- Minarti merintis usaha Arvin Store di Jakarta Pusat sejak tahun 2020 dengan modal awal empat ratus ribu rupiah.
- Ia beralih menjual alat tulis kantor dan kebutuhan harian secara daring melalui platform digital untuk membidik pekerja kantoran.
- Strategi tersebut berhasil mendatangkan omzet hingga sembilan puluh delapan juta rupiah per bulan serta meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Suara.com - Berawal dari usaha kecil-kecilan menjual camilan rumahan dengan modal Rp400 ribu, Minarti atau akrab disapa Ade, kini berhasil mengembangkan Arvin Store menjadi toko serba ada yang mampu mencatatkan omzet hingga Rp98 juta per bulan.
Perjalanan Ade membangun bisnis bukan tanpa tantangan. Usaha yang dirintis pada 2020 itu bermula ketika pandemi COVID-19 membuat kondisi ekonomi keluarga tidak menentu. Setelah 15 tahun bekerja di bidang pemasaran, Ade memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus keluarga.
Namun, situasi berubah ketika suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut mendorong Ade dan suami untuk mencari sumber penghasilan baru demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara sang suami mulai bekerja sebagai Mitra Pengemudi GrabBike, Ade mencoba peruntungan dengan memproduksi dan menjual camilan dari rumah. Ia memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produknya agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.
Sayangnya, penjualan camilan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Alih-alih menyerah, Ade justru menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk mencari peluang usaha lain.
Kejelian membaca potensi pasar kemudian membawanya pada keputusan untuk mengubah arah bisnis.
Melihat lokasi rumahnya di kawasan Karet Tengsin, Jakarta Pusat, yang berdekatan dengan kawasan perkantoran Sudirman, Ade menangkap peluang dari kebutuhan para pekerja kantoran.
Ia mulai menjual perlengkapan alat tulis kantor (ATK), seperti pulpen, buku, dan kertas HVS yang tersedia di rumahnya. Produk-produk tersebut dipasarkan secara daring melalui layanan GrabMart.
"Kami mengamati kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan perkantoran. Prinsip kami adalah menyediakan apa yang dibutuhkan pasar, bukan sekadar menjual apa yang ingin kami jual," ujar Ade.
Belajar dari Kebutuhan Pelanggan
Keputusan mengubah jenis produk menjadi titik balik bagi perkembangan Arvin Store. Ade tidak hanya mengandalkan produk yang sudah tersedia, tetapi juga aktif mencari tahu kebutuhan pelanggan.
Pada awal menjalankan usaha, ia bahkan kerap meminta bantuan Mitra Pengemudi untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Setiap kali ada permintaan barang yang belum tersedia di tokonya, Ade mencatatnya sebagai bahan pertimbangan untuk menambah produk.
Dari kebiasaan sederhana tersebut, katalog Arvin Store terus berkembang. Tidak hanya menjual perlengkapan kantor, toko milik Ade kini menyediakan aksesori ponsel, produk elektronik, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Seiring bertambahnya jenis produk, Ade juga semakin serius mengelola bisnisnya. Ia rutin mengevaluasi penjualan, memperbarui deskripsi dan kata kunci produk, menyesuaikan harga, serta memanfaatkan momentum tertentu, seperti perayaan hari besar nasional dan musim pendaftaran sekolah.
Menurut Ade, memahami perubahan kebutuhan konsumen menjadi salah satu kunci agar bisnis dapat bertahan dan berkembang.
"Evaluasi performa toko dilakukan secara berkala. Jika terjadi penurunan penjualan, kami segera mengoptimalkan deskripsi produk dan strategi harga agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen," jelasnya.
Kini, operasional bisnisnya bahkan terbagi menjadi dua toko digital, yakni Arvin Store yang berfokus pada produk ATK dan kebutuhan umum, serta Arvin Elektronik untuk produk elektronik.
Dari modal awal Rp400 ribu, usaha yang dibangun Ade secara bertahap tersebut kini mampu mencatatkan omzet hingga Rp98 juta per bulan.
Mengelola Keuangan agar Bisnis Terus Berkembang
Pertumbuhan usaha tentu membawa tantangan baru. Ketika jumlah transaksi meningkat, Ade harus memastikan ketersediaan barang dan menjaga kelancaran arus kas, terutama saat menerima pesanan dalam jumlah besar.
Untuk memenuhi kebutuhan modal usaha, Ade memanfaatkan layanan GrabModal Mantul by OVO Finansial sejak 2023. Pendanaan tersebut digunakan secara terencana, antara lain untuk pengadaan stok barang dan renovasi area kerja toko agar proses pengambilan pesanan lebih efisien.
Salah satu pengalaman yang diingatnya adalah ketika kebutuhan keluarga dan usaha datang hampir bersamaan.
Saat itu, Ade harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya sekitar Rp6 juta. Di sisi lain, masih ada kebutuhan sekitar Rp8 juta untuk pelunasan seragam dan pajak kendaraan. Pada waktu yang hampir bersamaan, Arvin Store menerima pesanan sekitar 500 materai yang membutuhkan modal kurang lebih Rp5 juta.
Agar seluruh kebutuhan tersebut dapat terpenuhi tanpa mengganggu perputaran modal usaha, Ade memanfaatkan pembiayaan sekitar Rp10 juta.
"Dana yang saya ambil memang sudah memiliki posnya masing-masing sejak awal. Jadi, bukan mengambil pembiayaan lalu menyimpannya tanpa tujuan. Dengan cara ini, kebutuhan keluarga tetap bisa dibayar, stok usaha tetap tersedia, dan cash flow bisa kembali berputar dari omzet berikutnya," ungkapnya.
Bagi Ade, akses pembiayaan bukan sekadar tambahan dana, melainkan harus disertai perencanaan dan kedisiplinan dalam mengelola kewajiban keuangan.
Ia memastikan setiap dana yang diperoleh memiliki peruntukan jelas sehingga tidak membebani keuangan keluarga maupun menghambat operasional bisnis.
Ingin Mengembangkan Usaha Lebih Luas
Bagi Ade, keberhasilan Arvin Store bukan semata-mata diukur dari peningkatan omzet. Usaha yang awalnya dirintis untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga itu kini juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Setelah berhasil melewati berbagai tantangan sejak pandemi, Ade kini mulai memikirkan pengembangan bisnis ke tahap berikutnya. Salah satu rencananya adalah memperluas jangkauan operasional Arvin Store ke lokasi yang lebih strategis.
Perjalanan Ade menunjukkan bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Kemampuan membaca peluang, memahami kebutuhan konsumen, berani mengevaluasi strategi, serta disiplin mengelola keuangan menjadi bekal penting untuk mempertahankan bisnis.