Pengetahuan Adat tentang Bencana Masih Hidup di Mentawai, Mengapa Belum Jadi Kebiasaan?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 05 November 2026 | 12:08 WIB
Pengetahuan Adat tentang Bencana Masih Hidup di Mentawai, Mengapa Belum Jadi Kebiasaan?
Seorang Sikerei (Tabib) berdiri di sebelah mesin pengolahan sagu yang digunakan sebagai bahan makanan pokok masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. [Dok.Antara/Fandi Yogari]

Suara.com - Pengetahuan adat untuk mengurangi risiko bencana masih dikenal masyarakat Desa Bosua, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Namun, sebagian besar warga belum menerapkannya secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan tersebut terungkap dalam penelitian tim Universitas Andalas yang diterbitkan di jurnal Jamba: Journal of Disaster Risk Studies pada 22 Mei 2025.

Penelitian yang dipimpin Yessy Markolinda dari Fakultas Kesehatan Masyarakat itu melibatkan 106 responden melalui survei dan sembilan informan melalui wawancara. Informan terdiri atas tiga perangkat desa, tiga pemuka agama, dan tiga warga.

Desa Bosua berada di Kecamatan Sipora Selatan, wilayah Kepulauan Mentawai yang memiliki risiko gempa bumi dan tsunami.

Pengetahuan Adat Belum Menjadi Kebiasaan

Hasil penelitian menunjukkan, sebanyak 73,6 persen responden mengetahui adat atau budaya yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana.

Namun, pengetahuan tersebut belum sepenuhnya diterapkan. Sebanyak 68,9 persen responden mengaku hanya sesekali mempraktikkannya, 16 persen tidak pernah, dan hanya 9,4 persen yang sangat sering menerapkannya.

Sumber: Antara News
Sumber: Antara News

Pengetahuan yang paling banyak digunakan adalah membaca tanda-tanda alam, yakni sebesar 57,5 persen. Selanjutnya, 31,2 persen responden menyebut ritual adat atau keagamaan, sedangkan pemanfaatan bangunan tradisional hanya disebut oleh 2,8 persen responden.

Dalam wawancara, warga menjelaskan sejumlah tanda alam yang dipercaya berkaitan dengan potensi tsunami, seperti air laut yang tiba-tiba surut, munculnya gelombang tidak biasa, hingga perubahan suara hewan liar.

baca juga

Masyarakat juga mengenal penggunaan lonceng tradisional untuk menyebarkan peringatan bahaya. Ketika terjadi gempa, warga berupaya menyelamatkan diri dengan menuju tempat yang lebih tinggi.

Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui cerita dan bimbingan para tetua adat.

Ritual Tinapat dan Perlindungan Ekosistem

Penelitian tersebut juga mencatat keberadaan ritual Tinapat yang dilakukan masyarakat setempat. Ritual ini berisi doa untuk memohon perlindungan leluhur sekaligus sejumlah pantangan, termasuk larangan mengonsumsi hewan tertentu seperti penyu.

Masyarakat meyakini praktik tersebut dapat menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

Peneliti mengaitkan larangan mengonsumsi penyu dengan upaya perlindungan ekosistem pesisir. Keberadaan ekosistem yang terjaga dapat mendukung upaya mengurangi risiko bencana dalam jangka panjang.

Meski demikian, praktik semacam ini masih lebih sering dipandang sebagai warisan budaya dan belum banyak diintegrasikan ke dalam kebijakan mitigasi bencana secara resmi.

Perubahan Iklim Mengganggu Kehidupan Masyarakat

Selain ancaman gempa dan tsunami, masyarakat Mentawai juga menghadapi dampak perubahan iklim.

Kepulauan Mentawai pernah dilanda tsunami akibat gempa bermagnitudo 7,2 pada 2010 yang menimbulkan korban jiwa di Pulau Pagai dan Sipora.

Dalam penelitian ini, sebanyak 97,2 persen responden menilai perubahan cuaca memengaruhi peningkatan frekuensi bencana alam.

Warga juga merasakan dampak lingkungan, seperti abrasi pantai, penurunan hasil panen, berkurangnya tangkapan ikan, serta pergeseran pola musim yang mengganggu jadwal tanam dan panen.

Untuk beradaptasi, sebanyak 42,4 persen responden memilih pengelolaan sumber daya alam sebagai langkah utama. Sementara itu, 17 persen lainnya melakukan perubahan pola tanam.

