua orang bisa buat tanaman hidup dan tumbuh," kata Vitronila.
Melansir laman Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rabu (4/11/2026), Vitronila masih menggunakan daun sengkubak untuk mengolah makanan tradisional bersama masyarakat di Dusun Tuju Intan, Desa Tempunak, Kabupaten Sintang.
Salah satu penggunaannya adalah mencampurkan daun sengkubak dengan daun ubi tumbuk. Perpaduan tersebut membantu mengurangi rasa pahit daun ubi sekaligus menghasilkan cita rasa lebih manis.
Bagi masyarakat Dayak Seberuang, sengkubak bukan sekadar bahan penyedap. Penggunaannya mencerminkan pengetahuan leluhur dalam mengenali dan mengolah sumber pangan dari alam, jauh sebelum penyedap buatan seperti monosodium glutamat (MSG) digunakan secara luas.
Mengapa Sengkubak Semakin Sulit Ditemukan?
Daun sengkubak umumnya tumbuh liar di kawasan hutan. Tanaman ini memiliki daun berwarna hijau, tidak ditumbuhi bulu halus di antara tulang daunnya, dan tidak mengeluarkan aroma menyengat.
Sebagian masyarakat mulai mencoba membudidayakannya di pekarangan rumah. Namun, tanaman tersebut membutuhkan perawatan yang tidak mudah sehingga keberhasilannya belum merata.
Akibatnya, masyarakat masih bergantung pada habitat alaminya di hutan.
Vitronila mengkhawatirkan kerusakan hutan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), semakin mempersempit habitat tanaman tersebut.
"Ini yang kita khawatirkan, daun sengkubak terancam hilang dari habitatnya di hutan," ujarnya.
Jika keberadaan sengkubak terus berkurang, masyarakat tidak hanya kehilangan salah satu sumber penyedap alami, tetapi juga berisiko kehilangan pengetahuan tentang pemanfaatannya.
Bagaimana Tradisi Pangan Ini Dipertahankan?
Vitronila menilai pelestarian sengkubak perlu dilakukan melalui perlindungan hutan sekaligus pengenalan tanaman tersebut kepada generasi muda.
Budidaya di pekarangan rumah dapat menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaannya. Namun, perlindungan habitat alami tetap diperlukan agar tanaman itu dapat tumbuh dan berkembang biak.
Menurutnya, generasi muda juga perlu mempelajari cara mengenali, menanam, dan mengolah sengkubak agar tradisi pangan leluhur tidak terputus.
"Untuk mencegah kehilangan ini, generasi muda sekarang harus bisa menjaga sengkubak, bisa menanam, bisa membudidayakan sengkubak dan menjaga hutan, habitat tanaman sengkubak. Tanpa upaya itu, sengkubak bisa hilang," pungkasnya.
Bagi masyarakat Dayak Seberuang, menjaga sengkubak berarti mempertahankan hubungan antara hutan, sumber pangan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Penulis: Chairunisa