Meski menghadapi berbagai tantangan, sebanyak 72,6 persen responden menilai kebiasaan adat efektif atau sangat efektif dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Masyarakat Berharap Pemerintah Lebih Terlibat

Peran tokoh agama juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana. Para pemuka agama menggunakan doa, ritual, dan khotbah untuk mengajak masyarakat menjaga alam.

Namun, pendekatan berbasis agama dan budaya tetap perlu berjalan bersama sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan penataan ruang yang aman.

Secara keseluruhan, sebanyak 91,5 persen responden menilai budaya lokal penting dalam mengurangi risiko bencana dan dampak perubahan iklim. Sementara itu, 79,2 persen menilai pemerintah telah mendukung penggunaan budaya lokal.

Meski demikian, sejumlah informan menyebut program mitigasi bencana belum optimal melibatkan pengetahuan masyarakat setempat dan belum didukung regulasi berbasis tradisi.

Sebanyak 51,9 persen responden menginginkan peningkatan pendidikan dan kesadaran publik. Adapun 40,6 persen lainnya berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar.

"Studi ini merekomendasikan peningkatan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal untuk mengoptimalkan pemanfaatan pengetahuan lokal dalam kebijakan mitigasi bencana," tulis para peneliti. 

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dewan Adat Bone Sorot Status Gelar La Pateddungi Daeng Pasampo Listyo Sigit Usai Sadap Prabowo

Dewan Adat Bone Sorot Status Gelar La Pateddungi Daeng Pasampo Listyo Sigit Usai Sadap Prabowo

News | Kamis, 05 November 2026 | 10:03 WIB

19 Juta Ton Sampah Cemari Laut Indonesia Setiap Tahun

19 Juta Ton Sampah Cemari Laut Indonesia Setiap Tahun

Foto | Kamis, 05 November 2026 | 11:00 WIB

Fenomena Sinkhole di Aceh Tengah, Tanah Seluas 3 Hektare Amblas

Fenomena Sinkhole di Aceh Tengah, Tanah Seluas 3 Hektare Amblas

Foto | Kamis, 05 November 2026 | 09:00 WIB

Terkini

Dua Saham Rights Issue Ini Nyangkut di Papan FCA, Gimana Nasibnya?

Dua Saham Rights Issue Ini Nyangkut di Papan FCA, Gimana Nasibnya?

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 12:07 WIB

Kubu PB XIV Purboyo Gelar Tingalan Dalem Jumenengan di Kediaman Raja Sasana Narendra

Kubu PB XIV Purboyo Gelar Tingalan Dalem Jumenengan di Kediaman Raja Sasana Narendra

Surakarta | Kamis, 05 November 2026 | 12:07 WIB

Wamensos Agus Jabo Tutup Kemensos Cup 2026, Pesan Jaga Kekompakan

Wamensos Agus Jabo Tutup Kemensos Cup 2026, Pesan Jaga Kekompakan

News | Kamis, 05 November 2026 | 12:05 WIB

Apa Pengaruh Skandal Penyadapan Prabowo dan Jatuhnya Listyo Sigit Terhadap Jokowi?

Apa Pengaruh Skandal Penyadapan Prabowo dan Jatuhnya Listyo Sigit Terhadap Jokowi?

News | Kamis, 05 November 2026 | 12:04 WIB

Bukan Cuma Mi dan Pasta, Tepung Sagu Kini Diuji untuk Pengeboran Minyak

Bukan Cuma Mi dan Pasta, Tepung Sagu Kini Diuji untuk Pengeboran Minyak

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 12:04 WIB

Saatnya Pembuktian, Jokowi Akhirnya Tunjukkan Ijazah Asli di Ruang Sidang

Saatnya Pembuktian, Jokowi Akhirnya Tunjukkan Ijazah Asli di Ruang Sidang

News | Kamis, 05 November 2026 | 12:03 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,47% di Q3 2026, Lebih Melesat dari 2025

Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,47% di Q3 2026, Lebih Melesat dari 2025

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 12:01 WIB

Negara Sibuk Mengubah Angka, Rakyat Masih Bergelut dengan Masalah

Negara Sibuk Mengubah Angka, Rakyat Masih Bergelut dengan Masalah

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 12:00 WIB

3 Rekomendasi Moisturizer Travel Size di Bawah 30ml, Praktis Dibawa Bepergian

3 Rekomendasi Moisturizer Travel Size di Bawah 30ml, Praktis Dibawa Bepergian

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 11:58 WIB

Mengenal Lombong, Kearifan Lokal Petani NTB dalam Mengelola Air Hujan

Mengenal Lombong, Kearifan Lokal Petani NTB dalam Mengelola Air Hujan

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 11:56 WIB

×